Asisten I Sekda Maluku, Faradila Attamimi. (Ist)

Lahan 8 Hektar di Halong Atas jadi Lokasi Sekolah Rakyat

39

Ambon, JejakInfo.id — Di atas hamparan perbukitan Halong Atas, Kecamatan Baguala, sebuah gagasan besar sedang disiapkan: menghadirkan Sekolah Rakyat sebagai pintu baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk meraih pendidikan yang layak.

Pemerintah Provinsi Maluku telah menyiapkan lahan seluas 8 hektar sebagai titik awal proyek ini. Lahan itu bukan sekadar ruang kosong, melainkan cikal bakal perubahan, tempat di mana akses pendidikan diharapkan menjadi lebih adil dan merata.

Namun, perjalanan menuju ke sana tidak tanpa hambatan. Kontur tanah yang berbukit sempat menjadi batu sandungan, terutama dalam hal pembiayaan pematangan lahan. Proses perataan membutuhkan tenaga, waktu, dan anggaran yang tidak sedikit.

Asisten I Sekda Maluku, Faradila Attamimi, mengungkapkan bahwa kendala tersebut kini mulai terurai. Bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum menjadi titik terang. Pemerintah pusat turun langsung menangani proses pematangan lahan, memastikan pekerjaan besar itu bisa berjalan bertahap.

“Medannya cukup berat karena berbukit dan harus diratakan. Tapi sekarang sudah mulai ditangani,” ujarnya.

Program Sekolah Rakyat ini tidak hanya berpusat di Ambon. Sejumlah daerah lain seperti Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Maluku Barat Daya, hingga Kepulauan Aru juga masuk dalam rencana pengembangan. Meski demikian, beberapa wilayah masih bergulat dengan persoalan klasik: keterbatasan lahan.

Pemerintah menargetkan tahapan pelaksanaan dimulai pada Agustus hingga September mendatang. Di saat yang sama, perhatian juga diarahkan pada proses penerimaan siswa yang akan dilakukan secara ketat dan terarah.

Pemprov Maluku memilih menggunakan data Badan Pusat Statistik sebagai acuan utama. Sasaran program difokuskan pada keluarga dalam kategori desil 1 hingga 5. Kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah hingga menengah bawah.

Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa Sekolah Rakyat benar-benar menjadi milik mereka yang membutuhkan, bukan sekadar program yang kehilangan arah.

Di tengah berbagai keterbatasan, harapan itu kini mulai menemukan bentuknya. Dari tanah berbukit di Halong, sebuah upaya besar sedang dirintis, membuka jalan bagi generasi yang selama ini berada di pinggiran, agar bisa berdiri sejajar melalui pendidikan. (ji2)