-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Ambon, JejakInfo.id – Keselamatan penumpang di atas kapal bukan hanya bergantung pada kondisi armada yang prima, tetapi juga pada kesiapan awak kapal dalam menghadapi situasi darurat.
Menyadari hal tersebut, Perumda Panca Karya terus memperkuat kapasitas sumber daya manusianya melalui pelatihan keselamatan bagi awak kapal.
Sabtu (20/6), Perumda Panca Karya menggelar Pelatihan Pertolongan Pertama (First Aid Training) bagi awak kapal KMP Tanjung Koako dan KMP Sardinela. Pelatihan ini melibatkan Tim Medis Rumah Sakit Otto Kuyk sebagai narasumber utama.
Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan serta kesiapsiagaan Anak Buah Kapal (ABK) dalam menghadapi berbagai kondisi darurat, mulai dari kecelakaan hingga gangguan kesehatan yang kerap terjadi selama pelayaran.
Di dunia pelayaran, kecepatan dan ketepatan dalam mengambil tindakan sering menjadi faktor penentu keselamatan. Karena itu, kemampuan memberikan pertolongan pertama menjadi keterampilan penting yang wajib dimiliki setiap awak kapal.
Selama pelatihan, para ABK dibekali berbagai materi penting, mulai dari dasar-dasar pertolongan pertama, penanganan korban pingsan, sesak napas, luka terbuka, patah tulang, hingga teknik pembidaian sederhana. Tidak hanya itu, mereka juga mendapatkan praktik langsung Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR), penanganan korban tersedak, serta simulasi keadaan darurat medis di atas kapal.
Metode pelatihan dikemas secara interaktif melalui penyampaian materi, diskusi, hingga simulasi lapangan. Hal ini membuat para peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan langkah-langkah penanganan secara langsung.
Dalam sesi evaluasi, terungkap bahwa terdapat tiga gangguan kesehatan yang paling sering dialami penumpang selama pelayaran, yakni asam lambung, sesak napas, dan tersedak.
Kasus asam lambung kerap ditandai dengan nyeri ulu hati, mual, hingga muntah. Sementara sesak napas biasanya dipicu riwayat asma, kelelahan, maupun kondisi cuaca selama pelayaran. Adapun kasus tersedak membutuhkan respons cepat karena berkaitan langsung dengan saluran pernapasan.
Melihat kondisi tersebut, Tim Medis RS Otto Kuyk memberikan penekanan khusus pada penanganan tiga kasus tersebut agar ABK mampu bertindak cepat dan tepat sebelum penumpang mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Selain itu, pelatihan juga menyoroti penanganan korban jatuh ke laut (Man Overboard/MOB). Para ABK dilatih untuk melakukan pemeriksaan kondisi korban setelah berhasil dievakuasi, mulai dari mengecek kesadaran, pernapasan, denyut nadi, hingga langkah penanganan awal terhadap korban yang mengalami hipotermia atau kehilangan kesadaran.
Salah satu sesi yang mendapat perhatian besar adalah praktik CPR bagi korban jatuh ke laut yang tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan setelah dievakuasi. Seluruh peserta diberi kesempatan untuk mempraktikkan teknik penyelamatan tersebut sesuai prosedur yang benar.
Antusiasme para ABK terlihat sepanjang pelatihan berlangsung. Mereka aktif mengikuti sesi materi, diskusi, maupun simulasi, menunjukkan keseriusan dalam meningkatkan kompetensi demi keselamatan pelayaran.
Melalui kegiatan ini, Perumda Panca Karya berharap seluruh awak kapal KMP Tanjung Koako dan KMP Sardinela semakin sigap dalam menghadapi berbagai situasi darurat di laut.
Dengan kesiapan ABK yang semakin baik, keselamatan dan kenyamanan penumpang selama pelayaran diharapkan dapat terus terjaga, sekaligus meminimalkan risiko yang mungkin terjadi dalam operasional kapal. (ji2)


