-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



JAKARTA, JejakInfo.id – Arus informasi yang mengalir tanpa henti di media sosial dinilai menjadi tantangan serius bagi masa depan bangsa. Di tengah situasi tersebut, tokoh nasional asal Maluku, Saiful Chaniago, mengajak generasi muda Indonesia untuk tidak larut dalam propaganda digital yang berpotensi merusak persatuan dan nilai-nilai kebangsaan.
Bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026, Chaniago mengingatkan bahwa ancaman terhadap bangsa kini tidak lagi selalu hadir dalam bentuk yang kasatmata. Menurutnya, perang informasi yang berlangsung setiap saat melalui berbagai platform digital dapat menjadi ancaman nyata apabila tidak disikapi dengan bijak.
“Pemuda Indonesia harus berani melawan propaganda media sosial yang menyebarkan kebencian, fitnah, hoaks, dan berbagai narasi yang memecah belah persatuan bangsa. Jangan sampai kita kalah oleh perang opini yang mengancam masa depan Indonesia,” tegasnya.
Komisaris Utama PLN Energi Gas itu menilai perkembangan teknologi telah menghadirkan peluang besar bagi generasi muda untuk berkreasi, berinovasi, dan memperluas wawasan. Namun di saat yang sama, ruang digital juga menjadi lahan subur bagi penyebaran informasi yang menyesatkan dan memengaruhi cara pandang masyarakat, terutama kalangan muda.
Karena itu, Chaniago menekankan pentingnya menempatkan Pancasila sebagai pijakan utama dalam menghadapi dinamika era digital. Baginya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila bukan sekadar simbol negara, melainkan pedoman yang relevan untuk menghadapi berbagai tantangan zaman.
“Pancasila bukan sekadar slogan atau hafalan. Pancasila adalah filter moral dan kompas kebangsaan yang harus menjadi pedoman dalam menggunakan teknologi. Tanpa itu, generasi muda akan mudah terseret arus propaganda yang merusak persatuan nasional,” ujarnya.
Chaniago juga mengingatkan bahwa berbagai konten yang beredar di dunia maya sering kali sengaja dirancang untuk memicu konflik dan memperuncing perbedaan, baik berdasarkan suku, agama, ras, maupun pilihan politik.
“Musuh bangsa hari ini bisa hadir melalui layar telepon genggam. Karena itu, pemuda harus menjadi garda terdepan literasi digital, mampu membedakan fakta dan manipulasi, serta menjaga ruang digital tetap sehat dan produktif,” katanya.
Menurutnya, generasi muda memiliki peran strategis sebagai penjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi. Kesadaran untuk memilah informasi dan tidak mudah terprovokasi menjadi kunci agar ruang digital dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang membangun.
Menutup pernyataannya, Chaniago mengajak seluruh pemuda Indonesia menjadikan Hari Lahir Pancasila sebagai momentum untuk memperkuat nasionalisme, mempererat persaudaraan, dan memastikan teknologi menjadi sarana pemersatu bangsa.
“Jika Pancasila menjadi pegangan, maka teknologi akan membawa Indonesia maju. Tetapi jika nilai-nilai Pancasila diabaikan, ruang digital dapat menjadi ancaman bagi persatuan dan masa depan bangsa,” ringkasnya. (ji2)


