-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026




Ambon, JejakInfo.id — Batabual, sebuah kecamatan di Kabupaten Buru yang kaya potensi, namun kini masih terperangkap dalam keterisolasian yang terasa seperti ironi panjang.
Ketua DPD NasDem Kabupaten Buru, Muhamad Daniel Rigan, tidak hanya sekadar menyampaikan pendapat. Ia membunyikan alarm yang selama ini seolah diabaikan.
Batabual bukan daerah yang kekurangan sumber daya. Lautnya memberi hasil, kebunnya menghasilkan, dan warganya bekerja tanpa kenal lelah. Namun semua itu seakan terhenti di batas akses. Untuk mencapai pusat ekonomi di Namlea, masyarakat harus menantang gelombang dengan speed boat. Pilihan mahal sekaligus berisiko. Tak jarang, hasil bumi justru dibawa hingga Ambon, menambah beban biaya dan waktu.
Di sinilah gagasan menghadirkan kapal feri dari Namlea ke Batabual menemukan urgensinya. Ini bukan proyek ambisius yang berjarak dari rakyat, melainkan solusi konkret yang berpijak pada kebutuhan sehari-hari.
Rencana pembangunan dermaga di Desa Ilath, ibu kota kecamatan dan titik lain yang representatif, bisa menjadi pintu keluar dari isolasi yang telah terlalu lama mengikat.
Logikanya sederhana: ketika darat belum membuka jalan, laut harus menjadi jembatan. Negara tak bisa terus menunggu kondisi ideal untuk bertindak. Infrastruktur bukan sekadar deretan proyek besar di atas kertas, melainkan kehadiran nyata di tengah kebutuhan rakyat.
Lebih jauh, pembukaan akses ini bukan hanya soal mobilitas, tetapi tentang menggerakkan ekonomi dari akar. Batabual memiliki potensi di sektor pertanian, perkebunan, hingga perikanan. Namun tanpa akses, potensi itu seperti mesin tanpa bahan bakar. Feri akan menjadi penggerak awal, memungkinkan hasil kebun dan tangkapan laut langsung mengalir ke pasar di Namlea dengan biaya lebih ringan. Sebaliknya, kebutuhan pokok dapat masuk dengan harga yang lebih terjangkau.
Efeknya tidak berhenti di situ. Ketika akses terbuka, aktivitas ekonomi akan menggeliat. UMKM tumbuh, perdagangan bergerak, dan nilai tambah tercipta di tanah sendiri, bukan bocor ke luar daerah. Konektivitas juga mengirim sinyal kuat kepada investor bahwa Batabual bukan lagi wilayah terpencil, melainkan kawasan yang siap berkembang.
Langkah politik pun mulai digerakkan. Muhamad Daniel Rigan telah menginstruksikan Fraksi NasDem di DPRD Kabupaten Buru untuk segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Artinya, wacana ini telah bergeser menjadi dorongan kebijakan. Kini, keputusan ada di tangan pemerintah daerah. Apakah akan bergerak cepat atau kembali membiarkan waktu berjalan tanpa perubahan.
Jika pemerataan pembangunan benar-benar menjadi komitmen, maka Batabual adalah ujian yang tak bisa dihindari. Feri bukan lagi pilihan alternatif, melainkan kewajiban yang tak boleh ditunda. Sebab setiap penundaan adalah perpanjangan dari ketimpangan.
Seruan ini telah disampaikan. Kini yang ditunggu bukan lagi kata, melainkan tindakan. Rakyat Batabual sudah terlalu lama bersabar dan kesabaran, seperti akses yang tertutup, ada batasnya.
Di Dermaga Batabual, MDR Bagikan 400 Pelampung
Pelabuhan Merah Putih di Desa Batabual, Kabupaten Buru, mendadak hidup dengan suasana yang berbeda pada awal 2026. Di antara riuh mesin speedboat dan debur ombak yang tak pernah benar-benar tenang, ada sesuatu yang lebih hangat dari biasanya. Kepedulian yang hadir nyata di tengah kehidupan para pekerja laut.
Ratusan jaket pelampung tersusun rapi di dermaga. Bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk segera digunakan. Di hadapan para pengemudi dan pemilik speedboat, Ketua DPD NasDem Buru sekaligus Owner Dabe Beaute, Muhamad Daniel Rigan bersama sang istri, Bella Shofie, menyerahkan 400 pelampung. Alat sederhana yang bisa menjadi pembeda antara selamat dan celaka di laut.
Bagi masyarakat Batabual, laut bukan sekadar pemandangan. Ia adalah jalan hidup. Setiap hari, mereka menantang gelombang demi mengangkut penumpang dan hasil bumi. Namun di balik rutinitas itu, selalu ada risiko yang mengintai. Ombak tinggi, angin kencang, dan minimnya perlengkapan keselamatan yang selama ini menjadi persoalan nyata.
Bantuan ini lahir dari kegelisahan yang lama dirasakan, bukan sekadar aksi simbolik. Terlalu sering kabar duka datang dari laut. Terlalu banyak perjalanan yang berangkat tanpa jaminan pulang dengan selamat.
Momentum kepulangan ke kampung halaman untuk merayakan Tahun Baru 2026 dimanfaatkan oleh Muhamad Daniel Rigan dan Bella Shofie untuk turun langsung ke lapangan. Mereka tidak memilih seremoni di ruang tertutup, tetapi berdiri di dermaga. Di tempat, di mana risiko itu benar-benar dirasakan.
“Hari ini kami mengantarkan langsung 400 jaket pelampung ke Pelabuhan Merah Putih,” ujar Bella Shofie, singkat, namun penuh makna.
Hari itu, pelampung-pelampung itu bukan lagi sekadar perlengkapan keselamatan. Ia menjelma menjadi simbol perhatian, sekaligus pengingat bahwa nyawa para pekerja laut tidak boleh dipertaruhkan oleh keterbatasan.
Di Pelabuhan Merah Putih, harapan itu kini berlayar bersama setiap speedboat yang berangkat. Harapan sederhana: setiap perjalanan berakhir dengan kepulangan utuh, tanpa kehilangan siapa pun. (ji1/ji5)



