-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Ambon, JejakInfo.id — Daerah (Musda) Partai Demokrat Provinsi Maluku yang segera digelar tidak sekadar menjadi agenda rutin lima tahunan. Di balik forum tersebut, tersimpan pertanyaan besar tentang arah perjalanan partai ke depan: siapa figur yang mampu membawa Demokrat Maluku memasuki babak baru dengan kepemimpinan yang lebih solid, berenergi, dan semakin dekat dengan kepentingan rakyat?
Pertanyaan itu membuat bursa calon Ketua DPD Partai Demokrat Maluku mulai menarik perhatian. Sejumlah nama disebut-sebut memiliki peluang, namun salah satu figur yang dinilai patut diperhitungkan secara serius adalah Muhamad Thaher Hanubun.
Nama Thaher bukanlah pendatang baru dalam panggung politik Maluku. Ia memiliki perjalanan panjang yang dibangun melalui berbagai tahapan, mulai dari dunia pendidikan, legislatif hingga eksekutif.
Sebelum terjun lebih jauh ke dunia politik, Thaher dikenal sebagai seorang guru di salah satu SMA di Jakarta. Dari dunia pendidikan itulah perjalanan politiknya kemudian dimulai.
Ia pernah dipercaya menjadi anggota DPRD Kabupaten Maluku Tenggara, sebelum kemudian melangkah ke tingkat provinsi dan duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Maluku.
Pengalaman di lembaga legislatif tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan politiknya. Thaher tidak hanya mengenal bagaimana aspirasi masyarakat diperjuangkan melalui jalur politik, tetapi juga memahami dinamika pengambilan keputusan dan hubungan antara wakil rakyat dengan konstituennya.
Karier politiknya kemudian terus berkembang hingga ia kembali ke daerah asal dan maju dalam kontestasi pemilihan kepala daerah.
Kini, Thaher memimpin Kabupaten Maluku Tenggara untuk periode kedua.
Dua periode kepemimpinan tersebut menjadi modal tersendiri. Sebab, menjadi kepala daerah bukan hanya soal memenangkan pemilihan, tetapi juga bagaimana mempertahankan kepercayaan masyarakat, mengelola pemerintahan, menghadapi berbagai kepentingan dan mengambil keputusan di tengah kompleksitas persoalan daerah.
Dalam konteks itulah, Thaher dinilai memiliki modal politik dan pengalaman kepemimpinan yang cukup kuat apabila ingin tampil dalam kontestasi Ketua DPD Demokrat Maluku.
Bukan Sekadar Populer
Seorang ketua partai di tingkat provinsi membutuhkan kapasitas lebih dari sekadar popularitas. Ia harus mampu membaca peta politik, memahami karakter masyarakat Maluku yang sangat beragam, membangun komunikasi dengan kader, menjaga hubungan antardaerah dan memiliki keberanian mengambil keputusan ketika organisasi menghadapi persoalan.
Tantangan tersebut semakin besar karena Maluku bukanlah satu wilayah dengan karakter yang seragam.
Maluku adalah provinsi kepulauan. Setiap kabupaten dan kota memiliki karakter sosial, budaya, geografis dan dinamika politik yang berbeda. Karena itu, pemimpin Demokrat Maluku ke depan harus mampu menjadi jembatan yang menyatukan seluruh kekuatan partai.
Dari Maluku Tenggara hingga ke Maluku Barat Daya, dari Ambon sampai ke Buru, dan dari Maluku Tengah hingga Seram Bagian Timur, seluruh kader harus merasa menjadi bagian dari satu rumah besar Demokrat Maluku.
Pengalaman Thaher sebagai kepala daerah di wilayah kepulauan menjadi salah satu modal yang relevan untuk menghadapi tantangan tersebut.
Ia memahami bagaimana karakter masyarakat kepulauan dibentuk oleh kondisi geografis, bagaimana komunikasi politik harus dibangun lintas wilayah, serta bagaimana kebijakan harus menyentuh masyarakat yang tersebar di berbagai pulau.
Pengalaman itu tentu tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai pilihan terbaik. Namun, pengalaman tersebut memberi bekal yang tidak dimiliki semua kandidat.
Momentum Regenerasi Demokrat Maluku
Musda Demokrat Maluku kali ini juga memiliki konteks penting. Elwen Roy Pattiasina telah menyatakan tidak lagi mencalonkan diri sebagai Ketua DPD Demokrat Maluku pada 2026 dan berharap muncul kader yang mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan partai.
Pernyataan tersebut menempatkan Musda kali ini sebagai momentum regenerasi. Namun, regenerasi tidak selalu harus dimaknai sebatas menghadirkan figur yang lebih muda. Regenerasi juga dapat berarti menghadirkan pengalaman baru, perspektif baru, pola komunikasi baru serta energi baru untuk membawa organisasi bergerak lebih jauh.
Di titik inilah nama Muhamad Thaher Hanubun menjadi menarik untuk diperhitungkan.
Ia tidak hanya membawa pengalaman sebagai bupati dua periode. Ia juga memiliki rekam perjalanan politik yang panjang, pernah berada di legislatif dan kini berada di eksekutif.
Kombinasi pengalaman tersebut dapat menjadi modal penting untuk memahami partai dari berbagai sisi.
Seorang ketua DPD harus memahami bagaimana memenangkan pertarungan politik, tetapi jauh lebih penting adalah memahami bagaimana membangun organisasi sebelum pertarungan itu dimulai.
Kemenangan tidak lahir secara tiba-tiba ketika masa kampanye datang. Ia dibangun dari konsolidasi kader, penguatan struktur, komunikasi yang terus-menerus dan kemampuan membaca kebutuhan masyarakat.
Karena itu, Demokrat Maluku membutuhkan figur yang tidak hanya mampu berbicara tentang kemenangan, tetapi juga memahami bagaimana kemenangan tersebut dibangun dari bawah.
Figur yang mampu merangkul kader, bukan mempertajam perbedaan.
Figur yang mampu berdiri di tengah ketika terjadi perbedaan pandangan.
Figur yang dapat membangun komunikasi dengan seluruh DPC tanpa melihat sekat wilayah.
Dan yang paling penting, figur yang mampu mengembalikan partai politik kepada hakikatnya: hadir dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Musda Bukan Sekadar Perebutan Kursi
Jika dalam Musda nanti muncul banyak nama, hal itu semestinya dipandang sebagai dinamika dalam kehidupan demokrasi internal partai.
Kompetisi adalah bagian dari proses organisasi. Namun, yang harus menjadi perhatian bukan sekadar siapa yang paling kuat memenangkan Musda, melainkan siapa yang paling mampu membuat Demokrat menjadi lebih kuat setelah Musda berakhir.
Sebab kemenangan dalam Musda hanya berlangsung satu hari. Sementara tanggung jawab memimpin partai berlangsung bertahun-tahun.
Ketua DPD terpilih nantinya akan berhadapan dengan pekerjaan yang jauh lebih besar: membangun konsolidasi, memperkuat struktur partai, merawat kader, melahirkan kader-kader baru, memperluas komunikasi publik dan memastikan Demokrat tetap hadir di tengah masyarakat.
Demokrat tidak boleh hanya sibuk menghitung suara ketika pemilu semakin dekat. Partai harus bekerja sepanjang waktu. Harus hadir ketika masyarakat membutuhkan. Harus mampu menyerap aspirasi dari level yang paling bawah. Dan harus mampu menerjemahkan aspirasi tersebut menjadi perjuangan politik yang nyata.
Dalam kebutuhan seperti itu, pengalaman Thaher Hanubun layak dipertimbangkan.
Bukan semata-mata karena ia seorang bupati. Bukan pula hanya karena ia telah dua periode memimpin Maluku Tenggara. Tetapi karena perjalanan politiknya menunjukkan bahwa ia telah melewati proses panjang, memahami dunia legislatif dan eksekutif, serta memiliki pengalaman langsung berhadapan dengan dinamika masyarakat.
Tentu saja, keputusan akhir tetap berada dalam mekanisme dan aturan organisasi Partai Demokrat. Dukungan DPC, proses penjaringan, mekanisme Musda hingga keputusan DPP merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan setiap kandidat menuju kursi Ketua DPD.
Karena itu, kemunculan nama Thaher Hanubun bukan berarti menutup ruang bagi figur lain. Justru sebaliknya, semakin banyak figur berkualitas yang tampil, semakin terbuka ruang bagi kader dan pemilik suara untuk menentukan pilihan berdasarkan kapasitas, pengalaman dan visi kepemimpinan.
Menentukan Arah Demokrat Maluku
Pada akhirnya, Musda Demokrat Maluku bukan sekadar memilih seorang ketua.
Musda adalah momentum menentukan arah perjalanan partai.
Demokrat membutuhkan pemimpin yang mampu menjadikan organisasi lebih solid, bukan semakin terfragmentasi. Membuka ruang bagi kader, bukan hanya mengandalkan lingkaran tertentu. Membangun kekuatan hingga ke daerah, bukan memusatkan perhatian hanya di ibu kota provinsi.
Maluku membutuhkan Demokrat yang hadir di tengah masyarakat. Demokrat yang mampu melahirkan kader-kader baru.
Demokrat yang memiliki daya tawar politik, tetapi tetap berpijak pada kepentingan rakyat.
Dan untuk pekerjaan besar tersebut, Muhamad Thaher Hanubun pantas mendapatkan ruang untuk diperhitungkan secara serius.
Jika para pemilik suara Demokrat Maluku mencari sosok yang telah teruji dalam kepemimpinan, memiliki pengalaman politik dan pemerintahan, memahami karakter masyarakat kepulauan serta mempunyai kapasitas membangun komunikasi lintas daerah, maka nama Thaher Hanubun sulit untuk diabaikan.
Musda akan memilih seorang ketua. Tetapi sesungguhnya, yang sedang dipilih adalah arah masa depan Demokrat Maluku.
Di antara sejumlah nama yang berpotensi menghiasi bursa pertarungan, Thaher Hanubun merupakan salah satu figur yang memiliki modal pengalaman dan kepemimpinan untuk dipertimbangkan memegang kemudi Demokrat Maluku menuju babak baru.
Sebab Demokrat tidak hanya membutuhkan seorang pemenang Musda. Demokrat membutuhkan pemimpin yang mampu membuat partai menjadi pemenang dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. (ji1)


