-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Suli, JejakInfo.id — Universitas Pattimura (Unpatti) memperkuat langkah menuju kolaborasi riset internasional untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan, terutama dalam pengelolaan sumber daya kelautan, pertanian, dan wilayah kepulauan.
Komitmen itu ditegaskan melalui penyelenggaraan The 2nd International Conference on Environmental Sciences, Agriculture, and Sustainability (ICESAS) 2026, yang menjadi puncak peringatan Dies Natalis ke-22 Program Pascasarjana Unpatti.
Konferensi internasional yang berlangsung di The Natsepa Resort, Rabu (28/10/2026), dibuka secara resmi oleh Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, S.H., LL.M.
Forum ini mempertemukan akademisi dan peneliti dari Indonesia serta sejumlah negara untuk bertukar gagasan, memperluas jejaring penelitian, dan mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan bagi kepentingan masyarakat.
Mengusung tema “Innovative and Collaborative Approaches to Optimizing Marine, Agricultural and Archipelagic Resources for Sustainable National Development”, ICESAS 2026 menempatkan inovasi dan kolaborasi sebagai kunci untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Direktur Program Pascasarjana Unpatti, Prof. Dr. Richard B. Luhulima, S.T., M.T., mengatakan konferensi ini menjadi ruang penting untuk membangun jejaring akademik sekaligus merumuskan solusi atas persoalan lingkungan dan tantangan pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, Maluku sebagai provinsi kepulauan memiliki peluang besar dalam pengembangan sektor kelautan, pertanian, dan sumber daya pesisir. Namun, potensi tersebut harus dikelola dengan dukungan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, serta kerja sama lintas disiplin dan lintas negara.
Tantangan perubahan iklim, kerentanan ekosistem, ketahanan pangan, hingga keterbatasan penguasaan teknologi membutuhkan penelitian yang tidak berhenti di ruang akademik, tetapi mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
“Menjawab tantangan tersebut tidak cukup hanya dengan mengandalkan sumber daya alam dan teknologi. Dibutuhkan inovasi, pemikiran yang bertanggung jawab, serta kolaborasi internasional yang kuat,” ungkap Richard.
Ia menegaskan, keberhasilan penelitian tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah publikasi ilmiah. Lebih dari itu, hasil penelitian harus mampu melahirkan inovasi, memberikan masukan bagi penyusunan kebijakan, serta menghasilkan solusi yang dapat diterapkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Karena itu, melalui ICESAS 2026, Program Pascasarjana Unpatti terus membuka peluang kemitraan dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dan institusi internasional untuk memperkuat riset yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah maupun nasional.
ICESAS 2026 menghadirkan enam pembicara utama dari Indonesia dan sejumlah negara, yakni Prof. Dr. Wilma Latuny dari Universitas Pattimura, Indonesia; Amanda Reichelt-Brushett dari Southern Cross University, Australia; Koichi Murata dari Nihon University, Jepang; Saon Banerjee dari Bidhan Chandra Krishi Viswavidyalaya, India; Peter Starausz dari Corvinus University of Budapest, Hungaria; serta Aditya Wibawa Sakti dari Waseda University, Jepang.
Kehadiran para pakar tersebut membuka kesempatan bagi peserta untuk memperluas perspektif dan bertukar pengalaman penelitian mengenai pengelolaan sumber daya alam, pengembangan pertanian, perlindungan lingkungan, serta keberlanjutan pembangunan di wilayah kepulauan.
Konferensi ini diikuti 137 peserta, terdiri atas 81 peserta secara daring dan 56 peserta yang hadir langsung. Partisipasi internasional melibatkan delegasi dari Filipina, Irak, Jepang, Malaysia, India, Timor-Leste, Australia, dan Hungaria.
Keberagaman peserta tersebut menjadi peluang bagi Unpatti untuk memperluas jaringan akademik sekaligus membangun kerja sama penelitian yang melampaui batas negara.
Salah satu agenda penting dalam konferensi ini adalah penandatanganan Implementation Agreement oleh 15 ketua program studi di lingkungan Program Pascasarjana Unpatti bersama dua mitra internasional, yakni Prof. Amanda Reichelt-Brushett dari Southern Cross University, Australia, dan Prof. Koichi Murata dari Nihon University, Jepang.
Kesepakatan tersebut diarahkan untuk memperkuat pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi melalui penelitian bersama, peningkatan publikasi ilmiah internasional, pertukaran pengetahuan, penguatan kompetensi masyarakat, serta kerja sama di bidang pendidikan dan pelestarian lingkungan.
Kerja sama ini diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi berlanjut menjadi program nyata yang memberikan manfaat bagi institusi, peneliti, mahasiswa, dan masyarakat.
Bagi Program Pascasarjana Unpatti, kemitraan internasional menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kualitas penelitian sekaligus memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan pembangunan di Maluku.
Ketua Panitia ICESAS 2026, Prof. Dr. Christina Sososutiksno, S.E., M.Si., Ak., CA., menjelaskan bahwa konferensi internasional tersebut merupakan puncak rangkaian peringatan Dies Natalis ke-22 Program Pascasarjana Unpatti yang telah berlangsung sejak Juli 2026.
Sejumlah kegiatan telah dilaksanakan, antara lain Pasca Green Campus, syukuran Program Pascasarjana, kuliah tamu bersama pakar asal Jepang Prof. Shinsuke Fujiwara, Ph.D., serta Expo Riset Inovasi yang berlangsung sejak awal pencanangan hingga 28 Oktober 2026.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan akademik yang produktif, memperkenalkan hasil penelitian dan inovasi, serta mendorong keterlibatan sivitas akademika dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Melalui ICESAS 2026, Program Pascasarjana Unpatti menegaskan komitmennya untuk memperluas kolaborasi internasional dan mendorong penerapan hasil penelitian bagi pembangunan berkelanjutan.
Harapannya, kekayaan sumber daya Maluku tidak hanya menjadi potensi yang dibicarakan, tetapi dapat dikelola secara bijaksana melalui dukungan riset, inovasi, dan kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta generasi mendatang. (ji6)

