Rektor Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd menghadiri upacara perayaan Hardiknas yang berlangsung di lapangan Upacara Universitas Pattimura, Sabtu (2/5). (Ist)

Rektor Unpatti Pimpin Upacara Hardiknas 2026, Tegaskan Kampus Harus Jadi Pusat Solusi

11

Ambon, JejakInfo.id — Suasana khidmat menyelimuti lapangan upacara Universitas Pattimura, Sabtu (2/5), saat Rektor Unpatti, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd., memimpin langsung peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026. Momentum ini tak sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi panggung penegasan arah baru pendidikan tinggi di Indonesia.

Di hadapan sivitas akademika, Prof. Leiwakabessy membacakan pidato Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, sekaligus menandai dimulainya Pekan Seni Mahasiswa Kampus (PEKSIMIKA) Unpatti. Dua agenda itu berpadu dalam satu pesan kuat: kampus harus hidup, bergerak, dan memberi dampak nyata.

Mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, Hardiknas tahun ini menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen bangsa. Tema tersebut selaras dengan arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045, sebuah visi besar yang menuntut sistem pendidikan lebih inklusif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Dalam pidato yang dibacakan, transformasi pendidikan tinggi digambarkan bertumpu pada tiga kekuatan utama. Akses pendidikan harus semakin terbuka bagi semua kalangan, kolaborasi harus diperluas agar kampus tidak berjalan sendiri, dan riset harus menjelma menjadi solusi nyata, bukan sekadar angka di jurnal ilmiah.

Namun, pesan paling mengena datang dari amanat sang rektor sendiri. Dengan nada tegas, ia mengingatkan bahwa perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada fungsi tradisionalnya.

“Perguruan tinggi harus menjadi pusat solusi. Kita tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Pernyataan itu seolah menjadi garis bawah dari seluruh rangkaian upacara bahwa masa depan kampus ditentukan oleh sejauh mana ia hadir di tengah persoalan nyata.

Usai upacara, semangat akademik beralih ke panggung kreativitas. PEKSIMIKA resmi dibuka sebagai ruang bagi mahasiswa mengekspresikan bakat seni dan budaya. Lebih dari sekadar ajang kompetisi, kegiatan ini diharapkan membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka terhadap nilai-nilai sosial dan budaya.

Dalam pidato Menteri juga ditegaskan, Indonesia tidak boleh selamanya berada di posisi pengguna ilmu pengetahuan. Negeri ini harus melahirkan pencipta, inovator, bahkan ilmuwan kelas dunia. Melalui program Indonesia Road to Nobel Laureate 2045, harapan itu diarahkan menjadi target konkret.

Upacara pun ditutup dengan ajakan yang sederhana namun mendalam: pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Dari kampus hingga masyarakat luas, dari pemerintah hingga generasi muda, semua memiliki peran dalam membangun sistem pendidikan yang benar-benar berdampak.

Di tengah pagi Ambon yang cerah, pesan itu menggema jelas—masa depan Indonesia sedang disiapkan hari ini, dan kampus menjadi salah satu panggung utamanya. (ji6)