Musda DPD II Golkar Memanas: Empat Daerah "Dipastikan" Head to Head

179

Ambon, JejakInfo.id — Dinamika politik di tubuh Partai Golkar Provinsi Maluku mulai menghangat. Musyawarah Daerah (Musda) DPD II di kabupaten/kota bukan sekadar agenda rutin, tetapi telah menjelma menjadi arena adu pengaruh antar kader.

Hingga kini, baru tiga daerah yang menuntaskan konsolidasi internal: Seram Bagian Barat, Buru Selatan, dan Buru. Sementara itu, delapan daerah lainnya tengah bersiap menggelar Musda dalam rentang waktu April hingga awal Mei, periode yang dipandang krusial untuk merapikan barisan sebelum memasuki tahapan politik berikutnya.

Sorotan tertuju pada empat daerah yang dipastikan menghadirkan pertarungan sengit dua kandidat atau head to head. Di sinilah suhu politik mulai terasa meningkat.

Di Kota Ambon, dua nama mencuat dan kini sama-sama bergerak senyap menghimpun dukungan: Dessy Kosita Hallauw dan Steven Izaac Risakotta. Keduanya belum banyak bicara ke publik, memilih fokus memperkuat basis dukungan demi memenuhi syarat pencalonan.

Persaingan serupa juga terjadi di Maluku Tengah. Rusbani Silawane dan Hasan Alkatiri kini aktif meraih simpati para pemilik suara. Pertarungan keduanya diprediksi berlangsung ketat, mengingat kekuatan dukungan yang relatif berimbang.

Di Maluku Tenggara, peta politik tak kalah menarik. Agrapinus Romatora (Nus Kei) akan berhadapan langsung dengan Mossad Kennedy Refra. Keduanya disebut telah mengantongi dukungan signifikan, tinggal menunggu keputusan forum Musda.

Sementara itu, di Kepulauan Aru, persaingan sudah masuk tahap lebih maju. Dua kandidat, Elsye Duganata dan Lutfi Kidi Tunggal, bahkan telah resmi memasukkan dokumen pendaftaran lengkap dengan dukungan politik ke panitia.

“Iya, saya telah mendaftar sesuai syarat dukungan. Prinsipnya saya siap,” ujar Elsye Duganata singkat.

Di sisi lain, Rusbani Silawane juga memberi sinyal kesiapannya, meski memilih menahan pernyataan hingga proses pendaftaran resmi dilakukan.

“Maaf, nanti saya akan sampaikan saat pendaftaran,” ucapnya.

Gelaran Musda kali ini tak hanya menjadi ajang perebutan kursi ketua DPD II. Lebih dari itu, ini adalah panggung bagi kader untuk menunjukkan kapasitas, meramu gagasan, sekaligus mengukur kekuatan politik di tingkat daerah.

Perbedaan pilihan tentu tak terhindarkan. Namun di balik rivalitas itu, tersimpan tujuan yang lebih besar: mengonsolidasikan kekuatan partai dan menyiapkan mesin politik menghadapi kontestasi besar pada Pemilu 2029.

Musda pun bukan sekadar forum organisasi. Ia telah berubah menjadi arena strategis. Tempat arah masa depan Golkar di Maluku mulai ditentukan.

Ketum Bahlil Serukan Jaga Soliditas

Sementara itu, Ketua Umum Bahlil Lahadalia dalam beberapa kesempatan saat membuka acara Musda DPD I menyerukan kepada setiap kader pentingnya menjaga soliditas internal partai. 

Ia mengingatkan agar tidak ada praktik pecat-memecat kader hanya karena perbedaan pilihan dalam dinamika politik Musda.

“Jangan sampai hanya karena perbedaan dukungan, lalu ada kader yang disingkirkan. Kita ini satu keluarga besar Golkar,” tegas Bahlil.

Menurutnya, perbedaan pandangan dalam forum Musda merupakan hal yang wajar. Namun, seluruh kader diminta tetap menjaga persatuan demi kekuatan partai ke depan.

Musda, kata Bahlil, bukan sekadar agenda rutin. Forum ini menjadi momentum penting untuk evaluasi dan konsolidasi kekuatan partai.

“Dari forum inilah akan lahir gagasan, strategi, dan kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan zaman,” tandasnya. (ji1)