Marla Beatriecs Kailola, S.P. (Ist)

Nusalaut–Ambalau: Model Moderasi Berbasis Gandong untuk Indonesia dan Dunia

55

By.
MARLA BEATRIECS KAILOLA, S.P
(Bendahara Presidium NUSAMBA)

Di peta besar Nusantara, Nusalaut dan Ambalau mungkin hanya tampak sebagai dua titik kecil di tengah laut Maluku. Tetapi dalam memori sejarah dan imajinasi kultural orang Maluku, keduanya adalah dua saudara yang tidak pernah benar-benar berpisah: sang kakak yang tinggal di Pulau Nusalaut di gugusan Lease, dan sang adik yang bergeser ke Pulau Ambalau di Buru Selatan, seolah “dicerai-beraikan” oleh jatuhnya sebutir sukun di laut, namun dipersatukan kembali oleh darah dan ingatan. 

Mereka bukan sekadar tetangga pulau, melainkan Gandong–saudara sedarah–sebuah kategori kekerabatan yang kedalamannya melampaui sekadar ikatan Pela antarnegeri. Secara sosiologis dan keagamaan, keduanya tampak kontras. Nusalaut tumbuh sebagai komunitas yang seluruh warganya memeluk Kekristenan, sementara Ambalau berkembang sebagai masyarakat yang seluruh penduduknya beragama Islam. Namun jika kita mendengarkan cara kedua pulau ini “berbicara” lewat praktik hidup sehari-hari, yang terdengar bukan narasi perbedaan, melainkan dialek persaudaraan.

Setiap Idulfitri, warga Ambalau mengirim daging qurban menyeberangi laut untuk kakaknya di Nusalaut; pada saat Natal, masyarakat Nusalaut membalas dengan bingkisan pangan dan doa untuk keselamatan adiknya di seberang. Relasi timbal-balik ini menunjukkan bahwa bagi mereka, iman bukan alasan untuk menjaga jarak, melainkan alasan untuk saling menjaga. Dalam dua dekade terakhir, pengalaman Nusalaut–Ambalau bergerak seiring dengan upaya nasional memperkuat moderasi beragama.

Di Maluku, Kementerian Agama dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) mengarusutamakan moderasi dengan menekankan empat indikator: komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan penghargaan pada kearifan lokal. Di sinilah, Gandong antara Nusalaut dan Ambalau menjadi penting: nilai-nilai seperti saling membantu, menahan diri dari kekerasan, menjaga martabat saudara, dan mengutamakan musyawarah sudah dihidupi jauh sebelum istilah “moderasi beragama” diformalkan dalam dokumen negara. Kehadiran lembaga seperti FKUB justru menemukan pijakan praksisnya ketika belajar dari kasus-kasus konkret semacam ini.

Dimensi ekonomi memperkuat argumen bahwa moderasi beragama bukan hanya soal harmoni simbolik. Stabilitas relasi lintas iman di Maluku berkontribusi pada iklim sosial yang relatif kondusif, dan ini menjadi salah satu faktor yang menyokong tren penurunan kemiskinan di provinsi ini dalam beberapa tahun terakhir.

Di ruang-ruang seperti Nusalaut dan Ambalau, modal sosial yang bersumber dari Gandong terkonversi menjadi kepercayaan antar pelaku ekonomi, kelancaran perdagangan laut rakyat, pengembangan sektor perikanan dan rempah, sampai pada embrio wisata budaya damai. Dengan kata lain, moderasi beragama berbasis Gandong tidak hanya memelihara kohesi sosial, tetapi juga membuka ruang bagi pembangunan yang lebih amanah dan inklusif.

Dari perspektif kajian sosial, pengalaman dua pulau ini dapat dipahami melalui konsep social capital sebagai bentuk bridging social capital yang kuat: kepercayaan dan jejaring lintas identitas memungkinkan masyarakat mengelola perbedaan tanpa kekerasan, sekaligus bekerja sama dalam isu-isu praktis seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Moderasi di sini bukan hasil kampanye sesaat, melainkan etika hidup yang diwariskan lintas generasi. 

Karena itu, Nusalaut–Ambalau layak ditempatkan sebagai sebuah laboratorium moderasi berbasis Gandong yang memberi pelajaran penting bagi desain kebijakan kebangsaan: bahwa upaya merawat kerukunan tidak bisa hanya bertumpu pada regulasi, tetapi harus bertemu dengan kekuatan memori kolektif, adat, dan kekerabatan yang hidup di tengah masyarakat.

Momentum Halal Bihalal NUSAMBA pada 14 April 2026 menjadi titik tekan simbolik dari seluruh narasi ini. Di sana, kakak dari Nusalaut dan adik dari Ambalau seakan pulang ke rumah yang sama, membawa berkat dari dua tradisi

iman yang berbeda, namun menunduk kepada sumber kemanusiaan yang satu. Di tengah dunia yang kian ditandai polarisasi dan radikalisme–termasuk yang menjalar melalui ruang digital. 

Kisah dua pulau kecil di Maluku ini menawarkan narasi tandingan yang kuat: bahwa moderasi beragama paling efektif lahir dari kekerabatan budaya yang dihidupi dalam praktik sehari-hari. Dari Nusalaut dan Ambalau, Maluku mengirim pesan ke Indonesia dan dunia: yang berbeda bisa tetap Gandong, dan dari sanalah damai dan pembangunan yang paripurna menemukan pijakannya. "Potong di Kuku Rasa Di Daging."