Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun menggelar Coffee Morning bersama Pengurus KONI. (Foto: Diskominfo Malra)

Sepekan! Maluku Tenggara Tantang Cabor Petakan Kekuatan Menuju Popmal 2027

9

Langgur, JejakInfo.id – Pekan Olahraga Maluku (Popmal) 2027 memang masih menyisakan waktu. Namun, Maluku Tenggara memilih tidak menunggu hingga persaingan benar-benar dimulai untuk bergerak.

Mesin pembinaan atlet mulai dipanaskan dari sekarang. Setiap cabang olahraga diminta segera memetakan kekuatan atlet, menyusun program latihan, menghitung kebutuhan fasilitas, sekaligus berani memasang target medali yang ingin dibawa pulang dari Popmal 2027.

Batas waktunya pun tidak panjang. Seluruh cabang olahraga diberi waktu paling lambat satu minggu untuk menyerahkan rancangan program pembinaan secara lengkap.

Langkah tersebut ditegaskan Bupati Maluku Tenggara sekaligus Ketua KONI Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, saat menggelar Coffee Morning bersama pengurus KONI, pelatih, dan atlet di Taman Landmark Kota Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara, Sabtu (8/8/2026).

Kegiatan yang diawali dengan senam bersama itu tidak sekadar menjadi ajang berkumpul. Pertemuan tersebut menjadi momentum awal untuk membuka peta kekuatan olahraga Maluku Tenggara sekaligus melihat secara langsung apa saja yang masih menjadi kekurangan setiap cabang olahraga.

Thaher ingin persiapan Popmal 2027 dibangun di atas perencanaan yang jelas, bukan sekadar semangat dan optimisme.

Menurut dia, setiap cabang olahraga harus mengetahui secara pasti siapa atlet yang dipersiapkan, bagaimana pola latihannya, di mana latihan dilakukan, peralatan apa yang dibutuhkan, serta prestasi apa yang hendak diburu.

“Olahraga adalah perpaduan sempurna antara teori dan praktik, antara akal dan gerak. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” tegas Thaher.

Ia menilai, atlet tidak cukup hanya memiliki kekuatan fisik. Prestasi lahir dari perpaduan antara kondisi fisik, teknik, kecerdasan membaca pertandingan, kedisiplinan, serta kesiapan mental.

Karena itu, pembinaan tidak boleh baru digenjot ketika Popmal sudah berada di depan mata.

Pelatih dan pengurus cabang olahraga diminta mulai bekerja dengan target yang terukur. Setiap sesi latihan harus memiliki arah, sementara setiap atlet harus mengetahui capaian yang ingin diraih.

“Saya minta seluruh pelatih dan pengurus cabang olahraga segera menyusun rencana latihan yang rinci, mulai dari jadwal, tempat, hingga target perolehan medali yang ingin dicapai,” ujarnya.

Anggaran Tak Boleh Jalan Tanpa Program

Persiapan menuju Popmal 2027 juga menyentuh persoalan yang tidak kalah penting: anggaran.

Thaher mengakui kemampuan fiskal pemerintah daerah memiliki keterbatasan. Karena itu, dukungan terhadap olahraga harus disusun berdasarkan skala prioritas dan kebutuhan yang benar-benar berdampak terhadap peningkatan prestasi atlet.

Ia meminta setiap cabang olahraga tidak sekadar mengajukan kebutuhan, tetapi mampu menjelaskan program dan hasil yang hendak dicapai.

“Saya juga sebagai Bupati akan mengajukan anggaran ke DPRD, namun itu semua harus didasari rencana yang pasti. Jangan ada program tanpa alokasi yang jelas,” kata Thaher.

Dengan pola tersebut, anggaran olahraga diharapkan tidak berhenti pada pembiayaan kegiatan rutin. Setiap rupiah yang dialokasikan harus diarahkan untuk memperkuat latihan, meningkatkan kemampuan atlet, memenuhi kebutuhan peralatan, dan membuka peluang lebih besar untuk meraih prestasi.

Atlet Diminta Tak Pikirkan Beban di Luar Arena

Di tengah tuntutan peningkatan prestasi, Thaher justru meminta para atlet berkonsentrasi pada satu hal: berlatih dan bertanding sebaik mungkin.

Persoalan fasilitas dan kebutuhan penunjang latihan, menurut dia, harus menjadi perhatian pengurus KONI dan pemerintah daerah.

“Beban kalian hanya satu: berlatih dan berjuang meraih prestasi. Urusan kebutuhan dan fasilitas adalah tanggung jawab pengurus dan pemerintah,” tegasnya.

Pesan itu menjadi penegasan bahwa atlet harus diberi ruang untuk berkembang tanpa dibebani urusan yang berada di luar tugas mereka.

Sebab, untuk memenangkan pertandingan, kemampuan fisik saja tidak cukup. Atlet membutuhkan suasana latihan yang mendukung, fasilitas yang memadai, serta kepercayaan diri untuk menghadapi lawan.

Dalam dialog tersebut, sejumlah cabang olahraga menyampaikan kondisi tim masing-masing, jumlah atlet yang dipersiapkan, target medali, hingga kebutuhan latihan.

Sejumlah kebutuhan yang muncul antara lain sarung tinju, peralatan latihan, dan berbagai perlengkapan pendukung atlet.

Thaher meminta seluruh kebutuhan tersebut dicatat secara rinci dan disusun berdasarkan skala prioritas agar dapat ditindaklanjuti sesuai kemampuan keuangan daerah dan ketentuan yang berlaku.

Sepekan, Target Harus Sudah Terpetakan

Bagi Maluku Tenggara, persiapan menuju Popmal 2027 kini bukan lagi sebatas wacana.

Dalam waktu satu minggu, seluruh pengurus dan pelatih cabang olahraga harus sudah menyerahkan rancangan program lengkap.

Isinya mencakup program latihan, jumlah atlet, target prestasi, kebutuhan fasilitas, hingga rincian pembiayaan.

Target medali pun harus dihitung berdasarkan kemampuan masing-masing cabang olahraga. Namun, kata Thaher, kata “realistis” tidak boleh diterjemahkan sebagai alasan untuk memasang target rendah.

Maluku Tenggara justru harus memiliki keberanian untuk memperbaiki capaian sebelumnya dan meningkatkan daya saing di tingkat Provinsi Maluku.

Thaher mengakui Kota Ambon masih menjadi salah satu kekuatan olahraga di Maluku. Kondisi tersebut, menurut dia, harus menjadi pemacu bagi Maluku Tenggara untuk bekerja lebih keras, bukan alasan untuk merasa tertinggal.

Karena itu, ia meminta para atlet membawa satu modal penting ketika turun bertanding: kebanggaan terhadap daerah.

“Tanamkan rasa bangga menjadi bagian dari Maluku Tenggara di dada kalian,” kata Thaher.

Pesan tersebut bukan sekadar slogan. Bagi Thaher, kebanggaan terhadap daerah dapat menjadi energi tambahan ketika seorang atlet berjuang menghadapi lawan dan membawa nama Maluku Tenggara.

Popmal 2027 masih berada di depan. Tetapi persaingan untuk menuju podium sudah dimulai sejak sekarang.

Dengan pembinaan yang lebih terarah, target yang terukur, dukungan fasilitas, serta kerja sama antara pemerintah, KONI, pelatih dan atlet, Maluku Tenggara ingin datang ke Popmal bukan sekadar sebagai peserta.

Daerah itu ingin datang dengan keyakinan bahwa setiap cabang olahraga telah mengetahui apa yang harus diperjuangkan dan medali apa yang hendak dibawa pulang.

“Dengan kerja keras, persatuan, dan perencanaan yang baik, kita mampu melampaui capaian yang sudah diraih sebelumnya,” pungkas Thaher. (ji4)

1 Menyukai postingan ini