Direktur Keuangan PD Panca Karya, Marla Beatriecs Kailola (Maya). (Ist)

Marla Beatriecs Kailola: “Mesin Keuangan Baru” Panca Karya yang Mengubah Wajah BUMD Maluku

242

Ambon, JejakInfo.id — Di tubuh Perusahaan Daerah Panca Karya, sebuah gerakan besar tengah terjadi. Dari perusahaan yang dulu sering disebut “beban daerah”, kini mulai muncul tanda-tanda kebangkitan. Dan di pusat putaran roda perubahan itu berdiri satu figur perempuan muda yang langkahnya tegas dan visinya jauh ke depan: Marla Beatriecs Kailola.

Sebagai Direktur Keuangan, Maya sapaan akrabnya bukan sekadar mengurusi angka. Ia mengubah cara perusahaan ini bekerja, menata ulang fondasi, dan membawa Panca Karya masuk ke era digital.

Perempuan kelahiran Ambon tahun 1972 ini bukan figur baru di dunia profesional. Dua puluh tahun lebih ia meniti karier di industri properti dan bisnis nasional. Dari staf direksi, kepala divisi pemasaran, hingga pemilik perusahaan sendiri, Maya menyentuh begitu banyak ruang strategis di perusahaan-perusahaan ternama.

Nama-nama besar tempat ia berkarier menjadi semacam bukti: ia menguasai manajemen keuangan, strategi investasi, dan pengembangan bisnis dengan kedalaman yang jarang dimiliki profesional seusianya.

Aktivitasnya di organisasi nasional seperti REI dan KADIN semakin memperkuat posisinya sebagai sosok yang diakui luas. Karena itu, ketika ia pulang ke Ambon dan masuk ke Panca Karya, banyak pihak langsung menaruh harapan besar.

Transformasi Digital: Perubahan yang Terasa di Meja Kerja

Begitu memegang jabatan, Maya langsung menyentuh jantung persoalan: tata kelola. Ia mengakhiri sistem manual yang selama ini rawan tumpang tindih dan membuka ruang gelap. Semua dipindahkan ke sistem digital — dari pencatatan, budgeting, hingga arus kas harian.

“Tata kelola kita sekarang transparan. Semua bisa dipantau. Tidak ada lagi over budget,” ujarnya.

Bahkan, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa sebagai pemilik modal kini bisa memantau arus masuk dan keluar dana hanya lewat gawai. Suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Panca Karya.

Ketika bicara kondisi kapal-kapal Panca Karya, Maya tidak menutup-nutupi. Armada yang ada selama ini lebih sering menghabiskan uang daripada menghasilkan. Perbaikan mesin turbo satu unit kapal saja menelan lebih dari satu miliar rupiah, belum termasuk docking yang hampir dua miliar.

Ketiadaan dana cadangan membuat kerusakan kecil berubah menjadi kerugian besar. Karena itu, Maya memulai langkah penting: appraisal aset secara eksternal. Penataan ulang aset ini menjadi dasar bagi perencanaan investasi jangka panjang.

“Kalau tidak ada data, kita hanya menebak. Dan masa depan perusahaan tidak bisa dibangun dari tebak-tebakan,” tuturnya.

Dari sembilan armada Panca Karya, hanya sebagian yang mendapat subsidi pemerintah pusat dan provinsi. Mayoritas beroperasi dalam ketidakpastian.

Maya kini memperjuangkan agar semua skema subsidi dapat kembali aktif, termasuk subsidi transportasi darat yang selama ini dicabut.

“Begitu subsidi hidup lagi, kita bisa bernafas lebih lega. Dan Panca Karya bisa bergerak stabil,” katanya yakin.

Bagi para pegawai, Maya bukan sekadar direktur baru. Ia membawa energi yang terasa hingga ruangan-ruangan kerja.

“Kehadiran Ibu Maya bagaikan energi baru. Beliau mampu mencairkan suasana dan mengurai kemacetan,” ujar seorang pegawai.

Ia tegas, tapi tidak tegang. Profesional, namun tetap membumi. Sosok yang bekerja keras namun tetap membawa kehangatan dalam setiap keputusan.

Dengan pengalaman panjang, jaringan nasional yang kuat, serta disiplin yang ditempa sejak masa kecil, Maya kini memimpin Panca Karya memasuki fase baru: fase stabilitas, transparansi, dan pertumbuhan.

Ia sering mengatakan, Panca Karya harus berhenti menjadi beban dan mulai menjadi berkat bagi Maluku.

Dan dari langkah-langkah yang ia gagas, semangat itu bukan lagi sekadar harapan, tetapi mulai menjadi kenyataan. Panca Karya sedang berubah. Dan di balik perubahan itu, ada seorang perempuan muda yang pulang untuk membangun tanah kelahirannya. (*)