-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026


Langgur, JejakInfo.id – Di Ohoi Selayar, Kecamatan Manyeuw, Kabupaten Maluku Tenggara, sebuah babak baru dimulai.
Kubah Masjid Al-Mujiba diturunkan. Bangunan lama perlahan dibongkar. Namun, yang hendak dibangun kembali di atas fondasi itu bukan sekadar sebuah bangunan fisik. Ada harapan tentang rumah ibadah yang lebih representatif, sekaligus ruang yang mampu merawat persaudaraan, membina generasi muda dan memperkuat kehidupan sosial masyarakat.
Prosesi penurunan kubah dan pembongkaran secara simbolis Masjid Al-Mujiba berlangsung pada Sabtu (8/8/2026), dihadiri Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun.
Bagi Hanubun, pembongkaran masjid lama bukanlah akhir. Justru dari sanalah ikhtiar baru dimulai.
Ia mengajak masyarakat melihat pembangunan Masjid Al-Mujiba sebagai pekerjaan bersama yang membutuhkan lebih dari sekadar anggaran. Tenaga, pikiran, kepedulian dan terutama persatuan masyarakat menjadi kekuatan utama.
“Setiap kali kita mengerjakan sesuatu kebaikan, pasti ada cobaan yang datang. Karena masjid yang kita bangun adalah kebaikan untuk umat. Kebaikan itu tidak selalu berjalan lurus, pasti ada cobaan. Cobaan itu justru mengingatkan kita untuk terus memberikan semangat,” ujar Hanubun.
Pesan itu disampaikan bukan tanpa alasan. Pembangunan rumah ibadah, menurutnya, membutuhkan kesabaran dan keteguhan. Tidak boleh ada pihak yang mudah menyerah hanya karena menghadapi keterbatasan atau tantangan di tengah perjalanan.
“Kalau kita membuat masjid, kita sedang membangun jalan menuju surga. Karena itu, saya datang dengan hati yang tulus dan mengajak kita semua untuk melunakkan hati di jalan Allah,” katanya.
Bukan Hanya Bangunan, Tetapi Rumah Bersama
Hanubun berharap Masjid Al-Mujiba nantinya tidak berhenti sebagai tempat melaksanakan salat. Masjid harus hidup bersama masyarakat.
Di dalamnya, pendidikan keagamaan dapat tumbuh. Anak-anak dan generasi muda bisa mendapatkan pembinaan. Kegiatan sosial dapat berlangsung. Nilai-nilai moral dan kepedulian terhadap sesama juga dapat terus dipupuk.
Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar.
Hanubun mengajak warga Ohoi Selayar dan masyarakat dari wilayah sekitarnya untuk ikut mengambil bagian dalam pembangunan tersebut. Pemerintah, kata dia, tidak mungkin berjalan sendirian.
“Yang penting masyarakat harus bersatu,” tegasnya.
Bagi Hanubun, gotong royong bukan sekadar cara untuk menyelesaikan pekerjaan ketika anggaran terbatas. Gotong royong adalah kekuatan sosial yang membuat sebuah bangunan memiliki nilai lebih karena dibangun dari kepedulian banyak orang.
Berbeda, Tetapi Tetap Bersatu
Dari pembangunan Masjid Al-Mujiba, Hanubun juga menitipkan pesan yang lebih luas tentang kehidupan masyarakat Maluku Tenggara.
Perbedaan, katanya, merupakan bagian dari kehidupan. Masyarakat boleh memiliki pandangan yang berbeda dalam berbagai hal. Namun, perbedaan itu tidak boleh berubah menjadi alasan untuk saling menjauh.
Terlebih ketika masyarakat sedang mengerjakan sesuatu yang menyangkut kepentingan bersama.
“Kita boleh berbeda dalam banyak hal, tetapi dalam membangun masjid dan gereja atau tempat ibadah agama lain maka kita harus menyatu menjadi satu. Tidak mungkin kita bercerai-berai lalu berharap pembangunan bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pembangunan rumah ibadah dapat menjadi ruang untuk merawat kerukunan. Masjid, gereja dan tempat ibadah lainnya tidak semestinya hanya dilihat sebagai simbol keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Di tengah keberagaman Maluku Tenggara, persaudaraan menjadi modal penting untuk memastikan pembangunan daerah tetap berjalan.
Pemkab Pastikan Dukungan
Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, lanjut Hanubun, akan tetap memberikan dukungan terhadap pembangunan kembali Masjid Al-Mujiba.
Dukungan tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan keuangan daerah dan kebutuhan pembangunan.
Hanubun bahkan meminta masyarakat tidak perlu khawatir apabila pembangunan belum dapat diselesaikan dalam satu tahapan anggaran.
“Kalau sampai akhir masa tugas saya belum selesai, saya harus anggarkan lagi, anggarkan lagi sampai selesai. Jadi jangan khawatir,” katanya.
Namun, dukungan pemerintah bukan berarti seluruh pekerjaan harus dibebankan kepada pemerintah.
Di tengah keterbatasan anggaran, masyarakat justru didorong mengambil peran lebih besar. Salah satunya melalui pemanfaatan tenaga kerja lokal.
Menurut Hanubun, keterlibatan warga setempat bukan hanya membantu menekan biaya pembangunan. Lebih dari itu, uang yang berputar dalam pembangunan juga dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Ia mencontohkan pembangunan Masjid Dian Pulau yang melibatkan tenaga kerja dari masyarakat setempat.
“Masjid Dian Pulau tukangnya berasal dari orang Dian Pulau sendiri, bahkan ada yang dari sini. Itu berarti bisa mengurangi biaya yang dikeluarkan,” jelasnya.
Pola tersebut, menurutnya, dapat diterapkan dalam pembangunan Masjid Al-Mujiba. Dengan demikian, pembangunan rumah ibadah tidak hanya menghasilkan bangunan baru, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut bekerja dan merasakan manfaat ekonominya.
Menanam Rasa Memiliki
Lebih jauh, keterlibatan warga dalam pembangunan diyakini akan melahirkan rasa memiliki yang lebih kuat.
Masjid yang dibangun melalui keringat bersama akan menjadi rumah yang dirawat bersama. Setiap tenaga yang dicurahkan, setiap bantuan yang diberikan dan setiap doa yang dipanjatkan akan menjadi bagian dari perjalanan panjang Masjid Al-Mujiba.
Karena itu, Hanubun mendorong agar seluruh proses pembangunan dilakukan secara terbuka dan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, pengurus masjid hingga pemerintah dan warga.
Masjid Al-Mujiba diharapkan kelak menjadi pusat kehidupan masyarakat Ohoi Selayar. Bukan hanya ramai ketika waktu salat tiba, tetapi juga hidup melalui kegiatan pendidikan agama, pembinaan pemuda, kegiatan sosial dan berbagai aktivitas yang memperkuat hubungan antarmasyarakat.
Pada akhirnya, pembangunan Masjid Al-Mujiba bukan semata tentang mengganti bangunan lama dengan bangunan baru.
Ada persaudaraan yang hendak dirawat. Ada kerukunan yang ingin dipertahankan. Ada generasi muda yang ingin disiapkan. Dan ada semangat gotong royong yang diharapkan tidak ikut runtuh bersama bangunan lama.
“Berbeda dalam hal yang lain tidak menjadi masalah. Tetapi untuk membangun masjid dan gereja, kita harus bersatu,” pungkas Hanubun.
Dari Ohoi Selayar, pembangunan Masjid Al-Mujiba pun membawa pesan sederhana: sebuah rumah ibadah akan berdiri kokoh bukan hanya karena kuatnya bangunan, tetapi juga karena kuatnya persatuan orang-orang yang membangunnya. (ji4)

