Pangdam XV/Pattimura Mayjen TNI Putranto Gatot Sri Handoyo memberi hormat ke Gubernur Hendrik Lewerissa. Ia datang menyambangi Gubernur untuk berpamitan karena sebentar lagi sudah meninggalkan daerah ini dan bertugas di tempat tugas yang baru. (Ist)

Sambangi Gubernur HL, Pangdam Pamit

28

Ambon, JejakInfo.id — Suasana berbeda terasa di Ruang Rapat Gubernur Maluku, Senin (6/4). Bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi momen penuh kehangatan, penghargaan, dan perpisahan.

Gubernur Maluku menerima kunjungan silaturahmi Pangdam XV/Pattimura, Putranto Gatot Sri Handoyo, yang akan melanjutkan tugas di tempat baru.

Pertemuan itu mengalir dalam nuansa akrab. Bukan hanya membicarakan tugas dan tanggung jawab, tetapi juga mengenang perjalanan kebersamaan yang telah terjalin selama ini.

Gubernur tak menyembunyikan rasa hormatnya atas dedikasi sang Pangdam yang dinilai selalu hadir di setiap momentum penting di Maluku.

“Saya merasa sangat terbantu. Hampir seluruh wilayah kita jelajahi bersama dari Seram hingga Haruku. Kehadiran Pangdam bukan hanya sebagai mitra kerja, tetapi juga sahabat dalam mengawal Maluku,” ujar Gubernur.

Kebersamaan itu, menurutnya, bukan sekadar simbol koordinasi antara pemerintah daerah dan TNI. Lebih dari itu, menjadi fondasi kuat dalam menjaga stabilitas dan memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan dengan baik, bahkan di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.

Di balik kalimat-kalimat resmi, terselip kesan mendalam: bahwa sinergi yang terbangun bukanlah sesuatu yang instan. Ia tumbuh dari kepercayaan, kerja lapangan, dan komitmen yang sama untuk melayani.

Gubernur pun berharap, semangat kolaborasi yang telah dirintis dapat terus berlanjut, siapapun yang nantinya melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di Kodam XV/Pattimura.

“Atas nama pribadi, keluarga, dan Pemerintah Provinsi Maluku, saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya. Selamat bertugas di tempat yang baru,” ucapnya.

Tak lupa, ia juga menyampaikan permohonan maaf jika selama kebersamaan terdapat hal-hal yang kurang berkenan. Sebuah penutup yang sederhana, namun sarat makna.

Momen itu kemudian ditandai dengan pertukaran cinderamata. Benda-benda simbolik, namun menyimpan cerita panjang tentang kerja sama, perjalanan, dan persahabatan.

Di ruang itu, perpisahan bukan sekadar akhir. Ia menjadi penanda bahwa jejak pengabdian akan tetap tinggal di tanah Maluku, dan dalam ingatan mereka yang pernah berjalan bersama. (ji2)