-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



JEJAKINFO.ID – Dukungan dan penolakan atas aktifitas PT Batulicin Beton Asphalt milik Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam di Ohoi Nerong dan Ohoi Mataholat terus berdatangan.
Selain masyarakat adat, fraksi PDI Perjuangan dan anggota DPRD Provinsi Maluku, para Guru Besar asal Kei, penolakan juga datang dari tokoh Kei Besar, Johan Rahantoknam.
Ia menilai, kehadiran PT BBA milik Haji Isam telah merugikan dan menghancurkan kehidupan masyarakat adat dan lingkungan di Kei Besar.
"Kei Besar menurut sejarah dan peradaban, tapi pulaunya kecil. Tidak pantas untuk eksploitasi alamnya," celoteh Johan kepada media siber JejakInfo.id, Jumat (20/6).
Eks anggota DPRD Maluku ini menilai, ada keterlibatan sejumlah pihak dalam pengoperasian galian C yang dilakukan PT BBA. Sebab, tidak mungkin perusahaan hadir tanpa ada izin dari pemerintah.
Seluruh dokumen AMDAL diduga tidak dimiliki perusahaan Haji Isam. Jikalau ada perusahaan harus membuktikan. Siapa yang memberikan rekomendasi guna penerbitan izin, dan sejauh apa proses perizinan yang dilakukan? Sebab, izin sebelum keluar harus dilakukan study AMDAL. Layak atau tidak perusahaan beroperasi?
"Ini yang harus dipertanyakan. Keberadaan perusahaan tentu sangat mengganggu kami masyarakat adat di kepulauan Kei," sesalnya.
Baginya, khusus untuk Maluku, berdasarkan ketentuan, Izin Usaha Pertambangan (IUP) galian C atau dikenal dengan izin usaha pertambangan batuan, proses pengurusan izin oleh Bupati/Walikota, kecuali Kota Ambon yang izinya di take over langsung oleh Provinsi.
Menurutnya, sektor tambang galian C ini dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, sektor ini berpotensi besar dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Namun, di sisi lain, aktivitas penambangan yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan.
Oleh karena itu, diperlukan pembinaan, pengawasan, dan pengendalian yang ketat terhadap usaha pertambangan bahan galian golongan C ini, agar manfaat ekonomisnya dapat dimaksimalkan tanpa mengabaikan dampak negatif terhadap lingkungan.
Meski begitu, kata Anggota Majelis Pekerja Klasis GPM Pulau Ambon ini, Pulau Kei Besar tidak pantas untuk eksploitasi. Karena berdampak sistemik akan kelangsungan hidup masyarakat termasuk habitat yang hidup di alam.
Pentingnya menjaga lingkungan ditanamkan sejak dini. Penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan, polusi air dari limbah industri dan pertambangan, polusi udara, dan masalah mengenai rusaknya lingkungan di negara ini bukan merupakan masalah yang baru lagi, yang seharusnya dibenahi sesegera mungkin.
Semua ini tidak luput dari peran pemerintah dan masyarakat yang harus berdampingan menjaga lingkungan sekitar. Lingkungan yang merupakan tempat tinggal semua makhluk hidup yang ada di muka bumi, termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan harus dijaga kelestariannya. Lingkungan sangat penting bagi kelangsungan hidup bagi makhluk hidup. Karena apabila lingkungan tidak ada maka manusia, hewan, dan tumbuhan tidak dapat bertahan hidup.
"Namun, sekarang lingkungan mengalami kerusakan. Itu semua akibat ulah dari manusia yang tidak bertanggung jawab," sebutnya.
Sebagai contoh, menebang pohon secara liar yang tidak diselingi dengan penanaman pohon mengakibatkan hutan menjadi gundul dan tanah tidak dapat menyerap air bahkan pohon tidak dapat menghirup karbondioksida.
Penambangan secara terus-menerus dapat menyebabkan tanah yang dikeruk semakin habis dan akan rusak. Pendirian industri akan menyebabkan asap pabrik pada rumah kaca sehingga tingginya emisi gas buang diudara yang mengakibatkan polusi udara dan pemanasan suhu dibumi.
Ditambahkan, ulah manusia dengan berani mengambil keputusan hadirnya perusahaan dapat berakibat fatal. Mereka berani mengatasnamakan bisnis dan mengesampingkan lingkungan, tanpa memikirkan anak cucu mereka kelak. Mungkin berbuat itu sangat mudah, tapi mengembalikannya seperti semula sangat sulit atau tak semuda membalik telapak tangan," paparnya.
"Oleh sebab itu, agar bencana alam tidak terjadi, kita sebagai manusia yang hidup dimuka bumi yang telah diberikan kekayaan alam yang melimpah, seharusnya kita berterima kasih kepada Tuhan dengan cara menjaga dan melestarikan lingkungan ini. Mulai dari sekarang marilah kita membenahi lingkungan kita. Jangan mengatasnamakan bisnis lalu memporak-poranda kehidupan alam kita," kunci eks Ketua DPD GAMKI Maluku. (JI04)





