-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026


Ambon, JejakInfo.id — Usia 91 tahun bukan alasan bagi Gereja Protestan Maluku (GPM) untuk berhenti mengenang perjalanan panjangnya. Justru, usia tersebut menjadi panggilan untuk melangkah lebih jauh, hadir di tengah persoalan masyarakat, dan menjawab tantangan zaman yang terus berubah.
Pesan itu disampaikan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa saat menghadiri resepsi Hari Ulang Tahun (HUT) ke-91 GPM di Gedung Baileo Oikumene Ambon, Minggu (6/9/2026).
Di hadapan pimpinan Sinode GPM, para pelayan gereja, tokoh agama, pemerintah daerah, serta warga GPM, Lewerissa mengajak seluruh warga gereja menjadikan perjalanan 91 tahun sebagai momentum memperkuat pelayanan kepada masyarakat.
“Atas nama pribadi, keluarga, Pemerintah Daerah serta seluruh rakyat Maluku, saya mengucapkan selamat Hari Ulang Tahun ke-91 kepada seluruh pimpinan dan warga GPM di Maluku dan Maluku Utara,” ujar Lewerissa.
Sebagai warga GPM, Lewerissa mengatakan gereja memiliki tempat penting dalam perjalanan Maluku. GPM, menurutnya, bukan hanya tempat umat menjalankan kehidupan spiritual, tetapi telah menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam membentuk jiwa, identitas, dan karakter masyarakat Maluku.
Karena itu, tema HUT ke-91 GPM, “Bersyukur dan Tekunlah Bermisi dengan Menaruh Takut akan Allah”, dinilainya sangat relevan dengan kondisi kehidupan saat ini.
Lewerissa mengajak warga GPM memaknai syukur bukan hanya ketika kehidupan berjalan mudah. Syukur, katanya, justru harus tetap hidup ketika manusia berhadapan dengan kesulitan dan ketidakpastian.
“Pada usia 91 tahun ini, marilah kita mengatakan dengan rendah hati: Eben-Haezer, sampai di sini Tuhan telah menolong kita,” tuturnya.
Namun, rasa syukur itu tidak boleh membuat gereja berhenti bergerak. Menurut Lewerissa, dunia sedang berubah dengan sangat cepat. Teknologi, kecerdasan buatan, dan media sosial telah mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, bahkan membangun relasi satu sama lain.
Di tengah kemajuan tersebut, muncul pula persoalan yang semakin kompleks. Kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan, narkoba, kerusakan lingkungan, krisis keluarga, intoleransi hingga melemahnya karakter menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
“Manusia semakin terhubung secara digital, tetapi cenderung semakin jauh secara emosional dan spiritual. Kita memiliki banyak informasi, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan,” katanya.
Dalam situasi seperti itu, Lewerissa berharap GPM tidak hanya hadir di dalam gedung gereja, tetapi juga hadir di tengah kehidupan masyarakat.
Gereja, katanya, harus mampu menyapa mereka yang kehilangan harapan, menguatkan keluarga yang sedang menghadapi pergumulan, membela martabat manusia, menjaga lingkungan, membangun generasi muda, serta menghadirkan pelayanan yang membebaskan.
Gereja dan Pemerintah Berjalan Bersama
Lewerissa juga menekankan pentingnya nilai takut akan Allah sebagai fondasi dalam menjalankan kehidupan. Nilai tersebut, menurutnya, bukan sekadar persoalan ritual keagamaan, tetapi kesadaran bahwa setiap tindakan harus berpijak pada kebenaran, keadilan, dan tanggung jawab moral.
Hal itu juga berlaku dalam pembangunan Maluku. Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur dari banyaknya infrastruktur yang berdiri. Lebih dari itu, pembangunan harus menghasilkan manusia yang memiliki karakter dan integritas.
“Maluku tidak hanya membutuhkan infrastruktur beton dan baja, tetapi Maluku membutuhkan jiwa-jiwa yang kokoh dan berintegritas,” tegasnya.
Menurut Lewerissa, pemerintah dan gereja memiliki ruang pengabdian yang berbeda, tetapi dapat berjalan beriringan. Pemerintah berupaya menghadirkan kesejahteraan material, sementara gereja memiliki peran penting dalam membangun karakter dan kedewasaan spiritual masyarakat.
Upaya mengurangi kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan, menjaga perdamaian dan merawat persaudaraan, kata dia, bukan hanya pekerjaan pemerintah. Semua itu merupakan tanggung jawab bersama.
Karena itu, Gubernur meminta dukungan doa dari pimpinan, para pelayan, dan seluruh warga GPM terhadap berbagai agenda strategis pembangunan Maluku.
Di antaranya pembangunan Blok Masela, pengembangan Maluku Integrated Port atau Maluku Integrated Lumbung Ikan Nasional, penyelesaian Bendungan Wae Apu, hilirisasi pertanian, kelapa dan pala, hilirisasi migas di Buru Selatan, pengembangan Koperasi Kelapa Unggulan Daerah Putih, program bedah rumah, pembangunan RSUD Tipe B, hingga perjuangan Rancangan Undang-Undang Daerah Kepulauan.
Bagi Lewerissa, agenda tersebut bukan sekadar program pemerintah. Semuanya merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk mengubah kekayaan dan posisi strategis Maluku menjadi peluang bagi masyarakat melalui konektivitas, ketahanan pangan, investasi, lapangan kerja, dan pemerataan pembangunan.
“Saya percaya doa gereja adalah kekuatan moral bagi setiap perjuangan yang baik. Karena itu, mari kita satukan kerja pemerintah, doa gereja, dan kekuatan rakyat,” ajaknya.
Memasuki perjalanan menuju satu abad GPM, Lewerissa mengingatkan agar gereja tidak terlena dengan panjangnya sejarah.
Menurutnya, 91 tahun harus menjadi bekal untuk menghadapi masa depan, bukan sekadar alasan untuk terus menoleh ke masa lalu.
“91 tahun adalah bukti penyertaan Tuhan bagi GPM. Namun masa depan tidak menanti gereja yang terpukau pada romantisme masa lalu, sebab masa depan adalah milik mereka yang berani melangkah dengan syukur dan tekun mengerjakannya,” ujarnya.
Ia mengajak warga GPM membawa semangat pelayanan ke seluruh ruang kehidupan. Gereja harus hadir di sekolah, pasar, rumah sakit, kantor, toko, rumah tangga, laut hingga kebun.
“Selagi matahari masih terbit di timur dan gelombang masih memukul pantai-pantai pulau kita, percaya dan yakinlah, Tuhan tidak pernah meninggalkan Maluku,” katanya.
Lewerissa menutup sambutannya dengan harapan agar GPM tetap menjadi garam dan terang bagi Maluku. Gereja diharapkan terus menjaga agar kasih, keadilan, dan pengharapan tetap hidup di tengah masyarakat.
Resepsi HUT ke-91 GPM turut dihadiri Ketua Majelis Pekerja Harian Sinode GPM Pdt. S. I Sapulette beserta jajaran, Ketua DPRD Provinsi Maluku Benhur George Watubun selaku Ketua Panitia HUT ke-91 Sinode GPM, jajaran Forkopimda Provinsi Maluku, Wali Kota Bodewin Wattimena beserta jajaran Forkopimda Kota Ambon, Tenaga Ahli Menteri ESDM Dr. Michael Wattimena, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Sadali Ie, para Ketua Majelis Pekerja Klasis dari 34 Klasis GPM, serta pimpinan perguruan tinggi se-Maluku.
Hadir pula Rektor Universitas Pattimura Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd., Rektor Universitas Kristen Indonesia Maluku Pdt. Dr. Steve Gaspersz, M.Si., MA., Rektor Universitas Islam Negeri Ambon Prof. Dr. Abidin Wakano, M.Ag., Rektor IAKN Ambon Dr. Elka Anakotta, M.Si., Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, pimpinan OPD Pemprov Maluku dan Pemkot Ambon, serta para mantan Ketua Sinode GPM.
Sejumlah tokoh lintas agama juga hadir, termasuk perwakilan Majelis Ulama Indonesia Provinsi Maluku, Ketua Walubi, Ketua PHDI Indonesia, pimpinan gereja dari berbagai denominasi, Ketua Perwakilan Warga GPM se-Jabodetabek, serta para ketua majelis jemaat, pendeta, penatua, diaken, tua-tua agama dan pelayan GPM.
HUT ke-91 GPM akhirnya bukan sekadar perayaan bertambahnya usia. Momentum tersebut menjadi penegasan kembali bahwa gereja memiliki panggilan untuk terus hadir, melayani, dan membawa harapan.
Dari gereja hingga ruang kehidupan masyarakat, dari pesisir hingga pelosok pulau, perjalanan menuju satu abad GPM diharapkan menjadi perjalanan iman yang terus bergerak, bersyukur, tekun bermisi, dan hadir menjawab tantangan zaman. (ji3)


