Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tenggara, Raudah bin Arif Hanoeboen. (Ist)

Mulai 2027, Budaya Kei Masuk Kurikulum Sekolah, Larvul Ngabal dan Ain Ni Ain Jadi Warisan Generasi Muda

8

Langgur, JejakInfo.id — Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara menyiapkan langkah strategis untuk menjaga identitas masyarakat Kei agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Mulai 2027, kurikulum muatan lokal berbasis budaya Kei direncanakan masuk ke sekolah, memperkenalkan hukum adat Larvul Ngabal, filosofi Ain Ni Ain, bahasa daerah, hingga tradisi leluhur kepada generasi muda sejak usia dini.

Kebijakan yang tengah disiapkan tersebut menjadi upaya pemerintah daerah menanamkan nilai-nilai budaya melalui pendidikan formal, sehingga warisan leluhur tidak sekadar dikenang dalam acara adat dan festival, tetapi juga dipahami serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tenggara, Raudah bin Arif Hanoeboen, menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam memastikan budaya Kei tetap hidup di tengah perubahan zaman.

“Budaya Kei, hukum adat Larvul Ngabal, dan filosofi Ain Ni Ain harus diwariskan kepada generasi muda agar tetap terjaga dan tidak tergerus perkembangan zaman,” ujar Raudah seusai mengikuti Karnaval Budaya dalam rangkaian Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2026 di Landmark Kota Langgur, Senin (19/10/2026).

Menurut Raudah, kurikulum tersebut dirancang untuk mengenalkan berbagai kekayaan budaya Kei, mulai dari hukum adat Larvul Ngabal, cerita rakyat, bahasa daerah, hingga tradisi yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

Pembelajaran akan disusun secara berjenjang, mulai dari taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA), dengan materi yang disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman peserta didik.

Dengan pendekatan itu, anak-anak tidak hanya diharapkan mengenal nama dan sejarah budayanya, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Filosofi Ain Ni Ain, misalnya, diharapkan semakin menguatkan kesadaran tentang persaudaraan, kebersamaan, dan pentingnya menjaga hubungan antarsesama.

Raudah berharap, pendidikan berbasis budaya mampu membentuk generasi muda yang mengenal akar identitasnya, menghormati adat istiadat, serta memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan masyarakat Kepulauan Kei.

Di balik rencana penguatan budaya melalui sekolah, Raudah juga menyoroti persoalan yang dinilainya perlu mendapat perhatian serius: semakin berkurangnya penggunaan bahasa Kei di kalangan anak-anak.

Ia mengaku prihatin karena masih menemukan anak-anak yang tinggal di desa, tetapi belum mampu menggunakan bahasa Kei untuk berkomunikasi, baik di lingkungan keluarga maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui festival, karnaval, atau kegiatan seremonial. Bahasa daerah harus tetap digunakan dan diwariskan dalam kehidupan sehari-hari agar tidak kehilangan tempat di tengah generasi penerus.

“Bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas kita. Karena itu, perlu ada upaya bersama agar generasi muda tetap mengenal dan menggunakan bahasa Kei dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Menurutnya, keluarga memiliki peran mendasar dalam membiasakan anak-anak berbicara menggunakan bahasa daerah. Sementara itu, sekolah dapat memperkuat kebiasaan tersebut melalui pembelajaran yang terarah dan berkelanjutan.

Karena itu, keberhasilan kurikulum muatan lokal nantinya tidak hanya bergantung pada kesiapan sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam menjaga penggunaan bahasa Kei di rumah maupun lingkungan sosial.

Salah satu peserta Karnaval Budaya menyongsong Festival Pesona Meti Kei (FPMK) Tahun 2026.

Ribuan Pelajar Dilibatkan dalam Festival Pesona Meti Kei

Selain menyiapkan kurikulum, Pemkab Maluku Tenggara juga mendorong pelestarian budaya melalui keterlibatan pelajar dalam Festival Pesona Meti Kei 2026 yang berlangsung pada 19–24 Oktober 2026.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Maluku Tenggara untuk melibatkan satuan pendidikan dalam berbagai agenda festival.

Salah satu kegiatan yang telah digelar adalah Karnaval Budaya pada Senin (19/10/2026). Sebanyak 60 regu dari satuan pendidikan jenjang TK hingga SMP di wilayah daratan Pulau Kei Kecil ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Karnaval ini menjadi ruang bagi para pelajar untuk mengenal sekaligus menampilkan kekayaan budaya masyarakat Kei kepada publik. Melalui keterlibatan langsung, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku yang ikut menjaga dan memperkenalkan tradisi daerahnya.

Para pelajar juga dilibatkan dalam Lomba Goyang Meti Kei serta persiapan pertunjukan kolosal yang dijadwalkan menjadi salah satu agenda utama pada puncak festival.

“Kami bersama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merencanakan penampilan sekitar 3.000 hingga 4.000 penari pada puncak FPMK,” ungkap Raudah.

Pertunjukan kolosal tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (24/10/2026), sekaligus menjadi panggung besar bagi generasi muda untuk menunjukkan kreativitas dan kebanggaan terhadap budaya Kei.

Raudah berharap, rangkaian FPMK tidak hanya menyemarakkan kegiatan pariwisata, tetapi juga memperkuat kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya leluhur. Di sisi lain, festival tersebut diharapkan mampu memperluas promosi pariwisata Maluku Tenggara kepada wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Melalui rencana penerapan kurikulum muatan lokal pada 2027 dan pelibatan pelajar dalam berbagai kegiatan budaya, Pemkab Maluku Tenggara berupaya memastikan bahwa Larvul Ngabal, Ain Ni Ain, bahasa Kei, dan tradisi leluhur tetap hidup dalam keseharian generasi penerus.

Sebab, menjaga budaya bukan sekadar mempertahankan peninggalan masa lalu, melainkan memastikan nilai-nilai yang membentuk jati diri masyarakat Kei tetap diwariskan kepada anak cucu. (ji4)

1 Menyukai postingan ini