-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Masohi, JejakInfo.id — Rumah Pastori 5 Jemaat GPM Masohi kini bukan lagi sekadar bangunan tempat tinggal bagi pelayan gereja.
Di balik peresmian dan pentahbisannya, Rabu (12/8), tersimpan harapan agar rumah tersebut menjadi bagian dari perjalanan pelayanan, penguatan iman, sekaligus ruang yang semakin mendekatkan para pelayan dengan kehidupan jemaat.
Suasana sukacita dan kebersamaan terasa dalam acara Pentahbisan dan Peresmian Rumah Pastori 5 Jemaat GPM Masohi.
Kehadiran pemerintah daerah, pimpinan gereja, aparat keamanan, para pelayan jemaat, hingga warga gereja memperlihatkan bahwa kehidupan beragama dan pembangunan masyarakat di Maluku Tengah berjalan dalam semangat kebersamaan.
Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir hadir dalam momentum tersebut bersama Sekretaris Umum Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM Pdt. Max Takaria, Kepala Seksi Bimas Kristen Kementerian Agama Maluku Tengah Gloria Sitania, Ketua Klasis GPM Masohi Pdt. Veby Songupnuan, perwakilan Polres Maluku Tengah, serta mantan Wakil Bupati Maluku Tengah Marlatu Leleury bersama istri.
Turut hadir Anggota Majelis Pekerja Klasis (MPK) GPM Masohi Nova Anakotta, para pendeta dan Ketua Majelis Jemaat se-Klasis Masohi, para penatua, diaken, warga jemaat, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Bagi Sekretaris Umum MPH Sinode GPM Pdt. Max Takaria, pentahbisan rumah pastori memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar peresmian sebuah bangunan.
Menurutnya, keberadaan pastori merupakan salah satu penunjang penting bagi kelancaran pelayanan pastoral. Rumah tersebut menjadi tempat bagi para pelayan gereja untuk beristirahat dan menjalani kehidupan sehari-hari, sekaligus mendukung mereka dalam menjalankan tugas pelayanan di tengah umat.
Namun, Takaria mengingatkan bahwa jangan sampai keberadaan pastori justru membuat pelayanan gereja berjarak dari jemaat.
“Pastori hanya rumah singgah bagi pelayan. Rumah sesungguhnya ada di rumah-rumah jemaat,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa gereja tidak hidup dari bangunan-bangunan fisik semata. Gereja justru menemukan maknanya dalam kehidupan umat, dalam keluarga-keluarga jemaat, serta dalam hubungan antarsesama yang terus dirawat melalui pelayanan.
Karena itu, rumah pastori diharapkan menjadi titik awal untuk menghadirkan pelayanan yang lebih dekat, hangat, dan menyentuh kebutuhan jemaat.
Pemerintah Tak Hanya Bicara Pembangunan
Di tengah momentum keagamaan itu, Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak cukup jika hanya diukur dari berdirinya gedung, panjangnya jalan, atau pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk ikut menciptakan masyarakat yang memiliki kehidupan spiritual, moral, dan sosial yang kuat.
“Pemerintahan bukan hanya bergerak di bidang pembangunan dan ekonomi saja, tetapi juga pertumbuhan iman jemaat,” kata Zulkarnain.
Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan pentingnya hubungan yang harmonis antara pemerintah dan lembaga keagamaan. Pemerintah membutuhkan peran gereja dalam membangun karakter masyarakat, sementara gereja membutuhkan lingkungan sosial yang aman dan kondusif agar pelayanan dapat berjalan dengan baik.
Dalam konteks itulah, peresmian Rumah Pastori 5 Jemaat GPM Masohi tidak hanya menjadi agenda internal gereja. Momentum tersebut juga menjadi gambaran tentang bagaimana pemerintah, lembaga keagamaan, aparat keamanan, dan masyarakat dapat berdiri bersama dalam membangun kehidupan sosial yang lebih kuat.
Kehadiran jajaran Kementerian Agama, Polres Maluku Tengah, pemerintah daerah, serta unsur pimpinan gereja memperlihatkan adanya ruang komunikasi yang terus dibangun di antara berbagai elemen masyarakat.
Bagi Maluku Tengah yang memiliki keragaman kehidupan sosial dan keagamaan, sinergi semacam ini menjadi modal penting. Kerukunan tidak hanya dijaga melalui pernyataan, tetapi juga melalui kehadiran dan kerja bersama di tengah masyarakat.
Rumah Pastori 5 Jemaat GPM Masohi pun diharapkan menjadi lebih dari sekadar tempat tinggal seorang pelayan gereja. Rumah itu diharapkan menjadi bagian dari denyut pelayanan—tempat berangkatnya pengabdian, ruang untuk mempersiapkan pelayanan, dan salah satu titik yang memperkuat hubungan antara pelayan gereja dengan warga jemaat.
Pada akhirnya, yang ingin dibangun bukan hanya sebuah rumah, melainkan kehidupan jemaat yang semakin hidup dalam persekutuan, pelayanan, dan kepedulian.
Sebab ketika bangunan telah berdiri dan diresmikan, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai: memastikan rumah tersebut benar-benar menghadirkan pelayanan yang dekat dengan umat dan ikut menumbuhkan kehidupan masyarakat Maluku Tengah yang beriman, rukun, serta saling menguatkan. (ji1)
