Dr. Hobarth Williams Soselisa, S.Sos M.Si. (Ist)

Spiritualitas Kristiani Sebagai Dasar Kepemimpinan Rektor UKIM Periode 2025-2029

377

Sebuah Pemikiran dan Reflektif
(By. Dr. Hobarth Williams Soselisa, S.Sos M.Si)

KETIKA berbicara mengenai kepemimpinan, kita bisa melihatnya dari berbagai sudut pandang keilmuan: Sosial, Politik, Hukum, Psikologi, Manajemen, dan juga Teologi. Semua sah-sah saja selama dibarengi dengan ketulusan dan objektifitas dalam penilaiannya. 

Akan tetapi ketika kita berbicara mengenai kepemimpinan REKTOR di Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), kita tak boleh lupa akan satu kata kunci dalam nama UKIM: Kristen.

Artinya nilai-nilai ke-Kristenan (Kristiani) harus menjiwai dan menjadi roh berkehidupan di UKIM yang adalah kampus orang bersaudara.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah nilai-nilai Kekristenan apa yang perlu dihidupi? Secara khusus dalam kepemimpinan REKTOR di UKIM?. Dalam hal ini, kita perlu melihat ke hal yang menurut saya paling mendasar: Spiritualitas, sekali lagi penekanan saya SPRITUALITAS.

Spiritualitas: Pengertian Awal

Ketika kita berbicara perihal spiritualitas, kita perlu memahami bahwa spiritualitas bukanlah sekedar doktrin agama atau aturan moral atau praktik-praktik ritual doa saja.

Pdt. Stefanus Haryono menyebut, Spiritualitas merupakan saripati religius dari ajaran/doktrin yang dapat mendorong dan memotivasi melalui agama yang dihayati oleh seseorang, saat ia mengalami perjumpaan yang menghidupkan dan menumbuhkan dengan Sang Transenden, sehingga ia dapat melakukan apa yang dipercayai melalui jalan hidupnya.

Henry Nouwen menyebut spiritualitas sebagai “proses pergi dan pulang. Pergi untuk berjumpa dengan Allah dan pulang ke dunia untuk berjumpa dengan manusia (diri sendiri atau orang lain) dengan segala pergumulannya, dengan membawa Kristus yang dijumpai dalam perjalanan perginya.

Dari penjelasan diatas kita bisa mengerti bahwa spiritualitas bukan hanya berbicara mengenai hubungan dengan Allah saja (yang vertical), tapi juga berbicara dalam perjumpaan relasional kita dengan dunia yang Tuhan ciptakan (yang horizontal).

Maka itu Spiritualitas Kristiani (ingat huruf K pada UKIM) mengarahkan orang untuk memandang seluruh hidupnya (termasuk pekerjaan dan kepemimpinannya) sebagai perwujudan kehidupan rohaninya, dalam tuntunan Roh Kudus seturut teladan Kristus.

Kualitas iman dan hubungan dengan Tuhan (Kristus) harus tercermin dalam kualitas di dalam pekerjaan dan kepemimpinan. Spiritualitas itu membuat manusia mampu bertahan dan berjuang menghadapi berbagai perubahan dan tantangan di dalam hidupnya.

Pengertian diatas membuat spiritualitas menjadi sangat relevan dalam upaya mewujudkan Visi UKIM yang ingin menghadirkan “Kesejahteraan Masyarakat Kepulauan Berdasarkan Iman, Pengetahuan, dan Kasih.

Spiritualitas ini sifatnya sangatlah personal, dan bukan institusional. Artinya 2 orang yang punya agama sama dan dibesarkan di institusi yang sama belum tentu punya corak spiritualitas yang sama. Ini berlaku bagi para pimpinan dan pemimpin di UKIM. Maka dari itu meneladani sosok (person) Yesus yang adalah Guru (Rabi) dan Pendidik adalah sebuah imperatif.

Spiritualitas: YESUS Sang Guru

Setidaknya ada 3 nilai spiritualitas yang dihidupi Kristus yang bisa menjadi teladan menjelang perhelatan pemilihan REKTOR UKIM Periode 2025-2029, yaitu: 1) Spiritualitas Pelayan; 2) Spiritualitas Sahabat; dan 3) Spiritualitas Pendamai.

> Spiritualitas Pelayan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Tuhan Yesus mengajarkan untuk menjadi pemimpin yang melayani. Injil Matius 20 : 28 berkata, Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Hal ini semakin tampak dalam peristiwa ketika Kristus membasuh kaki para murid-Nya (Lih. Yohanes 13:13-15).
Secara sadar, Kristus hendak meruntuhkan pola pikir hirarkis bahwa pemimpin (atau pimpinan) menjadi sosok yang mendapat status sosial tinggi hingga harus selalu dihormati dan dilayani! Menjadi pemimpin (pimpinan) bukanlah untuk mendapatkan privilege dan kekuasaan untuk bisa melakukan apapun.

Menjadi pemimpin justru memberikan kesempatan besar untuk bisa melayani dan memfasilitasi (menjadi fasilitator).
Maka itu menjadi pimpinan di UKIM TIDAK BOLEH dikejar untuk mendapatkan nama baik dan kekuasaan; tapi justru merupakan kesempatan untuk berkarya, melayani, dan memfasilitasi segenap civitas academica UKIM untuk bisa mewujudkan Visi UKIM.

Pimpinan yang tidak menghidupi spiritualitas pelayan, akan menghidupi gaya kepemimpinan yang Otoriter, Parlente (Perlente), dan penuh Gimik.

> Spiritualitas Sahabat

Spiritualitas pelayan sangat dekat dengan spiritualitas sahabat. Sebuah pernyataan indah dari Kristus berbunyi: Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat (Yoh 15:15a).

Dalam hal ini, Yesus hendak meruntuhkan tembok pemisah antara Tuan dan Hamba, antara Guru dan Murid, dan membangun sebuah relasi baru: persahabatan.

Ketika UKIM hendak mengembangkan sebuah sistem Pendidikan dan pengajaran berpusat pada mahasiswa (Student Centered Learning), maka menghidupi spiritualitas sahabat adalah keharusan bagi para pimpinan.

Tindakan-tindakan abusive dan penyalahgunaan kekuasaan tidak boleh dilakukan oleh para pimpinan kepada staf, dosen, terlebih mahasiswa. Gaya hidup ABS (Asal Bapak Senang) adalah gaya hidup using yang mematikan institusi.

Pimpinan harus bisa melihat staf, dosen, dan mahasiswa bukan sekedar sebagai bawahan yang tunduk, namun justru sebagai sahabat dan rekan dalam berkolaborasi di dunia akademik.

Suasana relasi dan percakapan yang cair, bicara dan tertawa bersama, hingga melalukan Pengajaran, Riset dan Pengabdian bersama adalah buah dari spiritualitas sahabat.

> Spiritualitas Pendamai

Tindakan pelayanan dan persahabatan yang Kristus hidupi dan tunjukkan bagi kita adalah dalam rangka pendamaian bagi relasi kita dengan Allah yang rusak karena dosa.

Dalam kehidupan-Nya menjadi pendamai, IA menjalaninya dalam kesetian, kerendah-hatian, kerelaan untuk berkorban, dan keterbukaan kepada yang lain. Menghidupi spiritualitas pendamai akan melahirkan karakter diri yang demikian.

Ada, bahkan banyak, contoh nyata di sekitar kita di mana institusi itu rusak dan hancur karena perselisihan, konflik, dan perebutan kepemimpinan.

Pemimpin yang menghidupi spiritualitas pendamai akan melihat dirinya sebagai pelayan dan sahabat bagi siapa saja, termasuk bagi orang yang berbeda pendapat dengan dirinya. Menjadi pimpinan bukanlah sarana membalas dendam kepada orang(-orang) yang dianggap berseberangan dengan kita.

Seorang pimpinan yang berjiwa pendamai akan melihat segala perbedaan yang ada (entah pendapat, kepentingan, status, agama, fakultas, kedaerahan, preferensi politik, dlsb.) sebagai sebuah kekayaan bagi UKIM dan justru secara kreatif membangun jembatan terhadap perbedaan-perbedaan yang ada.

Maka itu, pimpinan harus bisa menjadi seorang pendengar yang baik, dan tidak boleh bersifat reaktif, emosional, dan destruktif. Sebaliknya, dengan lemah lembuh dan kerjenihan hati dan nalar, pimpinan bisa mengelaborasi kepelbagaian menjadi sebuah harmoni indah demi terwujudnya Visi dan Misi UKIM di tanah Raja-raja yang sama sama kita tempati.

Penutup

“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Amsal 1:7). Dalam kehidupan di dunia akademis (bahkan di manapun), kita semua adalah peziarah yang menjadi pembelajar seumur hidup.

Belajar, berproses, dan mencari tahu tidak boleh berhenti dalam satu titik. Karena ini adalah proses tiada berakhir, spiritualitas harus bisa menjadi dasar, karena spiritualitas mengarahkan kita dalam perjumpaan dengan Tuhan dan memberikan kita daya dan kekuatan menjalani kehidupan.

Pimpinan di UKIM, harus mampu menghidupi nilai-nilai spiritualitas Kristiani itu demi terwujudnya Visi dan Misi UKIM. Jika pimpinan tidak mau dan tidak mampu menghidupi spiritualitas kristiani itu, maka UKIM akan kehilangan jati diri kekristenannya dan kehilangan relevansinya di dunia ini.

Jika nilai-nilai spiritualitas kristiani itu tidak menjiwai kehidupan di UKIM, maka sebaiknya kita mempertimbangkan untuk mengganti nama saja dengan hilangkan huruf K dari nama UKIM. Tuhan Yesus Memberkati UKIM untuk mencerdaskan anak bangsa di Maluku tercinta. (*)

1 Menyukai postingan ini