-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026


SELASA malam, 15 September 2026, sekira pukul 22.15 WIT. Jemari ini masih sibuk menyentuh layar telepon genggam, membuka satu demi satu beranda Facebook.
Namun malam itu berbeda. Ucapan dukacita memenuhi linimasa. Nama dan foto yang berulang kali muncul adalah Salmon Tahya.
“Prof,” begitu saya biasa menyapanya. Bukan karena ia seorang profesor. Bukan pula karena ia menyandang jabatan akademik atau pemerintahan. Sapaan itu lahir dari sebuah kebiasaan, karena namanya sama dengan seorang Guru Besar Universitas Pattimura yang juga berasal dari kampung yang sama, Prof. Dr. Salmon E.M. Nirahua, SH., M.Hum.
Tetapi malam itu, sapaan “Prof” terasa jauh lebih berat. Salmon telah pergi.
Kepergiannya meninggalkan ruang kosong, bukan hanya bagi keluarga dan orang-orang terdekat, tetapi juga bagi banyak orang yang pernah bersinggungan dengannya di jalan kehidupan Kota Ambon.
Ia bukan politisi besar. Ia tidak pernah menduduki jabatan yang membuat namanya setiap hari muncul di halaman utama media massa.
Di jajaran elite politik, ia mungkin hanya “kopral”. Namun siapa pun yang pernah mengikuti dinamika politik di Kota Ambon tahu, Salmon Tahya bukan nama yang bisa diabaikan.
Ia adalah orang lapangan. Ia tahu bagaimana membaca suasana. Ia tahu bagaimana membangun komunikasi dengan warga. Dan ketika kontestasi politik berlangsung, ia tidak sekadar berdiri di pinggir arena. Ia turun.
Bahkan ketika pertarungan politik bergeser dari jalanan dan panggung kampanye ke ruang digital, Salmon juga ikut berada di sana.
Facebook menjadi salah satu medan perjuangannya. Tulisannya tidak mengenal basa-basi. Tidak banyak dimbubuhi kosmetik bahasa. Kadang keras, kadang frontal, bahkan tak jarang membuat orang yang membaca mengernyitkan dahi.
Tetapi justru di situlah Salmon. Apa yang ada di kepalanya, itulah yang keluar melalui tulisannya.
Ia tidak pandai merangkai kata dan kalimat ala penulis atau jurnalis. Atau bahkan menjadikan dirinya seperti orang lain.
Narasi-narasinya di media sosial sering kali kontroversial. Kritiknya tajam. Gaya komunikasinya lugas. Ia tidak memilih kata untuk menyenangkan semua orang.
Karena itu, ada yang menganggapnya kasar. Ada yang menilainya terlalu berani. Ada pula yang mungkin merasa terganggu dengan cara bicaranya.
Namun bagi mereka yang mengenalnya lebih dekat, Salmon bukanlah manusia yang hidup dengan kemunafikan. Ia terbuka. Ia apa adanya.
Sesekali ketika kami berpapasan, saya sempat berceloteh kepadanya.
“eRTe, jaga gaya komunikasi di medsos itu. Bikin malu-malu saja.”
Ia biasanya tidak langsung menerima begitu saja. Dengan nada kesal, ia justru menjelaskan mengapa sebuah postingan bisa muncul dengan gaya tertentu. Ada alasannya. Ada latar belakangnya. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
Begitulah Salmon. Keras di luar, tetapi selalu punya alasan di balik sikapnya.
Usia kami terpaut sekitar 13 tahun. Tetapi Salmon tidak pernah menempatkan saya dalam sekat usia. Ia selalu menganggap saya sebagai adik.
Dalam banyak kesempatan, percakapan kami berjalan cair. Tidak ada jarak. Tidak ada protokoler.
Mungkin beberapa nasihat yang pernah saya sampaikan tentang cara berkomunikasi di media sosial masih tersimpan di kepalanya. Entahlah.
Kini saya tidak mungkin lagi mendengar jawabannya.
Salmon bukan sosok yang baru kemarin dikenal warga Kota Ambon. Pergaulannya lintas batas.
Ia bisa masuk ke banyak lingkungan, berbicara dengan banyak kalangan, dan membangun hubungan tanpa terlalu memikirkan latar belakang seseorang.
Itulah yang membuat namanya dikenal luas.
Jauh sebelum aktif bersuara di media sosial, ia sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di lingkungannya.
Sebagai salah satu Ketua Rukun Tetangga di kawasan Why Need Two (Wanitu), Salmon dikenal sebagai orang yang tidak segan mengurus kebutuhan administrasi warga.
Surat-menyurat kependudukan, urusan warga, hingga berbagai keperluan administratif lainnya menjadi bagian dari kesehariannya.
Bahkan ketika wajahnya muncul di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Ambon, petugas sudah bisa menebak.
“Pasti ada urusan surat warga.”
Begitulah Salmon bekerja. Tidak banyak bicara soal pengabdian. Ia hanya melakukannya.
Barangkali justru karena itu, kepergiannya terasa begitu cepat. Sebab orang-orang seperti Salmon sering kali baru terasa kehadirannya setelah mereka tidak lagi ada.
Sesekali suaranya keras. Nada bicaranya tegas. Cara menyampaikan sesuatu juga terkadang membuat orang yang baru mengenalnya mengira ia seorang yang sombong.
Padahal tidak. Ia hanya punya cara sendiri untuk berkomunikasi.
Di balik suara yang keras itu, ada seorang kaka yang tidak pernah terlalu sibuk membuat sekat.
Ia mudah bergaul. Ia suka bercanda. Ia senang bertemu orang.
Dan bagi banyak orang, Salmon adalah sosok yang kehadirannya mudah dikenali.
Ada istilah sederhana yang rasanya tepat menggambarkan dirinya: “Sapanggal tapi racong.”
Tubuhnya tidak besar. Sosoknya kecil dan kekar, ibarat sapanggal. Tetapi “racong”.
Tidak banyak orang berani berdiri di depan arus ketika yang lain memilih diam. Salmon justru sering berada di posisi itu.
Ia mungkin tidak memiliki panggung besar.
Tetapi ia memiliki keberanian untuk bersuara.
Ia mungkin bukan orang yang selalu berada di barisan terdepan secara formal. Namun dalam banyak momentum, kehadirannya terasa.
Itulah Salmon Tahya. Seorang kakak, seorang teman, seorang warga kota, seorang pekerja lapangan, sekaligus sosok yang meninggalkan jejak dengan caranya sendiri.
Dan malam ketika Facebook dipenuhi ucapan dukacita itu, saya baru benar-benar menyadari satu hal: Orang boleh tidak setuju dengan cara Salmon berbicara. Tetapi sulit menyangkal bahwa ia pernah hadir dan memberi warna dalam kehidupan banyak orang.
Kini suara itu telah berhenti. Postingan-postingan itu tak akan lagi muncul dari tangannya.
Tidak ada lagi celoteh keras. Tidak ada lagi perdebatan kecil. Tidak ada lagi teguran. Yang tersisa adalah kenangan.
Dan bagi saya, Salmon tetaplah “Prof” — bukan karena gelar akademik, tetapi karena sebuah sapaan yang telah lama melekat.
Selamat jalan, Kaka Among.
Laki-laki “sapanggal” tapi “racong”.
Pergimu meninggalkan jejak.
Tuhan menyambutmu di surga baka. (upu)



