-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Oleh:
Marla Beatriecs Kailola, S.P
(Divisi Pendanaan YAPERTI)
EMPAT puluh tahun bukanlah usia yang singkat bagi sebuah perguruan tinggi. Dalam rentang waktu itu, sebuah kampus seharusnya tidak hanya melahirkan ribuan lulusan, tetapi juga meninggalkan jejak perubahan yang nyata bagi masyarakat yang dilayaninya.
Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), yang berdiri pada 19 Agustus 1985 di bawah naungan Gereja Protestan Maluku (GPM), kini memasuki fase penting dalam perjalanan sejarahnya. Dengan delapan fakultas dan berbagai program studi dari jenjang Diploma hingga Doktor, UKIM memiliki modal besar untuk memainkan peran strategis dalam pembangunan Maluku. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: sejauh mana kampus ini benar-benar memberi dampak bagi masyarakat?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika slogan "UKIM Berdampak" mulai digaungkan sebagai arah baru pengembangan institusi. Sebab dalam dunia pendidikan tinggi, dampak tidak diukur dari megahnya gedung atau banyaknya mahasiswa semata. Dampak terlihat dari seberapa jauh kampus mampu hadir dalam kehidupan masyarakat, menjawab persoalan nyata, dan menjadi sumber solusi bagi daerahnya.
Visi UKIM sesungguhnya sudah sangat jelas. Kampus ini bercita-cita menjadi universitas yang inklusif, mandiri, dan berkualitas dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, serta seni demi kesejahteraan masyarakat kepulauan berdasarkan iman, pengetahuan, dan kasih. Dengan kata lain, kesejahteraan masyarakat Maluku ditempatkan sebagai tujuan utama, bukan sekadar pelengkap dalam dokumen perencanaan. Namun perjalanan menuju cita-cita itu tidak selalu berjalan mulus.
Beberapa tahun lalu, UKIM sempat mengalami penurunan posisi dalam pemeringkatan perguruan tinggi nasional. Bahkan di tingkat regional Maluku dan Maluku Utara, UKIM pernah berada di bawah sejumlah perguruan tinggi lain yang usianya relatif lebih muda. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa usia dan sejarah panjang tidak otomatis menjamin keunggulan.
Justru di sinilah tantangan terbesar UKIM berada: bagaimana mengubah warisan sejarah menjadi energi pembaruan.
Jika berbicara tentang kampus yang berdampak, setidaknya ada tiga ranah yang harus menjadi perhatian utama.
Dampak Akademik
Fondasi pertama tentu saja kualitas akademik. Kampus yang berdampak harus menjadi pusat lahirnya gagasan, penelitian, dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Saat ini UKIM memiliki berbagai program studi yang telah terakreditasi baik. Namun pencapaian tersebut tidak boleh menjadi titik akhir. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan mutu akademik secara berkelanjutan, memperkuat budaya penelitian, serta mendorong dosen untuk semakin aktif menghasilkan karya ilmiah yang diakui secara nasional maupun internasional.
Peran dosen tidak berhenti di ruang kelas. Mereka adalah penggerak ilmu pengetahuan yang bertugas mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat secara seimbang. Semakin kuat budaya akademik yang dibangun, semakin besar pula kontribusi UKIM bagi pembangunan Maluku.
Dampak Sosial
Jika ada satu bidang yang paling dekat dengan identitas UKIM sebagai "Kampus Orang Basudara", maka bidang itu adalah pengabdian kepada masyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah langkah nyata mulai terlihat. Salah satunya adalah pemasangan enam unit Earthquake Warning Alert System (EWAS) di Desa Waai dan Pulau Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah. Program yang melibatkan kolaborasi antara Fakultas Ilmu Kesehatan UKIM dan Universitas Indonesia tersebut menjadi contoh bagaimana ilmu pengetahuan dapat langsung menjawab kebutuhan masyarakat yang hidup di wilayah rawan bencana.
Dampak sosial juga tercermin melalui kerja sama lintas iman yang dibangun bersama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Kemitraan ini membuka ruang baru bagi riset bersama, pertukaran akademik, dan pengembangan program doktoral yang memperkaya perspektif keilmuan sekaligus memperkuat semangat toleransi.
Bagi Maluku yang dibangun di atas nilai persaudaraan dan keberagaman, langkah seperti ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar penandatanganan dokumen kerja sama.
Dampak Spiritual
Sebagai perguruan tinggi yang lahir dari rahim GPM, UKIM memikul tanggung jawab yang berbeda dibanding banyak kampus lainnya.
UKIM tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang cerdas dan kompeten, tetapi juga pribadi yang berintegritas, beretika, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Pendidikan tinggi pada akhirnya bukan hanya soal pengetahuan, melainkan juga pembentukan karakter.
Karena itu, kepemimpinan yang mampu memadukan nilai-nilai Kristiani dengan profesionalisme akademik menjadi faktor penting dalam memastikan bahwa dampak spiritual tersebut benar-benar dirasakan oleh mahasiswa dan masyarakat.
Berdampak Bukan Sekadar Slogan
Pemerintah melalui kebijakan "Diktisaintek Berdampak" kini menempatkan perguruan tinggi sebagai motor penggerak perubahan sosial. Kampus dituntut melahirkan talenta unggul, menghasilkan riset yang relevan, memperkuat pengabdian kepada masyarakat, dan menjalankan tata kelola yang berintegritas.
Konsekuensinya jelas: kata "berdampak" tidak lagi cukup diucapkan, tetapi harus dibuktikan.
Bagi UKIM, ada beberapa pekerjaan besar yang harus terus diperjuangkan. Mutu akademik perlu diperkuat, budaya riset harus semakin hidup, program pengabdian masyarakat harus diperluas dan diukur manfaatnya, serta kepemimpinan institusi harus mampu menghadirkan visi yang transformatif sekaligus akuntabel.
Tanpa langkah-langkah tersebut, slogan hanya akan menjadi rangkaian kata yang indah didengar tetapi minim makna.
Saatnya Melampaui Tembok Kampus
Pada akhirnya, UKIM Berdampak bukan sekadar program kerja atau jargon promosi. Ia adalah panggilan moral sekaligus tanggung jawab sejarah.
Sebagai perguruan tinggi yang tumbuh bersama masyarakat Maluku selama empat dekade, UKIM ditantang untuk hadir lebih dekat dengan komunitas kepulauan, menjawab persoalan-persoalan nyata, dan menjadi mitra pembangunan yang dapat diandalkan.
Warisan nilai pela gandong yang menjadi jiwa masyarakat Maluku sesungguhnya telah memberikan fondasi yang kuat. Kini yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam tindakan nyata.
Karena pada akhirnya, sebuah universitas tidak dikenang karena seberapa tinggi gedungnya, melainkan karena seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya bagi masyarakat.
Dan bagi UKIM, menjadi berdampak bukanlah pilihan. Itu adalah tanggung jawab. (*)




