-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Ambon, JejakInfo.id — Timur Tengah kembali berdiri di tepi jurang. Dilansir dari beberapa media International, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dinyatakan meninggal, dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2).
Serangan oleh blok Washington-Tel Aviv turut mengguncang kawasan tersebut dengan daya ledak politik yang sulit diukur.
Kabar tersebut menyebar cepat, memicu gelombang duka sekaligus amarah di Teheran. Bendera diturunkan setengah tiang, sementara pengeras suara di berbagai kota menyiarkan seruan berkabung nasional.
Namun di balik suasana haru, bara kemarahan membesar. Para elite politik dan militer Iran menyebut serangan itu sebagai agresi terbuka yang menodai kedaulatan negara.
Operasi Mematikan dan Luka Simbolik
Sejumlah media internasional menyebut operasi militer itu sebagai Operation Lion’s Roar, serangan presisi yang menyasar fasilitas strategis dan pusat komando pertahanan.
Jet tempur dan rudal jarak jauh dilaporkan menghantam target penting di Teheran dan sejumlah wilayah lain.
Bagi Iran, wafatnya Khamenei bukan sekadar kehilangan kepala negara. Ia adalah simbol ideologi, penentu arah kebijakan luar negeri, sekaligus otoritas tertinggi atas militer.
Serangan yang merenggut nyawanya dipandang bukan hanya sebagai aksi militer, melainkan penghinaan langsung terhadap Republik Islam.
Di jalan-jalan Teheran, spanduk hitam terbentang. Di parlemen, pidato-pidato bernada keras menggema. Satu pesan terdengar seragam: balasan akan datang.
Ancaman Balasan dari Garda Revolusi
Tak lama setelah kabar kematian dikonfirmasi, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengeluarkan pernyataan tegas. Mereka menyebut tengah menyiapkan “operasi balasan terbesar dalam sejarah Republik Islam.”
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Para analis keamanan memperkirakan respons Iran bisa menjangkau berbagai lini sekaligus: serangan rudal balistik ke wilayah Israel, penargetan pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk, hingga pengaktifan jaringan sekutu regional seperti Hezbollah di Lebanon.
Jika skenario itu terwujud serentak, konflik tak lagi terbatas pada dua negara. Ia berpotensi menjalar dari Lebanon, Suriah, Irak, hingga Yaman membentuk pusaran perang kawasan yang sulit dikendalikan.
Teluk Bergejolak, Dunia Cemas
Ketegangan meningkat tajam di sekitar jalur energi strategis, terutama Selat Hormuz. Setiap gangguan di perairan sempit itu bisa mengirim gelombang kejut ke pasar global. Harga minyak mentah melonjak, bursa saham tertekan, dan mata uang negara berkembang berfluktuasi liar.
Di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa, sidang darurat digelar. Sejumlah negara Eropa menyerukan gencatan senjata segera. Negara-negara besar lainnya menahan sikap, menghitung risiko di tengah situasi yang berubah dari jam ke jam.
Serangan terhadap figur setingkat pemimpin tertinggi negara hampir selalu dimaknai sebagai deklarasi perang. Ruang diplomasi pun terasa menyempit.
Menuju Perang Terbuka?
Ada beberapa tanda yang membuat dunia menahan napas. Tekanan domestik di Iran untuk membalas sangat kuat demi menjaga legitimasi rezim. Keterlibatan langsung militer negara-negara besar memperjelas bahwa ini bukan lagi perang bayangan melalui proksi. Medan tempur berpotensi meluas, sementara jalur energi global berada dalam bayang-bayang gangguan.
Dalam hitungan hari, bahkan jam, keputusan-keputusan politik dan militer akan menentukan arah sejarah. Apakah kawasan ini akan terjerumus dalam perang besar yang mengubah peta geopolitik dunia? Ataukah diplomasi darurat mampu meredam api sebelum berkobar tak terkendali?
Satu hal pasti: wafatnya Ayatollah Ali Khamenei telah mengubah lanskap konflik secara drastis. Timur Tengah kini berada di persimpangan paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir. Dunia menunggu dengan cemas. (*/net)






