-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026


Langgur, JejakInfo.id — Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, menyampaikan pesan tegas tentang identitas dan persaudaraan masyarakat di Kepulauan Kei.
Menurut Thaher, siapa pun yang datang, tinggal, dan hidup di tanah Kei harus menghormati adat serta tata kehidupan masyarakat setempat. Lebih dari itu, mereka yang memilih menetap di Kei harus merasa menjadi bagian dari masyarakat Kei.
“Siapa pun dia, dari mana pun dia. Begitu injak tanah Kei, tinggal dan hidup di sini, itu dia orang Kei. Titik,” tegas Thaher saat menghadiri kegiatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) di Ohoi Dunwahan, Kecamatan Kei Kecil, Selasa (1/9/2026).
Thaher menilai keberagaman masyarakat di Kepulauan Kei seharusnya menjadi kekuatan untuk mempererat persaudaraan, bukan alasan untuk membangun sekat antara penduduk asli dan pendatang.
Baginya, adat tidak boleh dipahami sebagai alat untuk membeda-bedakan manusia. Adat justru menjadi pedoman agar setiap orang yang hidup di tanah Kei mampu menempatkan diri, menghargai sesama, dan menjaga keharmonisan kehidupan bersama.
“Jangan mengaku orang Kei kalau tidak mengerti tata cara. Tanah ini dia bertuan. Daerah ini dia bertuan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa masyarakat Kei sejak dahulu dikenal memiliki tradisi menghormati dan memuliakan siapa pun yang datang sebagai tamu.
“Orang datang bertamu di sini diagungkan. Tidak pernah dibedakan. Itu orang Kei,” katanya.
Nilai keterbukaan dan penghormatan tersebut, lanjut Thaher, harus tetap dipertahankan di tengah perubahan zaman. Menurutnya, persaudaraan merupakan modal penting untuk menjaga keamanan sekaligus memperkuat pembangunan daerah.
Thaher juga menyinggung hubungan masyarakat Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual. Ia menegaskan, batas administratif tidak boleh menghapus ikatan sejarah, budaya, maupun kekerabatan masyarakat Kei.
“Saya tidak pernah bilang Maluku Tenggara dan Tual beda. Kita sama-sama orang Kei. Kita ini satu darah Evav (Kei),” tegasnya.
Menurut dia, hubungan kedua wilayah telah berlangsung secara alamiah dalam berbagai bidang. Warga Maluku Tenggara dan Kota Tual saling berinteraksi dalam aktivitas ekonomi, pekerjaan, pendidikan, pemerintahan hingga kehidupan sosial.
Mobilitas masyarakat yang berlangsung setiap hari, kata Thaher, menjadi bukti bahwa hubungan orang Kei jauh lebih kuat daripada sekadar batas wilayah administratif.
“Kalau begitu, ngapain bangun sekat? Kita harus saling jaga,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat tidak memperbesar perbedaan berdasarkan wilayah administratif. Sebaliknya, persaudaraan harus dijadikan kekuatan bersama untuk menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
“Beta Kei” Harus Dibuktikan
Thaher menegaskan, identitas “Beta Kei” tidak cukup hanya diucapkan. Identitas tersebut harus terlihat melalui sikap dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Rasa memiliki terhadap tanah Kei, menurutnya, dapat diwujudkan dengan menghormati adat, menjaga ketertiban, menghargai sesama, memelihara lingkungan, serta ikut berkontribusi bagi pembangunan daerah.
“Semua itu orang Kei. Kita harus saling mencintai,” serunya.
Ia juga menyebut sejumlah wilayah dan komunitas seperti Yut, Nuhuroa, Tutu, Tavun, Saran, dan Salam sebagai bagian dari ikatan persaudaraan masyarakat Kei.
Thaher berharap nilai-nilai tersebut terus diwariskan kepada generasi muda. Identitas budaya Kei, katanya, jangan sampai hanya menjadi simbol atau kebanggaan dalam ucapan, tetapi harus tetap hidup dalam perilaku masyarakat.
Ia pun kembali mengajak seluruh masyarakat, baik yang lahir di Kepulauan Kei maupun mereka yang datang dan memilih menetap, untuk menghormati adat dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
“Kalau mau hidup di Kei, jadi bagian dari Kei. Jangan merasa orang luar,” tutup Thaher. (ji4)
