Foto ilustrasi.

Modan Mohe: Di Antara Keindahan Alam, Jurang Maut, dan Perasaan yang Takut Kembali

104

ADA perjalanan yang hanya meninggalkan lelah di badan. Ada pula perjalanan yang membekas jauh lebih lama, menetap dalam ingatan, bahkan menghadirkan kembali rasa cemas setiap kali kita membayangkan harus melewati jalan yang sama.

Bagi saya, perjalanan darat dari Namlea, Kabupaten Buru, menuju Namrole, Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku, adalah pengalaman pertama kali.

Saya datang ke Namlea dari Kota Ambon melalui perjalanan laut. Semula, perjalanan berikutnya menuju Namrole hanya saya anggap sebagai bagian dari tugas pekerjaan. Tidak ada bayangan bahwa jalur darat yang menghubungkan dua kabupaten di Pulau Buru itu akan membawa saya pada pengalaman yang begitu menegangkan.

Namun, kenyataan di lapangan ternyata berbeda. Di sepanjang perjalanan, saya berhadapan dengan jalan berkelok, tanjakan dan turunan terjal, tebing yang menjulang, serta jurang yang seolah menganga di sisi badan jalan. Di beberapa titik, jalan tampak seperti garis tipis yang memotong perbukitan, mengikuti lekuk alam yang tidak selalu bersahabat dengan kendaraan.

Pemandangannya memang indah. Perbukitan Pulau Buru menyuguhkan panorama yang memanjakan mata. Akan tetapi, semakin jauh kendaraan bergerak, semakin terasa bahwa keindahan itu menyimpan tantangan yang tidak bisa dianggap enteng.

Di kawasan perbukitan Modan Mohe, rasa kagum perlahan bercampur kecemasan. Bahkan, ada saat ketika saya memilih diam, menatap jalan di depan, sambil berusaha menenangkan pikiran sendiri.

Saya tidak sedang mengikuti ekspedisi untuk menguji adrenalin. Saya juga tidak sedang mencari pengalaman ekstrem untuk diceritakan kepada orang lain. Saya hanya menjalankan tugas pekerjaan.

Tetapi, perjalanan itu mengajarkan sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya: terkadang, sebuah perjalanan dinas bisa membawa kita melihat persoalan yang jauh lebih besar daripada urusan yang hendak diselesaikan.

Perjalanan ke Namrole merupakan bagian dari tugas pendampingan kegiatan manajemen PT Bank Maluku Malut. Saya mendampingi Komisaris Bank Maluku Malut, Maichel Papilaya, bersama Divisi Kepatuhan untuk membangun komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah di Kabupaten Buru dan Kabupaten Buru Selatan.

Agenda tersebut mencakup penguatan sinergi dengan pemerintah daerah, termasuk pembahasan mengenai penyertaan modal daerah, serta koordinasi dan monitoring terhadap kinerja kantor cabang, kantor cabang pembantu, pimpinan, staf, dan karyawan.

Upaya meningkatkan pendapatan, mencapai target bisnis, memperkuat kapasitas pegawai, dan menjaga integritas juga menjadi bagian penting dari agenda itu. Sebagai bank milik daerah, Bank Maluku Malut diharapkan mampu tumbuh sehat, menjaga kepercayaan masyarakat, serta memberikan kontribusi bagi perekonomian daerah.

Semua agenda itu telah disusun dengan tujuan yang jelas. Namun, siapa sangka, perjalanan untuk menjalankan tugas tersebut justru mempertemukan saya dengan kenyataan lain tentang Pulau Buru: betapa pentingnya akses jalan yang bukan sekadar menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lain, melainkan juga menjamin keselamatan orang-orang yang menggunakannya.

Mobil yang kami tumpangi dikemudikan John de Silo. Sepanjang perjalanan, kendaraan bergerak dengan penuh kehati-hatian. Jalan yang berkelok dan perubahan kontur medan menuntut konsentrasi tinggi.

Di sejumlah titik, badan jalan terlihat telah beraspal. Itu tentu merupakan kemajuan penting bagi konektivitas wilayah. Namun, permukaannya tidak semuanya mulus. Ada bagian yang tampak rusak, sementara tikungan tajam dan tanjakan atau turunan panjang membuat pengemudi harus benar-benar memperhitungkan setiap gerakan kendaraan.

Belum lagi ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti kawasan pegunungan. Pandangan yang terganggu membuat perjalanan terasa semakin menuntut kewaspadaan.

Dalam kondisi seperti itu, saya menyadari bahwa keselamatan bukan perkara yang dapat diserahkan begitu saja kepada keberuntungan. Pengemudi harus mampu membaca medan, menjaga kecepatan, memperhitungkan jarak pandang, dan memastikan kendaraan tetap berada dalam kendali.

Sementara bagi penumpang seperti saya, yang bisa dilakukan hanyalah berharap perjalanan berlangsung lancar.

Modan Mohe, ketika jurang terasa begitu dekat

Ada satu bagian perjalanan yang paling membekas dalam ingatan saya: ketika kendaraan memasuki kawasan pegunungan Modan Mohe, pada jalur penghubung Kabupaten Buru dan Kabupaten Buru Selatan.

Di kawasan inilah perasaan takut itu benar-benar muncul. Jalan berkelok mengikuti kontur pegunungan. Di satu sisi, bukit dan tebing berdiri kokoh. Di sisi lainnya, jurang terbentang dalam, menghadirkan pemandangan yang membuat saya sulit mengalihkan perhatian.

Pada beberapa bagian, pagar pembatas atau fasilitas pengaman di sisi jalan terlihat belum memadai. Kondisi itu menimbulkan kecemasan tersendiri, terutama ketika kendaraan harus melewati tikungan sempit yang berdekatan dengan jurang.

Bayangkan berada di dalam kendaraan yang sedang menanjak, kemudian memasuki tikungan tajam dengan ruang gerak terbatas. Di depan, jalan terus berkelok. Di samping, jurang menganga. Tidak banyak ruang untuk melakukan kesalahan.

Saya mencoba tetap tenang. Namun, jujur saja, ketenangan itu tidak selalu mudah dipertahankan. Bulu "badang" merinding. Sesekali saya melirik ke sisi jalan, lalu segera mengalihkan pandangan kembali ke depan. Ada rasa takut yang sulit dijelaskan, bukan karena saya meragukan kemampuan pengemudi, melainkan karena medan yang kami hadapi memang menuntut kewaspadaan luar biasa.

Pikiran saya mulai membayangkan berbagai kemungkinan. Bagaimana jika kendaraan mengalami gangguan ketika berada di tengah tanjakan? Bagaimana jika dua mobil berpapasan di tikungan yang sempit? Bagaimana jika hujan turun dan membuat kondisi jalan semakin sulit? Bagaimana jika kendaraan kehilangan kendali di titik yang tidak memiliki pengaman memadai? Pertanyaan-pertanyaan itu datang silih berganti.

Saya tahu, membayangkan kemungkinan buruk tidak akan mengubah kondisi jalan. Tetapi, ketika kita berada langsung di tengah medan seperti itu, pikiran terkadang bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita untuk menenangkannya.

Di luar jendela, alam tetap tampak megah. Perbukitan membentang, pepohonan berdiri di lereng, dan jalan terus berkelok mengikuti bentuk bumi.

Akan tetapi, di dalam kendaraan, saya merasakan ketegangan yang sulit disembunyikan. Keindahan alam dan rasa takut seolah hadir bersamaan. Saya ingin menikmati pemandangan, tetapi perhatian terus tertuju pada keselamatan perjalanan.

Pada saat itulah saya memahami bahwa jalan yang tampak biasa bagi sebagian orang bisa menghadirkan pengalaman yang sangat berbeda bagi mereka yang baru pertama kali melintasinya.

Jalan yang menghubungkan Buru dan Buru Selatan bukan sekadar jalur perjalanan antarkabupaten. Jalan itu merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat dan pergerakan ekonomi di Pulau Buru.

Karena itu, keberadaan aspal saja tidak cukup untuk menjamin perjalanan yang aman. Jalan di kawasan dengan kontur ekstrem membutuhkan fasilitas keselamatan yang sesuai dengan kondisi medan. Pagar pengaman pada titik rawan, rambu peringatan sebelum tikungan tajam, marka jalan yang jelas, penanda tepi jalan, serta perbaikan permukaan jalan merupakan bagian yang perlu mendapat perhatian.

Pada titik tertentu, penanganan tambahan mungkin juga dibutuhkan berdasarkan hasil pemeriksaan teknis di lapangan.

Saya tidak memiliki kapasitas untuk menentukan tingkat risiko setiap ruas jalan secara teknis. Penilaian tersebut tentu harus dilakukan oleh instansi yang berwenang melalui pemeriksaan kondisi jalan, kajian keselamatan, serta data kecelakaan.

Namun, sebagai orang yang baru pertama kali melintasinya, saya merasakan langsung betapa besar kebutuhan akan kehati-hatian dan fasilitas keselamatan di sejumlah bagian jalur tersebut.

Jalan yang berada di sisi jurang tidak cukup hanya bisa dilewati. Pengguna jalan juga membutuhkan perlindungan yang memadai ketika menghadapi situasi darurat atau kemungkinan kendaraan keluar dari badan jalan.

Pagar pengaman bukan sekadar pelengkap agar jalan terlihat lebih bagus. Pada lokasi yang tepat, fasilitas itu merupakan salah satu unsur penting untuk membantu mengurangi risiko kendaraan terperosok.

Begitu pula rambu peringatan dan marka jalan. Keduanya membantu pengemudi mengenali kondisi medan, memperkirakan tikungan, serta mengantisipasi perubahan arah dan kemiringan jalan.

Semua itu harus disesuaikan dengan karakteristik medan dan hasil evaluasi teknis. Tidak semua titik membutuhkan penanganan yang sama, tetapi setiap titik rawan perlu mendapatkan perhatian berdasarkan tingkat risikonya.

Saya membayangkan betapa berbeda perasaan seseorang ketika melintasi jalan yang sama jika sisi jurang telah dilengkapi pengaman yang memadai, marka terlihat jelas, dan kerusakan badan jalan ditangani secara baik.

Mungkin rasa takut tidak akan sepenuhnya hilang. Medan pegunungan tetap memiliki tantangan alamiah. Namun, paling tidak, pengguna jalan dapat merasakan bahwa keselamatan mereka menjadi bagian dari perhatian pembangunan.

Di tengah perjalanan yang menegangkan itu, ada pemandangan lain yang membuat saya terdiam.

Di beberapa kawasan perbukitan, saya melihat dusun-dusun tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari. Rumah-rumah berdiri di antara bentang alam yang berbukit. Sebagian bangunannya tampak sederhana, dengan dinding papan dan tripleks.

Pemandangan itu menghadirkan perasaan yang berbeda. Di satu sisi, saya kagum melihat masyarakat yang tetap menjalani kehidupan di tengah kondisi geografis yang tidak mudah. Di sisi lain, saya mulai memikirkan bagaimana mereka memenuhi berbagai kebutuhan ketika akses jalan yang menghubungkan wilayah mereka saja menghadirkan tantangan tersendiri.

Bagaimana jika ada warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dengan segera? Bagaimana anak-anak pergi ke sekolah? Bagaimana hasil kebun dibawa menuju pasar? Bagaimana masyarakat menjangkau pusat pemerintahan untuk mengurus berbagai keperluan?

Saya tidak bisa menyimpulkan seluruh keadaan masyarakat hanya dari pemandangan yang terlihat selama perjalanan. Namun, dusun-dusun itu menyadarkan saya bahwa jalan tersebut memiliki arti jauh lebih besar daripada sekadar jalur kendaraan.

Jalan adalah penghubung kehidupan. Bagi seorang petani, jalan bisa menjadi akses untuk membawa hasil kebun dan memperoleh penghasilan. Bagi seorang pelajar, jalan menjadi bagian dari perjalanan menuju masa depan. Bagi seorang ibu yang membutuhkan pelayanan kesehatan, jalan dapat menentukan seberapa mudah ia menjangkau fasilitas yang dibutuhkan.

Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan, jalan juga menjadi penghubung dengan pelayanan publik dan berbagai kesempatan ekonomi.

Mereka bukan sedang berpetualang. Mereka tidak sedang mencari sensasi untuk menguji keberanian. Mereka hanya menjalani kehidupan sehari-hari.

Jika bagi saya yang baru pertama kali melewatinya perjalanan ini terasa begitu menegangkan, saya membayangkan bagaimana perasaan orang-orang yang harus menggunakan jalur tersebut berulang kali karena kebutuhan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan urusan keluarga.

Mereka tidak selalu memiliki pilihan untuk menghindarinya. Di situlah persoalan keselamatan jalan menjadi semakin penting. Ini bukan hanya urusan pengemudi, penumpang, atau orang yang datang dari luar wilayah. Ini menyangkut masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada konektivitas jalur tersebut.

Cerita kecelakaan yang menambah kecemasan

Setelah tiba di Namrole, saya sempat bertanya kepada beberapa warga mengenai kondisi jalur yang baru saja kami lewati.

Dari percakapan singkat itu, saya mendapat cerita bahwa kecelakaan kerap terjadi, bahkan disebut pernah menelan korban jiwa akibat kendaraan terperosok ke jurang.

Mendengar kabar itu, dan melihat langsung kondisi jalan itu membuat kecemasan saya semakin terasa.

Perjalanan yang sebelumnya sudah menguras pikiran kini meninggalkan pertanyaan yang lebih besar: apakah titik-titik rawan di jalur itu telah mendapatkan perhatian keselamatan yang memadai?

Pengalaman langsung dan cerita warga membuat saya menyadari bahwa upaya pencegahan tidak seharusnya menunggu sampai kecelakaan berikutnya terjadi.

Kita tidak perlu menunggu sebuah kendaraan jatuh ke jurang untuk mulai bertanya apakah jalan tersebut membutuhkan pengaman tambahan. Kita tidak perlu menunggu keluarga kehilangan orang yang dicintai untuk menyadari pentingnya memperbaiki titik rawan.

Pencegahan harus dimulai sebelum penyesalan datang. Tentu, penanganan jalan di kawasan pegunungan bukan pekerjaan sederhana. Kondisi geografis, struktur tanah, cuaca, pembiayaan, dan keterbatasan akses dapat menjadi tantangan tersendiri. Saya memahami bahwa pembangunan infrastruktur di wilayah kepulauan dengan bentang alam seperti Pulau Buru membutuhkan perencanaan dan upaya yang tidak ringan. Namun, justru karena medan yang dihadapi begitu menantang, aspek keselamatan perlu ditempatkan sebagai prioritas.

Pemeriksaan lapangan harus dilakukan untuk mengidentifikasi bagian jalan yang membutuhkan penanganan mendesak. Kerusakan badan jalan perlu diperbaiki sesuai tingkat urgensinya. Titik yang berdekatan dengan jurang harus dievaluasi, termasuk kebutuhan pemasangan pagar pengaman berdasarkan kajian teknis.

Rambu peringatan, marka jalan, dan penanda tepi jalan juga perlu diperhatikan. Jika terdapat bagian jalan yang rawan akibat longsoran, cuaca, atau gangguan lain, informasi mengenai kondisinya perlu disampaikan kepada masyarakat.

Pemeliharaan pun harus berlangsung secara berkelanjutan, bukan hanya ketika kerusakan telah meluas atau setelah keluhan disampaikan berulang kali.

Membayangkan perjalanan pulang, rasa takut itu kembali

Jika ada bagian perjalanan yang paling sulit saya lupakan, bukan hanya ketika mobil melewati tikungan tajam di Modan Mohe, melainkan juga ketika saya mulai membayangkan harus melewati jalur yang sama untuk kembali ke Namlea.

Setelah tiba di Namrole, saya justru merasakan kecemasan baru. Saya hampir tidak ingin kembali ke Namlea melalui jalur darat.

Keinginan itu muncul begitu saja setelah seluruh pengalaman yang saya rasakan sepanjang perjalanan. Jika hanya mempertimbangkan perasaan pribadi, saya ingin mencari cara lain untuk kembali. Perjalanan laut yang sebelumnya membawa saya ke Namlea tiba-tiba terasa jauh lebih menenangkan ketika dibandingkan dengan bayangan harus kembali melintasi pegunungan tersebut.

Namun, perjalanan tidak selalu memberi kita keleluasaan untuk memilih. Barang-barang kami masih berada di Namlea, tempat kami menginap. Urusan pekerjaan juga harus diselesaikan. 

Pada akhirnya, perjalanan kembali tetap menjadi sesuatu yang harus dipikirkan. Di situlah saya merasakan bahwa pengalaman di jalur Buru–Buru Selatan bukan sekadar rasa takut sesaat.

Ada tekanan psikologis yang tertinggal. Bayangan tentang tikungan, tanjakan, turunan, dan jurang terus muncul ketika saya memikirkan perjalanan pulang.

Saya mencoba meyakinkan diri bahwa setiap perjalanan harus dijalani dengan perhitungan dan kehati-hatian. Namun, pengalaman pertama itu telah memberikan kesan yang begitu kuat.

Menanjak kembali ke Modan Mohe, kabut asap pun menyelimuti kawasan itu. Saya hanya memandang garis putih di tengah jalan. Dan sesekali memberi arahan kepada pengemudi John de Silo. Kendaraan yang sejatinya berjalan dengan kilometer 60, kini diturunkan kecepatan drastis. Kami merayap di tengah gempulan asap Karhutla yang menyelimuti pegunungan Modan Mohe dan sekitarnya.

Teringat cerita mengenai jalur SS di Pulau Seram yang dikenal menantang oleh sebagian orang. Cerita-cerita tersebut sebelumnya membentuk gambaran tersendiri dalam pikiran saya tentang beratnya perjalanan darat di Maluku.

Namun, setelah merasakan sendiri jalur penghubung Buru dan Buru Selatan, saya memiliki pengalaman yang berbeda dari bayangan sebelumnya.

Berdasarkan pengalaman pribadi, jalur yang melintasi kawasan pegunungan Modan Mohe terasa jauh lebih menakutkan bagi saya dibandingkan gambaran yang pernah saya miliki tentang jalur SS di Pulau Seram.

Namun, rasa takut yang saya alami adalah pengalaman nyata. Saya merasakannya sendiri ketika kendaraan bergerak di antara kelokan pegunungan dan jurang yang terasa begitu dekat.

Ada tempat yang tampak indah ketika dilihat dari kejauhan, tetapi menghadirkan perasaan berbeda ketika kita berada langsung di tengah-tengahnya. Modan Mohe menjadi salah satu tempat yang memberikan pelajaran itu kepada saya.

Jalan yang aman adalah bagian dari pembangunan

Sepanjang perjalanan tersebut, pikiran saya perlahan bergerak dari persoalan pribadi menuju pertanyaan yang lebih luas tentang pembangunan daerah.

Kami datang untuk menjalankan agenda yang berkaitan dengan penguatan kinerja Bank Maluku Malut, koordinasi dengan pemerintah daerah, peningkatan kapasitas pegawai, dan penguatan integritas lembaga keuangan daerah.

Semua itu penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Maluku. Namun, pengalaman di jalur Buru–Buru Selatan mengingatkan saya bahwa pembangunan tidak dapat hanya dilihat dari sisi kelembagaan, keuangan, atau target ekonomi. Ada infrastruktur dasar yang turut menentukan apakah kegiatan ekonomi dan pelayanan publik dapat berlangsung dengan baik.

Bank daerah membutuhkan dukungan pemerintah daerah agar mampu memperkuat permodalan dan menjalankan perannya dalam perekonomian. Pada saat yang sama, masyarakat dan pemerintah daerah membutuhkan konektivitas yang memadai agar barang, manusia, dan pelayanan dapat bergerak dengan lebih mudah.

Jalan yang aman dan terpelihara dapat memperlancar distribusi hasil pertanian, mendukung perdagangan, memudahkan mobilitas warga, serta membantu pelayanan pemerintahan menjangkau masyarakat di wilayah yang jauh dari pusat kota.

Sebaliknya, jalan yang rusak atau tidak dilengkapi fasilitas keselamatan memadai dapat menambah beban perjalanan dan menghadirkan risiko bagi siapa pun yang melintasinya.

Karena itu, saya berharap Pemerintah Kabupaten Buru, Pemerintah Kabupaten Buru Selatan, Pemerintah Provinsi Maluku, serta Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Maluku dapat memberikan perhatian serius terhadap jalur penghubung kedua kabupaten tersebut sesuai kewenangan masing-masing.

Saya tidak bermaksud menyalahkan pihak tertentu atau mengabaikan pekerjaan pembangunan yang telah dilakukan. Saya hanya berharap kondisi di lapangan dapat kembali ditinjau, terutama pada titik-titik yang memiliki tikungan tajam, tanjakan dan turunan terjal, kerusakan badan jalan, serta sisi jalan yang berdekatan dengan jurang.

Pemeriksaan dan pemetaan titik rawan dapat menjadi langkah awal untuk menentukan prioritas penanganan. Setelah itu, perbaikan dapat dilakukan berdasarkan tingkat kebutuhan dan risiko, dengan tetap memperhatikan kondisi geografis serta hasil kajian teknis.

Saya percaya, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dalam satu waktu. Keterbatasan fiskal dan beratnya medan mungkin membuat pekerjaan harus dilakukan secara bertahap. Namun, langkah bertahap bukan berarti keselamatan boleh dikesampingkan. Jika ada titik yang memerlukan penanganan mendesak, titik itulah yang semestinya lebih dahulu mendapat perhatian. 

Pembangunan jalan tidak cukup diukur dari berapa kilometer badan jalan telah diaspal. Kita juga perlu melihat apakah jalan itu aman digunakan, apakah kerusakannya ditangani, apakah rambu dan pengamannya tersedia, serta apakah masyarakat dapat melintas tanpa menghadapi risiko yang sebenarnya bisa dikurangi melalui penanganan yang tepat.

Pada akhirnya, pembangunan harus dirasakan oleh manusia yang menggunakannya.

Mereka tidak sedang bertualang, mereka sedang mencari nafkah dan menjalani kehidupan

Ada satu hal yang terus teringat setelah perjalanan itu: saya hanyalah seorang pelintas yang datang ke Namrole untuk urusan pekerjaan.

Saya tidak tinggal di sepanjang jalur tersebut. Saya tidak harus melewatinya setiap hari. Setelah tugas selesai, saya berharap dapat kembali ke Namlea dan melanjutkan aktivitas seperti biasa. Namun, masyarakat yang tinggal di dusun-dusun sepanjang jalur itu tidak memiliki pengalaman yang sama dengan saya.

Bagi mereka, jalan tersebut adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada yang menggunakannya untuk bekerja, membawa hasil kebun, pergi ke sekolah, mencari pelayanan kesehatan, atau mengurus keperluan keluarga.

Mereka tidak sedang mencari pengalaman ekstrem. Mereka tidak sedang menguji nyali. Mereka hanya ingin sampai ke tujuan, menyelesaikan urusan, lalu kembali ke rumah dengan selamat.

Karena itu, keselamatan jalan tidak boleh dipandang sebagai kebutuhan tambahan yang bisa ditunda tanpa pertimbangan.

Seorang petani yang membawa hasil kebun berhak mendapatkan akses yang aman. Seorang anak yang pergi ke sekolah berhak menempuh perjalanan dengan risiko yang dapat ditekan. Seorang ibu yang membutuhkan pertolongan medis juga berhak memiliki akses menuju pelayanan kesehatan yang layak.

Kebutuhan mereka tidak boleh dianggap sebagai konsekuensi biasa yang harus diterima begitu saja karena tinggal di wilayah dengan medan yang sulit.

Justru karena kondisi geografisnya menantang, perhatian terhadap infrastruktur dan keselamatan perlu semakin diperkuat.

Jalan yang baik bukan hanya mempermudah kendaraan melintas. Jalan yang aman juga membuka kesempatan, memperluas akses ekonomi, mendekatkan pelayanan publik, dan membantu masyarakat menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Saya membayangkan, jika jalur tersebut semakin aman dan terpelihara, masyarakat akan memiliki lebih banyak ruang untuk bergerak dan mengembangkan kegiatan ekonominya. Perjalanan yang sebelumnya membutuhkan kewaspadaan ekstra dapat berlangsung dengan lebih nyaman, sementara pengemudi memiliki dukungan fasilitas yang membantu mereka menghadapi medan.

Tentu, kondisi alam tidak mungkin diubah sepenuhnya. Gunung akan tetap menjadi gunung, dan jalan berkelok mungkin tetap harus mengikuti kontur perbukitan. Tetapi, melalui perencanaan, pemeliharaan, dan fasilitas keselamatan yang tepat, risiko perjalanan dapat diupayakan untuk dikurangi.

Di situlah saya melihat arti penting pembangunan infrastruktur: bukan untuk menghilangkan seluruh tantangan alam, melainkan memastikan bahwa masyarakat tidak dibiarkan menghadapi tantangan itu tanpa dukungan yang memadai.

Modan Mohe akan tetap dalam ingatan

Saya tidak akan melupakan pengalaman pertama melintasi jalur darat dari Kabupaten Buru menuju Kabupaten Buru Selatan.

Saya datang dengan agenda pekerjaan yang telah direncanakan. Namun, perjalanan itu mempertemukan saya dengan keindahan alam Pulau Buru, memperlihatkan kehidupan masyarakat di kawasan perbukitan, dan menghadirkan ketegangan yang sulit saya sembunyikan ketika kendaraan melewati jalur terjal Modan Mohe.

Di seberang pegunungan Modan Mohe nampak terlihat Proyek Strategis Nasional Bendungan Way Apu yang kini sementara dikerjakan. 

Ada rasa kagum ketika melihat bentang alamnya. Ada keprihatinan ketika menyaksikan kehidupan masyarakat di balik perbukitan. Dan ada ketakutan ketika menyadari betapa dekatnya jurang dengan badan jalan di sejumlah titik.

Ketiga perasaan itu menyatu menjadi pengalaman yang akan terus saya ingat.

Saya menulis kisah ini bukan untuk menakut-nakuti siapa pun agar tidak melewati jalur Buru–Buru Selatan. Saya juga tidak bermaksud mengabaikan berbagai upaya pembangunan yang mungkin telah dilakukan.

Saya hanya ingin menceritakan apa yang saya lihat dan rasakan sebagai seseorang yang baru pertama kali melintasi jalur tersebut. Saya berharap pengalaman pribadi ini dapat menjadi pengingat bahwa keselamatan pengguna jalan harus selalu menjadi bagian penting dari pembangunan.

Sebab, jalan yang menghubungkan dua kabupaten seharusnya tidak hanya menjadi penghubung geografis. Ia harus menjadi penghubung harapan, kesempatan, pelayanan, dan kesejahteraan masyarakat.

Saya berharap, suatu hari nanti, perjalanan dari Namlea menuju Namrole atau sebaliknya dapat ditempuh dengan perasaan yang lebih tenang. Pengemudi tetap waspada menghadapi medan pegunungan, tetapi tidak harus dibebani kecemasan berlebihan akibat fasilitas keselamatan yang belum memadai.

Penumpang dapat menikmati keindahan alam Pulau Buru tanpa terus-menerus membayangkan kemungkinan terburuk. Masyarakat yang tinggal di sepanjang jalur itu pun dapat merasakan manfaat pembangunan melalui akses yang lebih aman dan terpelihara.

Bagi saya, perjalanan ini memang menjadi pengalaman pertama yang menguji nyali. Namun, pelajaran terbesarnya bukan tentang seberapa besar rasa takut yang mampu saya hadapi.

Pelajaran itu adalah tentang tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang lebih baik untuk melakukan perjalanan dengan selamat.

Sebab, jalan bukan hanya tentang kendaraan yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Di atasnya ada kehidupan, ada harapan, ada keluarga yang menunggu di rumah, dan ada orang-orang yang ingin kembali setelah menyelesaikan pekerjaan mereka.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah perjalanan bukan semata-mata ketika kita tiba di tujuan.

Keberhasilan itu terasa jauh lebih berarti ketika kita sampai dengan selamat, dapat kembali kepada keluarga, dan tidak meninggalkan duka di sepanjang jalan.

Modan Mohe akan tetap menjadi bagian dari ingatan saya. Bukan hanya karena jurangnya yang membuat nyali ciut, melainkan karena perjalanan itu mengingatkan saya bahwa di balik setiap jalan, ada keselamatan manusia yang harus dijaga. (Rully Puturuhu)

1 Menyukai postingan ini