-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026




LANGGUR, JejakInfo.id – Angin Oktober belum sempat menetap, namun semangat masyarakat Kei sudah menghangat.
Di setiap pantai, setiap ohoi (desa), dan setiap langkah persiapan, denyut Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2025 mulai terasa. Ini bukan sekadar pesta tahunan. Ini adalah panggilan pulang bagi mereka yang lahir dari laut dan budaya.
Dengan penuh keyakinan, Bupati Maluku Tenggara menyatakan dukungannya terhadap gelaran akbar yang dijadwalkan berlangsung pada 21–27 Oktober mendatang.
Di balik dukungan itu, ada harapan besar: menjadikan Meti Kei bukan hanya milik Maluku Tenggara, tetapi ikon budaya dan pariwisata nusantara.
"Ini bukan hanya festival, ini adalah wajah kita. Identitas kita," ujar Bupati dengan nada tegas namun penuh kebanggaan.
Salah satu puncak acara yang paling dinanti adalah Werwarat, tradisi penangkapan ikan massal di saat laut surut, menggunakan tali panjang yang ditarik ribuan warga secara serempak. Atraksi ini bukan tontonan biasa. Ia adalah napas gotong royong, sebuah tarian kuno antara manusia dan laut di Pantai Wahan, Ohoi Danar.
Bersamaan dengan itu, semarak lain pun bersiap ditampilkan: lomba dragon boat menggelegar di Perairan Sathean, Goyang Meti Kei menggema di Landmark Langgur, dan Van Kur Kurat perayaan penuh warna di Ohoi Kolser. Semua bermuara di acara puncak di Pantai Ngursarnadan, sebuah surga pasir putih yang seakan diciptakan hanya untuk menutup festival dengan keindahan sempurna.
Meski lokasi tersebar di berbagai titik, semangatnya satu: memuliakan tanah leluhur.
Panitia, pemerintah daerah, dan warga bahu-membahu menyiapkan segala sesuatu. Di tengah keterbatasan anggaran, dukungan dari sponsor seperti Bank Mandiri, Telkomsel, PLN, hingga bank-bank lokal menjadi pelita yang menyalakan optimisme. Mereka tidak sekadar menyumbang dana, mereka ikut menyalakan harapan.
"Festival ini juga tentang anak-anak muda Kei," kata Budhi Toffi, Sekretaris Dinas Pariwisata Malra.
"Kita siapkan panggung bagi mereka yang ingin berkarya, melukis, menari, bernyanyi, apa saja. Ini saatnya mereka bersinar," sambungnya.
Bagi diaspora Kei yang tersebar di Tual, Ambon, Jakarta, bahkan di luar negeri, Meti Kei adalah jalan pulang—entah secara fisik, atau dalam rasa. Festival ini menjadi pengikat emosional, ruang untuk menghidupkan kembali kenangan masa kecil, bahasa ibu, dan tarian lama yang hampir terlupa.
Namun Bupati dan panitia sadar, merawat festival bukan hanya soal menampilkan atraksi. Keamanan, ketertiban, dan promosi digital adalah fondasi yang tak bisa ditawar.
"Ayo bantu jaga bersama, dan angkat festival ini ke dunia melalui media sosial kita masing-masing," ajak Toffi.
Di balik gemerlap panggung, juga disiapkan ruang konsultasi untuk talenta muda. Tidak semua akan tampil tahun ini, tapi semua diberi kesempatan untuk tumbuh. Inilah bentuk nyata investasi jangka panjang di bidang seni dan ekonomi kreatif.
Dengan restu Bupati, dukungan Pemerintah Provinsi Maluku, dan kehadiran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Festival Pesona Meti Kei 2025 diharapkan bukan hanya menjadi suguhan budaya, tapi juga tonggak sejarah.
Karena bagi masyarakat Kei, saat laut surut dan ikan datang, itulah waktunya untuk berkumpul, merayakan hidup, dan mengenang siapa diri mereka sebenarnya. (ji4)



