-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026




PESAN dari anak kecil di pedalaman pulau Seram untuk Om Wakil yang duduk di atas Perahu, agar Perahu Ini Seng Tenggelam Karena Dilobangi Ombak Mulut Sendiri.
Om wakil gubernur yang katong samua sayangi, beta bilang dengan hormat, sebagai salah satu anak negeri yang dari kecil minum air sageru, makan sagu deng ikan asar, dan tidur dengan suara ombak Seram.
Om bilang "kita sudah dua tahun menipu rakyat". Terus terang, itu pernyataan yang jujur tapi jujur yang memalukan. Jujur seperti orang yang baru sadar setelah dua tahun berlayar, lalu bilang kepada penumpang, penumpang eeee Maaf, sebenarnya beta seng tahu arah berlayar.
Om wakil gubernur tersayang. Masalahnya bukan pada ketidakmampuan. Tapi pada ucapan om sendiri. Sekali om sebut kami menipu rakyat Maluku, maka rakyat kecil di pelosok Seram, di negeri-negeri adat, di pasar Mardika, akan tersenyum pahit. Mereka tidak butuh pengakuan dosa. Mereka butuh kerja. Mereka tidak butuh drama politik. Mereka butuh ikan di piring, bukan kata efisiensi anggaran sebagai tameng.
Om pikir dengan berkata jujur kami penipu, lantas masyarakat Maluku akan bertepuk tangan? Seolah olah rakyat akan mendukung om dan mencela yang lain, Ohhh seng bagitu, om. Mereka akan bertanya, Dua tahun om pura-pura kerja, lalu siapa yang rugi? Kami. Siapa yang malu? Kami juga, karena wakil kami adalah penipu dan mengakuinya sendiri, bukankah om sendiri yang mengaku sebagai penipu, ia kan?
Dan om masih punya keberanian berkata “terpaksa menipu untuk kedua kalinya”? Wah, om. Itu bukan keterbukaan. Itu seperti maling yang bilang, “Saya terpaksa mencuri karena pintu tidak dikunci. Rakyat Maluku itu cerdas, om. Mereka tahu mana yang karena keadaan, mana yang karena tidak ada strategi. Juga rakyat bisa membedakan mana pencitraan murahan dengan cara playing victim.
Om adalah tim, gubernur dan wakil itu seperti dua dayung dalam satu perahu. Kalau satu dayung malah sibuk mengaku dayungnya patah di depan penumpang, sementara dayung lain masih berusaha mengayuh, maka perahu tidak maju om, ia mutar-mutar di tempat, lalu om bilang itu anggaran terbatas.
Om wakil, sebelumnya katong orang Seram mendukung om dan bangga memiliki wakil gubernur dari pulau Seram, jadi dari pada om hanya menebar curhatan seperti anak kecil yang membuat rakyat bingung, sebaiknya om perbaiki komunikasi tim. Jangan merusak kepercayaan publik dengan pernyataan bunuh diri politik karena yang mati bukan om saja, tapi harapan rakyat Maluku. Kalau memang Om Wakil sudah salah, perbaiki kerja, bukan perbaiki narasi. Rakyat butuh jalan keluar, bukan pengakuan manis yang berujung pahit. Om bilang “jujur lebih baik dari menutupi.” Beta setuju. Tapi jujur yang membangun adalah “Kami gagal mencapai target A, karena B. Maka mulai besok, kami akan C. Bukan “Kami penipu, maaf, besok kami mungkin menipu lagi.”
Akhir kata, om wakil. Di Pulau Seram, katong bilang “Orang yang benar itu tidak perlu bilang ‘saya benar.’ Orang yang penipu itu juga tidak perlu bilang ‘saya penipu.’ Cukup diam dan perbaiki kerja.”
Kalau om terus bicara seperti ini, rakyat Maluku akan berpikir lebih baik tidak punya wakil gubernur, daripada punya wakil cengeng yang sibuk mengaku-ngaku.
Selamat bekerja, om. Laut masih panjang dan sangat dalam. Jangan tenggelamkan perahu karena om tidak bisa menjaga mulut. Katong tunggu bukti nyata, bukan pengakuan dosa seperti anak kecil. Salam dari anak pedalaman pulau Seram untuk Maluku yang lebih baik. (Gerard Wakanno, Putra Nusa Ina)



