-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026


Langgur, JejakInfo.id — Keindahan laut, pantai, dan budaya Kei bukan satu-satunya alasan wisatawan membawa pulang kesan tentang Maluku Tenggara. Ada satu hal yang sering kali justru lebih dekat dan mudah diingat: makanan yang tersaji di meja.
Karena itu, sepiring makanan tidak boleh hanya enak. Kebersihan dan keamanannya menjadi bagian penting dari wajah pariwisata daerah.
Kesadaran itulah yang kini diperkuat Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara. Sebanyak 265 penjamah pangan dari berbagai sektor mengikuti Pelatihan Keamanan Pangan Siap Saji Tahun 2026 yang dibuka Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, di Aurelia Hotel, Langgur, Rabu (12/8). Turut hadir Wakil Bupati Charlos Viali Rahantoknam.
Thaher menegaskan, keamanan pangan bukan persoalan kecil. Apa yang tersaji di meja makan berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat, produktivitas, bahkan masa depan pembangunan daerah.
“Keamanan pangan merupakan investasi bagi pembangunan SDM. Masyarakat yang mengonsumsi pangan yang aman akan memiliki derajat kesehatan yang lebih baik, produktivitas yang lebih tinggi, serta mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah,” ujar Thaher.
Menurutnya, kelalaian dalam mengolah makanan dapat membuka peluang terjadinya keracunan pangan. Risiko tersebut bisa muncul dari buruknya kebersihan, bahan pangan yang tidak layak, hingga cemaran biologis, kimia maupun fisik.
Karena itu, perhatian harus diberikan sejak bahan makanan dipilih hingga makanan tersebut tersaji di hadapan konsumen.
Mulai dari kebersihan tangan, air dan peralatan, kondisi tempat pengolahan, penyimpanan bahan makanan, hingga proses penyajian, semuanya harus dilakukan secara benar.
Namun, bagi Thaher, keamanan pangan bukan sekadar urusan kesehatan. Ada kepentingan ekonomi dan pariwisata yang jauh lebih besar di baliknya.
Maluku Tenggara memiliki kekayaan hasil laut, perikanan, pertanian dan beragam kuliner berbasis pangan lokal yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Kei. Jika dikelola secara aman dan berkualitas, kekayaan tersebut dapat menjadi sumber nilai tambah bagi masyarakat.
“Kekayaan tersebut harus kita kelola dengan baik sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Thaher melihat sektor kuliner memiliki posisi penting dalam membangun daya saing UMKM sekaligus menarik wisatawan. Pengunjung tidak hanya mencari pantai yang indah atau budaya yang unik. Pengalaman menikmati makanan lokal juga dapat menjadi bagian dari cerita perjalanan mereka.
“Apabila makanan yang disajikan aman, higienis, dan berkualitas, maka kepercayaan masyarakat maupun wisatawan akan semakin meningkat,” ujarnya.
Sebaliknya, satu kasus keracunan pangan dapat meninggalkan dampak panjang. Konsumen dirugikan, pelaku usaha kehilangan kepercayaan, dan citra daerah ikut dipertaruhkan.
“Ketika menjaga kebersihan tempat usaha, sesungguhnya kita sedang menjaga nama baik Kabupaten Maluku Tenggara,” tegas Thaher.
Ia pun meminta para penjamah pangan melihat pekerjaan mereka lebih dari sekadar mencari nafkah. Ada tanggung jawab pelayanan kepada masyarakat yang melekat dalam setiap makanan yang mereka sajikan.
Pesan tersebut menjadi semakin penting di tengah pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Makanan yang diproduksi dalam program tersebut dikonsumsi oleh kelompok yang membutuhkan perhatian khusus, termasuk anak-anak, ibu hamil dan ibu menyusui.
“Setiap tahapan pengolahan makanan harus dilakukan secara higienis dan bertanggung jawab,” katanya.
Thaher juga mengingatkan prinsip sederhana yang tidak boleh diabaikan: menjaga kebersihan diri, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menggunakan air bersih, menjaga peralatan serta tempat pengolahan, dan memisahkan bahan mentah dari makanan siap saji untuk mencegah kontaminasi silang.
Bahan makanan juga harus disimpan pada kondisi yang tepat dan memenuhi ketentuan keamanan serta izin edar apabila dipersyaratkan.
Ia berharap 265 peserta yang mengikuti pelatihan tidak berhenti sebagai penerima pengetahuan. Mereka diharapkan menjadi penggerak perubahan di tempat kerja dan lingkungan masing-masing.
“Saya berharap seluruh peserta pelatihan ini menjadi pelopor, penggerak, dan agen perubahan di lingkungan masing-masing dalam mewujudkan pangan yang aman,” harapnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara, Muchsin Rahajaan, mengatakan peserta berasal dari wilayah Kei Kecil dan Kei Besar. Mereka terdiri atas penjamah pangan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), depot air minum, rumah makan, restoran dan berbagai pengelola pangan lainnya.
Menurut Rahajaan, pelatihan dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan para penjamah pangan agar mampu menghasilkan makanan yang aman, bermutu dan layak dikonsumsi.
Peserta juga dibekali pemahaman untuk mengenali berbagai sumber bahaya pada makanan, mulai dari kontaminasi biologis, kimia hingga fisik.
Tidak berhenti pada teori, mereka juga mendapat materi dan praktik mengenai higiene pribadi, sanitasi, pemilihan bahan pangan, penyimpanan bahan mentah dan makanan matang, proses pemasakan, pendinginan, penyajian serta pencegahan kontaminasi silang.
Dengan pelatihan tersebut, Pemkab Maluku Tenggara ingin memastikan keamanan pangan menjadi kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan yang berhenti di ruang pelatihan.
Sebab, ketika wisatawan menikmati makanan khas Kei dengan rasa aman dan nyaman, yang mereka bawa pulang bukan hanya kenangan tentang cita rasa.
Mereka juga membawa kesan tentang sebuah daerah yang mampu menjaga kesehatan, kualitas pelayanan, dan kepercayaan pengunjung.
Dari dapur-dapur usaha kecil hingga meja makan wisatawan, keamanan pangan pada akhirnya menjadi bagian dari cara Maluku Tenggara memperkenalkan dirinya kepada dunia. (ji4)

