Implementasi program English Talk and Share di Ohoi Elaar Lamagorang, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara. (Foto: Diskominfo Malra)

Mahasiswa KKN UGM Ubah Ohoi Elaar Lamagorang Menjadi Kampung Belajar Bahasa Inggris

6

Langgur, JejakInfo.id – Suasana berbeda tampak di Gedung Sumber Kasih, Ohoi Elaar Lamagorang, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara. Tawa dan semangat puluhan anak terdengar bersahut-sahutan saat mereka berlatih mengucapkan kalimat sederhana dalam bahasa Inggris. Sapaan seperti Good morning dan Good afternoon kini mulai menjadi bagian dari keseharian mereka.

Perubahan itu lahir dari program English Talk and Share yang digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM). Bukan sekadar mengajarkan kosakata baru, program ini membuka ruang bagi anak-anak desa untuk mengenal dunia lebih luas melalui bahasa internasional.

Penanggung Jawab Program English Talk and Share, Ardhanamesvari Nuringtyas Aji, mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu program unggulan Tim KKN-PPM UGM Jelajah Kei Kecil 2026. Program itu lahir sebagai jawaban atas masih terbatasnya akses pembelajaran bahasa Inggris bagi anak-anak di wilayah tersebut.

"Program ini awalnya kami rancang sebagai program kerja inti tim KKN-PPM UGM Jelajah Kei Kecil 2026. Dalam pelaksanaannya, kami kemudian berkolaborasi dengan Majelis Jemaat yang memiliki visi yang sama sehingga lahirlah kelas bahasa Inggris yang mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat," ujar Ardhanamesvari di Ohoi Elaar Lamagorang, Selasa (4/8/2026).

Program tersebut dikembangkan bersama Majelis Jemaat GPM Elaar melalui Subkomisi Anak, Remaja, dan Katekisasi. Kolaborasi ini menjadikan kegiatan belajar tidak berhenti sebagai agenda mahasiswa KKN, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama masyarakat dalam memperkuat kualitas pendidikan anak-anak desa.

Perempuan yang akrab disapa Vari itu menjelaskan, tingginya minat belajar anak-anak belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar maupun tenaga pengajar yang memiliki kompetensi di bidang tersebut. Kondisi itulah yang mendorong tim KKN menghadirkan kelas belajar yang mudah diikuti, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Alih-alih berfokus pada hafalan, mahasiswa KKN memilih pendekatan yang menitikberatkan pada kemampuan berbicara. Melalui berbagai permainan edukatif, latihan percakapan, pengucapan kata (pronunciation drill), hingga menyusun kalimat sederhana, anak-anak didorong untuk berani menggunakan bahasa Inggris tanpa rasa takut.

"Berbicara bukan sekadar menghafal teori, tetapi melatih keberanian menggunakan bahasa. Harapan kami, anak-anak memiliki bekal kosakata dan ungkapan sederhana sehingga mereka berani memperkenalkan diri dan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris," kata Vari.

Selama periode 5 hingga 14 Juli 2026, kelas bahasa Inggris telah berlangsung empat kali di Gedung Sumber Kasih. Kegiatan yang dilaksanakan setiap Selasa dan Minggu itu diikuti sekitar 30 hingga 40 peserta berusia 9 sampai 15 tahun pada setiap pertemuan.

Hasilnya mulai terlihat. Dalam waktu singkat, para peserta sudah mampu menyapa, memperkenalkan diri, memperkenalkan teman maupun anggota keluarga menggunakan bahasa Inggris. Mereka juga mengenal beragam kosakata tentang hobi, warna, buah-buahan, emosi, hingga nama-nama tempat, serta mampu menyusun kalimat sederhana yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari.

Perubahan positif bahkan terasa di luar ruang belajar. Anak-anak kini tak lagi canggung menyapa mahasiswa KKN dengan bahasa Inggris saat berpapasan di lingkungan desa. Rasa ingin tahu mereka juga semakin tumbuh. Berbagai benda yang ditemui sehari-hari kerap ditanyakan padanan bahasa Inggrisnya, lalu langsung dipraktikkan dalam percakapan sederhana.

Bagi Vari, pemandangan tersebut menjadi bukti bahwa semangat belajar adalah modal terbesar bagi masa depan generasi muda di wilayah kepulauan.

"Meskipun masa pengabdian kami memiliki batas waktu, yang paling penting adalah semangat belajar anak-anak tetap hidup. Kami berharap apa yang telah dimulai ini bisa terus dilanjutkan oleh masyarakat dan menjadi bekal bagi mereka menghadapi masa depan," tuturnya.

Program English Talk and Share membuktikan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, gereja, dan masyarakat mampu melahirkan perubahan nyata. Dari sebuah desa di Maluku Tenggara, lahir ruang belajar yang bukan hanya mengajarkan bahasa Inggris, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, keberanian berkomunikasi, serta membuka jendela baru bagi anak-anak untuk menatap dunia yang lebih luas. (ji4)

1 Menyukai postingan ini