-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Banda Neira, JejakInfo.id — Perjalanan rombongan Mendagri Tito Karnavian dan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa ke Banda, Selasa (25/11), pagi, berubah menjadi sebuah kisah pulang kampung penuh kehangatan dan kenangan.
Dari ruang VVIP Bandara Pattimura yang masih ramai Gubernur Hendrik bersama Mendagri Tito memulai perjalanan panjang menuju Banda. Rombongan bergerak ke Pelabuhan Hurnala-Tulehu, lalu naik KM Cantika Lestari. Lima jam mengarungi laut dengan ombak yang tak bersahabat tak menghalangi semangat mereka untuk tiba di gugusan pulau penuh sejarah itu.
Ombak besar sempat menggoyang kapal, namun mereka disambut dermaga Banda yang teduh, dan warga yang tersenyum lebar di bawah terik matahari.
Di Banda Neira, sambutan hangat menunggu. Di bawah terik matahari, ratusan orang berdiri berderet di bibir pelabuhan, tersenyum, melambaikan tangan, dan memeriahkan kedatangan pejabat negara dengan tarian petik pala serta pengalungan syal bermotif Maluku. Banda, seperti biasa, memperlihatkan kehangatannya tanpa ragu.
Setelah jamuan siang di Hotel Maulana yang melegenda, Gubernur Hendrik bersama Ketua TP-PKK, Maya Baby Lewerissa, memisahkan diri dari rombongan. Ada kerinduan lama yang ingin ditebus: pulang ke Negeri Lonthoir, tempat orang tuanya berjejak, saat mengabdi sebagai guru SD.
Perjalanan singkat dengan speedboat membawa mereka ke dermaga Lonthoir. Dari sana, puluhan anak tangga menuntun Gubernur menuju rumah yang pernah ditempati kedua orang tuanya pada tahun 1950-an. Setiap langkah adalah langkah pulang, dengan senyum dan sapa hangat untuk warga yang spontan mengenali sosok pemimpin yang ternyata bagian dari mereka.
Kunjungan ke rumah itu berubah menjadi momen haru. Pemilik rumah menyambut dengan mata berbinar, mengingat kembali sosok Gerson Lewerissa dan Agustina Wattimena, guru yang dulu mendidik anak-anak Lonthoir dan membesarkan kedua kakak Gubernur Hendrik semasa kecil.
“Kenal bapa Econ Lewerissa dan mama Au Wattimena? Itu beta pung bapa deng mama,” ujar Gubernur Hendrik di sela kunjungan Lonthoir.
“Iya, dong dua orang bae paskali,” jawab sang ibu rumah dengan senyum mengenang.
Usai bertukar cerita hampir setengah jam, perjalanan nostalgia berlanjut ke sumur pusaka Lonthoir. Dengan melepas alas kaki, Gubernur dan istri membasuh muka dan meneguk air sumur tua itu—ritual yang sejak dulu diyakini membawa kebaikan. Beberapa anggota DPRD yang ikut pun melakukan hal yang sama.
Di dekat sumur, perhatian sang Gubernur tertuju pada seorang ibu dan anak yang tampak kurang gizi. Tanpa ragu ia menghampiri, menanyakan kondisi mereka, dan memberikan dorongan agar sang ibu rutin memeriksakan kesehatan anaknya. Maya Baby Lewerissa juga memberi tali asih—simbol kecil kepedulian, namun berarti besar bagi sang keluarga.
Perjalanan di Lonthoir berlanjut ke Benteng Hollandia dan kawasan “pohon sejuta umat” dengan latar Gunung Api Banda yang memukau. Warga mengajak berfoto, dan sang Gubernur tak menolak satu pun ajakan.
“Mari foto sama-sama. Beta ini basudara dong punya pemimpin,” ujar Gubernur Hendrik dengan dialeg Melayu-Ambon, meruntuhkan sekat antara pejabat dan rakyat.
Di jalan kampung, para pemuda menabuh alat musik tradisional. Gubernur Hendrik berhenti, menikmati denting nada yang membangunkan ingatan tentang masa lalu orang tuanya.
“Jaga tradisi ini baik-baik untuk anak cucu,” pesannya.
Di akhir kunjungannya, ia meminta doa sederhana dari warga Lonthoir. Doa agar diberi umur panjang, kesehatan, dan kekuatan untuk membawa Maluku melangkah maju.
Kedatangan Mendagri dan Gubernur ke Banda kali ini sekaligus untuk membuka Banda Heritage Festival 2025, yang puncaknya digelar Rabu 26 November 2025, malam.
Tetapi bagi Gubernur Hendrik Lewerissa, hari itu lebih dari sekadar agenda kerja. Ia pulang ke kampung sejarah orang tuanya, dan disambut bak keluarga yang kembali menemukan rumah. (*)
