Manajemen Perumda Panca Karya telah menerapkan sistem pembayaran ruang VIP-Bisnis armada ferry milik perusahaan jalur Hunimua-Waipirit menggunakan sistem Qris/Barcode. (Ist)

Panca Karya Tutup Celah Kebocoran, Pembayaran VIP-Bisnis Ferry Hunimua-Waipirit Beralih ke QRIS

30

Ambon, JejakInfo.id — Perusahan Umum Daerah (Perumda) Panca Karya mulai membenahi sistem pembayaran layanan kelas VIP dan Bisnis pada kapal penyeberangan lintasan Hunimua-Waipirit.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah menerapkan pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Digitalisasi pembayaran ini bukan sekadar perubahan metode transaksi dari tunai ke non-tunai. Lebih dari itu, kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah Perumda Panca Karya untuk mempersempit celah kebocoran penerimaan, sekaligus memastikan setiap transaksi tercatat dan dapat dipantau secara lebih transparan.

Direktur Operasional Perumda Panca Karya, Sjaifudin Goo mengatakan, penerapan QRIS diawali dengan pemasangan perangkat serta sosialisasi kepada penumpang dan petugas kapal.

“Kemarin, Minggu (30/8/2026), tim dari Panca Karya bersama Bank Mandiri turun melakukan sosialisasi. Perangkat QRIS juga sudah dipasang sehari sebelumnya,” kata Sjaifudin di ruang kerjanya, Senin (31/8/2026).

Sjaifudin menjelaskan, sosialisasi perdana dilakukan di KMP Tanjung Kuako, khususnya terkait mekanisme pembayaran layanan VIP. Setelah itu, sosialisasi dilanjutkan di KMP Sardinela. Sementara sosialisasi di KMP Tatihu belum dapat dilakukan karena kapal tersebut sedang off beroperasi.

Menurut Sjaifudin, penerapan QRIS untuk sementara diarahkan pada layanan VIP dan Bisnis. Nantinya sistem tersebut akan diberlakukan pada seluruh kapal penyeberangan yang berada di bawah pengelolaan Perumda Panca Karya.

Perubahan sistem pembayaran ini memang membutuhkan masa penyesuaian. Sebab, selama ini penumpang telah terbiasa dengan pola pembayaran langsung ketika membeli tiket, di mana layanan tertentu sudah termasuk dalam transaksi tiket.

“Respon awal dari penumpang memang berbeda karena belum terbiasa. Biasanya mereka langsung membeli tiket dan sudah termasuk di dalamnya. Sekarang untuk kelas VIP dan Bisnis pembayarannya menggunakan QRIS,” paparnya.

Untuk memudahkan transaksi, lanjut Sjaifudin, barcode QRIS nantinya akan ditempatkan pada sejumlah titik strategis, termasuk di pintu bagian dalam maupun luar ruang VIP.

Panca Karya menargetkan uji coba sistem tersebut dapat dilakukan dalam waktu dekat. Namun, penerapan penuh masih menunggu penyelesaian sejumlah kendala teknis pada aplikasi.

“Rencananya besok uji coba, tetapi kemungkinan kita harapkan mulai berlaku Minggu depan. Masih ada kendala teknis di aplikasi yang sementara dibenahi,” ungkap Sjaifudin.

Pantauan Direksi Secara Langsung

Yang menjadi pembeda dalam sistem baru ini adalah transaksi tidak hanya tercatat secara digital, tetapi juga dirancang agar dapat dipantau oleh jajaran Direksi Perumda Panca Karya.

Sjaifudin memastikan, setelah aplikasi benar-benar siap dan beroperasi penuh, data transaksi akan terintegrasi sehingga jajaran Direksi dapat mengetahui besaran penerimaan secara langsung.

“Ketika aplikasinya sudah on and ready, akan terintegrasi langsung ke jajaran Direksi setiap saat terkait besaran dana yang masuk,” tegasnya.

Sistem tersebut diharapkan dapat memutus ketergantungan terhadap transaksi tunai yang selama ini memiliki celah pengawasan lebih besar.

Dengan transaksi digital, setiap pembayaran memiliki jejak dan dapat direkap secara sistematis. Hal ini sekaligus memudahkan proses pengawasan dan evaluasi terhadap penerimaan dari layanan VIP dan Bisnis.

Manajemen bersama pihak bank melakukan sosialisasi di atas armada Perumda Panca Karya.

Bukan Sekadar Digitalisasi

Sjaifudin menegaskan, penerapan QRIS merupakan bagian dari pembenahan menyeluruh di lini operasional Perumda Panca Karya.

“Ini pembenahan di lini sektor, untuk mengatasi kebocoran keuangan di setiap karcis pada waktu-waktu sebelumnya,” ujarnya.

Karena itu, QRIS tidak semata-mata dipandang sebagai fasilitas pembayaran bagi penumpang. Sistem tersebut juga menjadi instrumen pengendalian internal perusahaan.

Dengan seluruh transaksi tercatat secara elektronik, perusahaan memiliki basis data yang lebih jelas untuk mengetahui jumlah transaksi, nilai penerimaan, hingga mencocokkannya dengan jumlah pengguna layanan.

Langkah ini diharapkan dapat memperkecil ruang terjadinya selisih antara transaksi yang dilakukan dengan penerimaan yang masuk ke perusahaan.

Gandeng Bank Mandiri, Perkuat Kolaborasi dengan ASDP

Dalam implementasinya, Perumda Panca Karya menggandeng Bank Mandiri sebagai bagian dari kerja sama lintas sektor untuk mendukung penerapan sistem pembayaran digital.

Kolaborasi juga dilakukan dalam konteks peningkatan layanan penyeberangan bersama ASDP pada lintasan Hunimua-Waipirit.

Panca Karya berharap transformasi pembayaran ini tidak berhenti pada penggunaan teknologi semata, tetapi mampu mendorong perubahan budaya kerja dan tata kelola perusahaan.

“Harapannya ini bisa membantu mewujudkan transparansi dan akuntabilitas yang menjadi harapan Direksi Panca Karya,” kata Sjaifudin.

Dengan demikian, mulai diberlakukannya QRIS untuk kelas VIP dan Bisnis menjadi salah satu langkah konkret Perumda Panca Karya dalam memperbaiki sistem penerimaan.

Jika uji coba berjalan sesuai rencana, sistem pembayaran non-tunai tersebut akan diperluas secara bertahap ke seluruh kapal ferry yang berada di bawah pengelolaan Perumda Panca Karya.

Dari pembayaran tunai menuju transaksi digital, Panca Karya ingin memastikan setiap rupiah penerimaan tercatat, terpantau, dan dapat dipertanggungjawabkan. (ji6)

1 Menyukai postingan ini