Elia Ronny Sianressy, S.H

Musda Golkar Maluku: Pertarungan Gagasan Untuk Mengembalikan Marwah Partai dan Intrik Kaum Status Quo

1,405

By.
Elia Ronny Sianressy, S.H
(Advokat dan Mantan Ketua AMPG Provinsi Maluku)

Pemilihan Umum (Pemilu) pertama tahun 1955 menjadi tonggak sejarah demokrasi Indonesia. Dari 28 peserta, muncul empat kekuatan politik besar: PNI, Masyumi, NU, dan PKI masing-masing mewakili spektrum ideologi nasionalis, Islam modernis, Islam tradisional, dan komunis.

Di tengah kerasnya pertarungan ideologi saat itu, lahirlah Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) gagasan para jenderal TNI dan kalangan profesional yang terpanggil menjaga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

Golkar sejak awal bukan sekadar partai politik, melainkan gerakan kebangsaan yang menempatkan kepentingan rakyat dan negara di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Pada masa Orde Baru, Golkar tampil sebagai poros kekuatan politik nasional bersama SOKSI, KOSGORO dan MKGR. 

Setelah reformasi, banyak pihak memprediksi Golkar akan runtuh. Namun di bawah kepemimpinan Akbar Tanjung, partai ini justru bertransformasi menjadi partai modern dan tangguh melalui Paradigma Baru membuktikan bahwa Golkar tetap relevan di setiap zaman.

Golkar di Maluku: Dari Kejayaan Menuju Titik Balik

Sejarah mencatat, Golkar di Maluku pernah menjadi kekuatan politik yang disegani. Kursi Ketua DPRD Maluku secara berturut-turut dipegang oleh kader-kader terbaik: Ruswan Latuconsina, Zeth Sahuburua, Richard Louhenapessy, hingga Fatany Sohilauw.

Golkar kala itu bukan hanya mesin politik, tapi rumah besar bagi pemimpin daerah yang mengabdi untuk rakyat. Kadernya solid, loyal, dan menjadi tulang punggung pemerintahan daerah. 

Namun lima tahun terakhir, partai ini kehilangan arah. Di bawah kepemimpinan yang tak lagi menyentuh akar rumput, Golkar seperti mati suri. Hidup segan, mati tak mau. Perolehan suara menurun tajam. Posisi di DPRD Maluku merosot, bahkan tergeser oleh partai-partai baru yang belum genap berumur satu dekade. 

Ini bukan sekadar kekalahan politik, tapi krisis kepercayaan. Kader resah. Pengurus kebingungan. Loyalis kecewa. Dan di tengah kegelapan itu, sebuah cahaya muncul.

Rohalim Boy Sangadji: Nafas Baru, Harapan Baru

Rohalim Boy Sangaji (RBS), sosok muda, enerjik, dan berintegritas tinggi yang kini hadir membawa semangat pembaruan Partai Golkar di Maluku. Dia (RBS-red) bukan sekadar figur, tetapi gerakan kesadaran baru di tubuh partai. Ia datang bukan untuk mengulang masa lalu, tetapi membangun masa depan dengan nilai-nilai kejujuran, kerja keras, dan pengabdian.

RBS dikenal karena rekam jejak kepemimpinan yang bersih, tegas, dan berprestasi. Kedekatannya dengan kader di akar rumput. Kemampuannya merangkul dan menyatukan berbagai faksi internal, serta komitmennya untuk mengembalikan marwah Partai Golkar sebagai rumah besar perjuangan rakyat.

Ia hadir dengan roh yang sama seperti para pendahulu besar Golkar mereka yang tidak berpolitik untuk kekuasaan, melainkan untuk pengabdian. Di tangan RBS, Golkar Maluku berpeluang bangkit dengan wajah baru: modern, inklusif, dan kembali menjadi kekuatan utama rakyat Maluku.

Seruan Untuk DPD II se-Maluku: Pilih Perubahan, Bukan Kepentingan

Kini seluruh DPD II Partai Golkar se-Maluku dihadapkan pada momen bersejarah. Apakah kita akan terus membiarkan partai ini dikendalikan oleh segelintir orang yang sibuk mempertahankan status quo, memperkaya diri, dan menyingkirkan kader potensial? Ataukah kita memilih membuka lembaran baru bersama pemimpin yang tulus, visioner, dan berkomitmen terhadap kebangkitan partai?

Wahai para pemegang mandat, di tangan anda masa depan Partai Golkar Maluku. Kini bukan saatnya ragu, bukan waktunya bermain aman. Ini adalah panggilan sejarah untuk menyelamatkan dan membangkitkan kembali beringin tua agar kembali rindang menaungi rakyat.

Bersama RBS, Rebut Kembali Marwah Golkar Maluku

Mari rapatkan barisan. Satukan tekad dan langkah. Bangkitkan kembali militansi dan semangat juang kader di seluruh penjuru Maluku. Karena bersama Rohalim Boy Sangadji (RBS), Golkar tidak sekadar bertahan tetapi kembali memimpin. 

Ia adalah simbol kebangkitan, energi perubahan, dan harapan baru bagi seluruh kader Partai Golkar di Bumi Para Raja.

Ayo Bung, Rebut Kembali!
Bersama RBS, Golkar Maluku Bangkit dan Menang!. (*)