-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Ambon, JejakInfo.id — April yang dulu kerap dibayangi kecemasan, kini hadir dengan wajah berbeda di Maluku. Jalanan tetap ramai, pasar bergeliat, dan pelabuhan bekerja seperti biasa. Tidak ada bayang-bayang ketegangan. Yang terasa justru semangat kebersamaan yang semakin kuat di tengah masyarakat.
Perubahan ini bukan terjadi begitu saja. Dalam beberapa tahun terakhir, warga Maluku perlahan menata kembali kehidupan sosialnya, meninggalkan trauma masa lalu dan memilih melangkah ke depan. Isu-isu lama yang dahulu mudah memantik keresahan, kini tidak lagi mendapat tempat di hati masyarakat.
Pangdam XV/Pattimura, Mayjen TNI Dodi Triwinarto, melihat situasi ini sebagai tanda bahwa Maluku telah memasuki babak baru. Menurutnya, kesadaran kolektif warga untuk menjaga persaudaraan kini jauh lebih kokoh dibandingkan upaya-upaya yang mencoba memecah belah.
Ia menilai, narasi yang dibawa kelompok Republik Maluku Selatan (RMS) semakin kehilangan relevansi. Bagi masyarakat hari ini, hal-hal yang berbau konflik tidak lagi menjanjikan masa depan. Yang dibutuhkan adalah stabilitas untuk bekerja, berusaha, dan membangun kehidupan yang lebih baik.
“Yang kita lihat sekarang adalah masyarakat yang sudah cerdas menentukan arah. Mereka tahu mana yang membawa kemajuan, mana yang justru berpotensi merusak apa yang sudah dibangun bersama,” ujarnya.
Di lapangan, gambaran itu terlihat jelas. Aktivitas ekonomi berjalan normal, interaksi sosial berlangsung hangat, dan ruang-ruang publik kembali menjadi tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat tanpa sekat. Generasi muda, khususnya, menunjukkan sikap yang tegas: mereka lebih tertarik pada peluang pendidikan, pekerjaan, dan persaingan sehat, ketimbang terjebak dalam romantisme masa lalu.
Kehadiran aparat keamanan pun kini dirasakan dalam nuansa yang berbeda. Bukan sebagai sumber ketakutan, melainkan sebagai penjaga ketenangan. Pendekatan yang lebih humanis menjadi kunci dalam membangun rasa percaya masyarakat.
Mayjen Dodi juga memberikan apresiasi kepada warga yang secara sadar menolak provokasi. Baginya, kekuatan terbesar Maluku hari ini bukan pada aparat atau kebijakan semata, melainkan pada kemauan masyarakat sendiri untuk menjaga harmoni.
Nilai-nilai lokal seperti Pela Gandong kembali menemukan maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Ikatan persaudaraan itu tidak lagi sekadar simbol, tetapi menjadi fondasi nyata dalam merawat kedamaian.
Kini, arah Maluku semakin jelas. Fokus tertuju pada pembangunan. Membangun sekolah, memperbaiki infrastruktur, dan menggerakkan ekonomi keluarga. Di tengah semua itu, satu hal menjadi kesepakatan bersama: masa depan hanya bisa diraih jika kedamaian tetap dijaga.
Dan dari Ambon, pesan itu terdengar tegas—Maluku telah memilih jalannya. Bukan lagi menoleh ke belakang, melainkan melangkah mantap menuju masa depan. (ji5)


