-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Oleh:
Hengki Birahy, S.K.M
(Tokoh Masyarakat Negeri Hulaliu)
DENTING tifa dan gerak gagah tarian cakalele kembali menggema di Negeri Hulaliu, Jumat (15/5/2026). Di negeri adat yang masih teguh memegang warisan leluhur itu, peringatan Hari Pattimura bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan panggilan hati untuk menjaga jati diri orang Maluku di tengah derasnya arus zaman.
Setiap tanggal 15 Mei, masyarakat Maluku memperingati perjuangan pahlawan besar Thomas Matulessy atau yang lebih dikenal sebagai Pattimura. Peringatan ini bukan hanya sekadar mengenang sejarah perjuangan melawan penjajahan, tetapi juga menjadi momentum untuk membangkitkan semangat persatuan, keberanian, dan cinta tanah air di tengah perkembangan zaman modern.
Di Negeri Hulaliu, peringatan Hari Pattimura memiliki makna yang sangat mendalam karena masyarakat masih menjaga nilai adat, budaya, dan semangat perjuangan para leluhur. Negeri Hulaliu dikenal sebagai salah satu negeri adat di Maluku yang tetap mempertahankan tradisi budaya hingga saat ini. Dalam peringatan Hari Pattimura, masyarakat biasanya mengadakan berbagai kegiatan budaya seperti upacara adat, doa bersama, pertunjukan seni tradisional, hingga tarian cakalele. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan kepada para pejuang yang telah mengorbankan hidup demi kebebasan rakyat Maluku.
Dalam pandangan masa sekarang, semangat Pattimura tidak lagi dimaknai hanya sebagai perjuangan fisik melawan penjajah. Generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda, seperti pengaruh globalisasi, perkembangan teknologi, perpecahan sosial, serta menurunnya kepedulian terhadap budaya lokal. Karena itu, nilai perjuangan Pattimura harus diterjemahkan dalam bentuk yang relevan dengan kehidupan modern.
Semangat keberanian Pattimura dapat diwujudkan melalui keberanian generasi muda untuk menolak pengaruh negatif, menjaga persatuan, dan membangun daerah dengan pendidikan serta kreativitas. Anak-anak muda di Negeri Hulaliu memiliki tanggung jawab untuk melestarikan bahasa daerah, adat istiadat, dan budaya leluhur agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Teknologi modern seharusnya menjadi alat untuk memperkenalkan budaya Maluku kepada dunia, bukan menjadi penyebab hilangnya identitas budaya.
Selain itu, peringatan Hari Pattimura di masa kini juga menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga. Dalam kehidupan modern yang semakin individualis, nilai “hidop orang basudara” yang diwariskan leluhur moyang Negeri Hulaliu menjadi sangat penting. Semangat kebersamaan, gotong royong, dan saling menghormati harus terus dijaga agar masyarakat tetap hidup dalam damai dan persaudaraan.
Bagi masyarakat Negeri Hulaliu, mengenang Pattimura berarti menjaga martabat negeri. Perjuangan saat ini bukan lagi mengangkat senjata, melainkan melawan kemiskinan, kebodohan, narkoba, konflik sosial, dan berbagai tantangan moral yang dapat merusak generasi muda. Pendidikan, pelayanan masyarakat, dan pembangunan karakter menjadi bentuk perjuangan baru di era modern.
Peringatan Hari Pattimura juga dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi Negeri Hulaliu kepada masyarakat luas. Budaya adat, tarian tradisional, musik daerah, serta nilai kehidupan masyarakat Maluku dapat menjadi kekuatan budaya dan pariwisata yang membanggakan. Dengan demikian, semangat perjuangan Pattimura terus hidup bukan hanya dalam cerita sejarah, tetapi juga dalam kehidupan nyata masyarakat sehari-hari.
Dalam berbagai kegiatan adat, masyarakat Hulaliu masih mempertahankan tradisi seperti: Tarian cakalele (hahi), musik tradisional, upacara adat negeri, bahasa daerah, budaya gotong royong.
Peringatan Hari Pattimura di Negeri Hulaliu tahun 2026 dipandang sebagai momentum penting untuk memperkuat identitas budaya masyarakat sekaligus membangun kesadaran generasi muda terhadap sejarah perjuangan Thomas Matulessy alias Pattimura.
Kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam peringatan tersebut antara lain: Upacara Peringatan Hari Pattimura. Upacara dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada jasa para Pahlawan Maluku Thomas Matulessy yang telah berjuang demi kebebasan rakyat. Pertunjukan Budaya dan Tarian Cakalele (Hahi) menjadi simbol keberanian dan semangat perjuangan masyarakat Maluku. Penampilan budaya ini juga menjadi sarana pelestarian tradisi leluhur di Negeri Hulaliu.
Seminar dan diskusi sejarah kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai sejarah perjuangan Thomas Matulessy dan relevansinya dalam kehidupan modern. Kegiatan Sosial Masyarakat kerja bakti, pelayanan sosial, dan gotong royong menjadi bentuk nyata penerapan nilai persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Di era modern tahun 2026, bentuk perjuangan telah mengalami perubahan. Jika dahulu perjuangan dilakukan melawan penjajahan fisik, maka saat ini masyarakat menghadapi tantangan sosial dan budaya yang tidak kalah berat. Beberapa tantangan masa kini antara lain, Pengaruh negatif media sosial, lunturnya budaya daerah, menurunnya semangat gotong royong, penyalahgunaan teknologi, narkoba dan pergaulan bebas, kurangnya minat terhadap sejarah daerah. Karena itu, semangat Pattimura perlu diterapkan dalam bentuk perjuangan moral dan pembangunan masyarakat. Generasi muda harus memiliki keberanian untuk menjaga identitas budaya, meningkatkan pendidikan, serta membangun persatuan masyarakat. Untuk mengatasi tantangan tersebut diperlukan kerja sama antara pemerintah negeri, tokoh adat, gereja, sekolah, dan masyarakat.
Pada akhirnya, Hari Pattimura bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi sebuah pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Negeri Hulaliu dan seluruh masyarakat Maluku dipanggil untuk terus menjaga persatuan, menghormati jasa para leluhur, dan membangun masa depan yang lebih baik dengan tetap berpegang pada nilai budaya dan iman. Semangat Pattimura harus terus menyala dalam hati generasi sekarang maupun generasi yang akan datang: semangat keberanian, persaudaraan, dan cinta terhadap tanah Maluku. Peringatan Hari Pattimura di Negeri Hulaliu tahun 2026 memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat modern. Peringatan ini bukan hanya mengenang sejarah perjuangan masa lalu, tetapi juga menjadi sarana memperkuat persatuan, budaya, dan identitas masyarakat Maluku.
Dalam perspektif masa sekarang, semangat Pattimura diwujudkan melalui perjuangan membangun pendidikan, menjaga budaya daerah, memanfaatkan teknologi secara positif, serta menjaga persaudaraan masyarakat. Generasi muda memiliki peran besar dalam melanjutkan nilai perjuangan tersebut agar semangat Pattimura tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Saran :
1. Peringatan Hari Pattimura perlu melibatkan generasi muda secara aktif.
2. Budaya daerah harus terus dilestarikan melalui pendidikan dan kegiatan adat.
3. Media sosial perlu dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya Negeri Hulaliu.
4. Masyarakat harus menjaga semangat persatuan dan “hidop orang basudara”.
Peringatan Hari Pattimura tahun 2026 akhirnya menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diwariskan. Dari Negeri Hulaliu, semangat Pattimura terus dijaga agar tetap hidup dalam hati generasi muda — semangat keberanian, persaudaraan, dan cinta yang tak pernah padam untuk tanah Maluku. (*)


