Sekda Maluku, Sadali Ie, membuka perlombaan Tari Orlapei-Sahureka Reka Berkreasi, Tari Katreji, dan Tari Samrah di Taman Budaya, Karang Panjang, Kota Ambon, Jumat (25/9). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pattimura Art and Culture Festival. (Ist)

Pattimura Art and Culture Festival Hidupkan Tari Tradisional Maluku, Sekda: Budaya Harus Dijaga Generasi Muda

7

Ambon, JejakInfo.id — Warisan budaya lokal kembali bergema di panggung Taman Budaya, Karang Panjang, Kota Ambon, Maluku. Semangat melestarikan seni tradisional dan memperkuat persaudaraan antargenerasi menjadi warna utama Pattimura Art and Culture Festival yang digelar, Jumat (25/9/2026).

Festival yang dibuka oleh Sekretaris Daerah Maluku, Sadali Ie, itu menghadirkan sejumlah perlombaan seni tradisional, yakni Tari Orlapei-Sahureka Reka Berkreasi, Tari Katreji, dan Tari Samrah.

Kegiatan tersebut melibatkan pelajar tingkat SD, SMP, SMA, sanggar seni, hingga masyarakat adat di Kota Ambon. Kehadiran berbagai kelompok usia ini menunjukkan bahwa seni tradisional tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga dapat terus hidup melalui kreativitas generasi muda.

Dalam sambutannya, Sadali Ie menegaskan pentingnya kegiatan kebudayaan sebagai ruang untuk mengenalkan, merawat, dan mengembangkan identitas Maluku di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan arus budaya global membawa banyak pengaruh dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, generasi muda perlu memiliki akar budaya yang kuat agar mampu menyaring berbagai pengaruh dari luar tanpa kehilangan jati diri.

Festival budaya, kata Sadali, bukan sekadar kegiatan perlombaan. Di dalamnya terdapat proses pembelajaran, pewarisan nilai, sekaligus upaya mempertemukan generasi muda dengan kekayaan budaya daerahnya sendiri.

Ia juga menekankan bahwa seni dan budaya memiliki kekuatan untuk mempererat hubungan sosial masyarakat Maluku. Nilai kebersamaan, gotong royong, saling menghargai, dan semangat Orang Basudara perlu terus dirawat melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat secara luas.

Sadali berharap Pattimura Art and Culture Festival dapat menjadi ruang yang konsisten untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya Maluku sekaligus mendorong para pelaku seni untuk terus berkreasi.

Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara, Arnold Gomies, mengatakan Maluku merupakan sebuah entitas kultural yang memiliki kekayaan warisan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal atau indigenous knowledge yang sangat kuat.

Namun, perkembangan global membawa masuk berbagai budaya dan perubahan sosial yang berlangsung tanpa batas.
“Karena itu, budaya kita harus disaring dan dijaga sebagai bagian dari tanggung jawab anak negeri,” ujar Gomies.

Menurutnya, momentum Hari Jadi Provinsi Maluku yang sudah dirayakan beberapa waktu lalu juga harus dimaknai sebagai kesempatan untuk melakukan reinventing Maluku atau menemukan kembali kekuatan Maluku dengan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya dan semangat Orang Basudara.

Ia menjelaskan, festival tersebut dirancang untuk mewujudkan generasi muda Maluku yang berkarakter, berbudaya, serta memiliki kesadaran kolektif dalam semangat persaudaraan.

Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai budaya dan persaudaraan kepada pelajar dan masyarakat, meningkatkan apresiasi terhadap seni tari tradisional Maluku, serta membuka ruang bagi kreativitas dan ekspresi budaya generasi muda.

“Budaya tidak akan bertahan hanya karena disimpan. Budaya harus dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan,” katanya.

Foto bersama.

Gomies menambahkan, kegiatan ini juga memberikan manfaat yang lebih luas. Bagi pelaku seni dan sanggar budaya, festival menjadi ruang untuk menunjukkan karya dan mengembangkan kreativitas.

Sementara bagi masyarakat, keterlibatan dalam kegiatan budaya dapat membuka peluang pemberdayaan ekonomi, termasuk bagi pelaku UMKM lokal.

Di sisi lain, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, pelaku seni, sanggar budaya, dan komunitas diharapkan semakin memperkuat semangat Orang Basudara.

Menurut Gomies, keberlanjutan kegiatan seperti ini pada akhirnya akan memperkuat identitas budaya Maluku. Masyarakat, khususnya generasi muda, diharapkan semakin bangga terhadap seni dan tradisi daerahnya.

Festival budaya juga dinilai memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif melalui keterlibatan UMKM dan sektor pariwisata berbasis budaya.

Karena itu, ia berharap Pattimura Art and Culture Festival tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi agenda budaya yang berkelanjutan dan memberi manfaat bagi masyarakat Maluku.

Adapun perlombaan yang digelar dalam Pattimura Art and Culture Festival meliputi Tari Orlapei-Sahureka Reka Berkreasi, Tari Katreji, dan Tari Samrah.

Ketiga tarian tersebut menjadi panggung bagi pelajar, sanggar seni, dan masyarakat untuk menunjukkan kreativitas sekaligus membuktikan bahwa kekayaan budaya Maluku masih memiliki tempat yang kuat di tengah kehidupan generasi masa kini.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Rektor UIN Ambon Prof. Dr. Abidin Wakano, M.Ag, Ketua Dewan Pengawas Panca Karya Johny Wattimena, Tenaga Ahli Gubernur Saleh Thio, Kadis Pariwisata Kota Ambon Christian Tukloy. (ji7)

1 Menyukai postingan ini