Abdoel Moethalib Sangadji yang dijuluki "Si Jago Toea" resmi dianugerahi Pahlawan Nasional. Penghargaan akan diterima Pemerintah Provinsi Maluku dan keluarga almarhum di Jakarta, pada 10 November 2026, mendatang. (Ist)

Maluku Kembali Ukir Sejarah di Era Prabowo, A.M. Sangadji Resmi Jadi Pahlawan Nasional

80

Ambon, JejakInfo.id – Maluku kembali menorehkan sejarah di panggung nasional. Setelah Johannes Leimena dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kini giliran tokoh besar pergerakan asal Maluku, Abdoel Moethalib Sangadji atau A.M. Sangadji, yang resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Penganugerahan gelar kehormatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 10 November 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.

Kepastian ini disampaikan Kepala Dinas Sosial Provinsi Maluku, Afandi Hassanusi. Ia membenarkan bahwa Pemerintah Provinsi Maluku telah menerima surat resmi dari Kementerian Sosial terkait penetapan dan jadwal penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada A.M. Sangadji.

“Tadi kami sudah menerima surat dari Kementerian Sosial. Dalam surat itu disampaikan bahwa A.M. Sangadji telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dan penganugerahannya akan dilaksanakan pada 10 November 2026,” kata Afandi saat dikonfirmasi, Sabtu (7/11/2026).

Afandi menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga perjuangan panjang mengusulkan A.M. Sangadji sebagai Pahlawan Nasional akhirnya membuahkan hasil.

“Alhamdulillah, atas doa dan dukungan Bapak Gubernur, Wakil Gubernur, serta seluruh masyarakat Maluku, kini tokoh kita A.M. Sangadji ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Ini menjadi kebanggaan bagi Maluku sekaligus pengingat agar perjuangan dan keteladanan A.M. Sangadji terus dikenal, terutama oleh generasi muda,” ujarnya.

Dari Rohomoni Mengguncang Pergerakan Nasional

Penetapan A.M. Sangadji sebagai Pahlawan Nasional bukanlah penghargaan tanpa alasan. Sepanjang hidupnya, putra Maluku ini mengabdikan diri untuk perjuangan kebangsaan, melawan kolonialisme, serta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Abdoel Moethalib Sangadji lahir di Negeri Rohomoni, Pulau Haruku, Maluku Tengah, pada 3 Juni 1889. Ia meninggal dunia di Yogyakarta pada 8 Mei 1949. Namanya dikenal luas dalam sejarah pergerakan nasional, bahkan mendapat julukan “Si Jago Toea” dari koran Hindenburg Kalimantan dan S.K. Merdeka Solo.

Lahir dari keluarga terpandang, Sangadji merupakan putra Abdul Wahab Sangadji, Raja Negeri Rohomoni, dan Siti Saad Pattisahusiwa, putri Raja Negeri Siri-Sori Islam.

Pendidikan dasarnya ditempuh di HIS Saparua sebelum melanjutkan ke MULO Ambon. Meski tidak meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, keterbatasan pendidikan formal tidak pernah membatasi langkahnya untuk mengambil bagian dalam perjuangan besar bangsa Indonesia.

Pada 1909, ia memulai karier sebagai juru tulis di Kantor Pengadilan Saparua. Ia kemudian dipindahkan ke Karesidenan Ambon. Namun, jiwa perjuangannya ternyata tidak bisa berlama-lama berada dalam lingkungan birokrasi kolonial.

Pada 1919, atas kemauan sendiri, Sangadji meninggalkan pekerjaannya dan merantau ke Surabaya. Di kota tersebut, ia sempat bekerja sebagai panitera atau griffier di lingkungan pemerintahan Hindia Belanda.

Namun, jabatan bukanlah tujuan hidupnya. Pada 1922, ia mengambil keputusan besar dengan meninggalkan pekerjaannya dan bergabung bersama dua tokoh besar pergerakan nasional, H.O.S. Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim, dalam Sarekat Islam.

Sejak saat itu, perjuangan Sangadji semakin terbuka. Ia aktif menulis di surat kabar Oetoesan Hindia dan Fadjar Asia, menyuarakan gagasan kebangsaan sekaligus membangun kesadaran politik rakyat.

Ia bukan sekadar bergerak melalui tulisan. Sangadji juga aktif memberikan pendidikan politik kepada kalangan pemuda, termasuk di lingkungan Jong Islamieten Bond (JIB) pada 1925.

Bersama Tjokroaminoto dan Agus Salim, ia menjadi bagian penting dari lingkungan pendidikan politik yang melahirkan banyak tokoh pergerakan dan pemimpin bangsa.

Putra Maluku di Balik Sumpah Pemuda 1928

Salah satu catatan penting dalam perjalanan perjuangan A.M. Sangadji adalah keterlibatannya dalam Kongres Pemuda II tahun 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Di tengah gelombang kebangkitan pemuda dari berbagai daerah, Sangadji hadir membawa semangat persatuan dan cita-cita Indonesia merdeka.

Ia tercatat sebagai peserta utama Kongres Sumpah Pemuda 1928 di Jakarta. Bersama Johannes Leimena, putra Maluku lainnya, Sangadji juga dipercaya mengambil bagian dalam kepanitiaan kongres tersebut.

Keterlibatan dua putra Maluku dalam momentum bersejarah itu menjadi bukti bahwa masyarakat Maluku telah mengambil bagian dalam proses pembentukan kesadaran kebangsaan jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Sangadji juga terlibat dalam Sarekat Ambon atau Ambon Seileden yang digerakkan Alexander Yacob Patty (A.Y. Patty).

Karier politiknya semakin menonjol ketika ia terpilih dalam Kongres Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) untuk masa khidmat 1930–1936 sebagai Presiden Lajnah Tanfidziyah. Sementara itu, Tjokroaminoto menjabat sebagai Ketua Dewan Partai.

Pada 1937, bersama Agus Salim, Sangadji mendirikan Partai Penyadar. Ia juga memimpin Komite Anshar Al Islam untuk Kemerdekaan Palestina, mendirikan Balai Pengajaran dan Pendidikan Rakyat (BPPR) di Samarinda, serta memimpin Laskar Hizbullah yang berpusat di Yogyakarta.

Perjuangannya tidak selalu berjalan mulus. Ia beberapa kali ditangkap dan ditawan oleh pemerintah pendudukan Jepang maupun kolonial Belanda. Namun, tekanan dan penangkapan tidak membuatnya meninggalkan cita-cita kemerdekaan.

Dari Pergerakan hingga Lingkaran Pemerintahan Republik

Setelah Indonesia merdeka, pengabdian A.M. Sangadji tidak berhenti. Ia turut mengambil bagian dalam membangun pemerintahan Republik Indonesia yang masih menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial Belanda.

Sangadji pernah menjabat Sekretaris Menteri Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin, periode 11 November 1947 hingga 29 Januari 1948.

Selanjutnya, ia dipercaya menjadi Penasihat Menteri Pertahanan Republik Indonesia dalam Kabinet Mohammad Hatta hingga akhir hayatnya.

Ia juga tercatat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan Badan Pekerja KNIP.

Pengalaman dan kapasitasnya dalam perjuangan diplomasi turut mengantarkannya menjadi Penasihat Delegasi Republik Indonesia bersama Sutan Sjahrir dalam perundingan dengan Belanda di atas kapal USS Renville pada akhir 1947.

Pada 20 Mei 1948, Sangadji turut menghadiri peringatan 40 tahun Hari Kebangunan Nasional di Istana Agung Yogyakarta, sebuah momentum yang kemudian dikenang sebagai perayaan Hari Kebangkitan Nasional pertama.

Gugur Tragis, Perjuangan Tak Pernah Padam

Perjalanan hidup A.M. Sangadji berakhir secara tragis. Pada 8 Mei 1949, ia tewas tertembak di kediamannya di Yogyakarta oleh sekelompok orang yang dalam catatan riwayatnya disebut berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Jenazahnya kemudian dimakamkan di Jalan Blunyah Gede, Sinduhadi, Mlati, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Kepergiannya meninggalkan jejak panjang perjuangan seorang anak Maluku yang memilih meninggalkan kenyamanan jabatan demi cita-cita kemerdekaan bangsanya.

Kini, lebih dari tujuh dekade setelah wafatnya, negara akhirnya memberikan pengakuan tertinggi atas jasa dan pengabdian A.M. Sangadji dengan menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.

Bagi Maluku, gelar ini bukan sekadar kebanggaan atas bertambahnya putra daerah yang diakui sebagai pahlawan bangsa. Lebih dari itu, penetapan tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia juga ditulis melalui pikiran, keberanian, pengorbanan, dan perjuangan anak-anak Maluku.

Dari Rohomoni, Pulau Haruku, A.M. Sangadji telah menorehkan namanya dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia.

Namanya kini bukan hanya milik Maluku, melainkan menjadi bagian abadi dari sejarah perjuangan Indonesia. (*/ji3)

1 Menyukai postingan ini