-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Ambon, JejakInfo.id — Perebutan kursi Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Maluku bakal berlangsung sengit. Sejumlah nama mulai mengemuka untuk menggantikan Elwen Roy Pattiasina, yang selama ini memimpin partai berlambang mercy tersebut di Maluku.
Kontestasi diperkirakan semakin menarik karena tiga figur dengan latar belakang politik berbeda disebut-sebut siap masuk gelanggang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Maluku yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.
Dua di antaranya merupakan kepala daerah aktif, yakni Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun dan Bupati Seram Bagian Barat (SBB) Asri Arman. Sementara satu nama lainnya adalah kader legislatif yang kini duduk di DPRD Provinsi Maluku, Halimun Saulatu.
Ketiganya bukan nama baru dalam peta politik Maluku. Masing-masing memiliki basis politik dan pengalaman yang berpotensi menjadi modal penting dalam perebutan kursi pucuk pimpinan Demokrat Maluku.
Thaher Hanubun, misalnya, memiliki perjalanan politik yang cukup panjang. Sebelum terjun serius ke dunia politik, ia dikenal sebagai seorang guru di salah satu SMA di Jakarta.
Dari dunia pendidikan, Thaher kemudian menyeberang ke panggung politik. Ia tercatat pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Maluku Tenggara, kemudian dipercaya menjadi anggota DPRD Provinsi Maluku.
Karier politiknya terus menanjak hingga akhirnya kembali ke daerah asalnya dan maju dalam kontestasi pemilihan kepala daerah. Kini, Thaher memimpin Kabupaten Maluku Tenggara untuk periode kedua.
Dengan posisi sebagai kepala daerah sekaligus pengalaman di legislatif, Thaher dinilai memiliki modal politik yang cukup kuat untuk membangun konsolidasi hingga ke tingkat Dewan Pimpinan Cabang (DPC).
Nama kedua adalah Asri Arman. Sebelum masuk ke panggung politik, Asri dikenal sebagai pengusaha yang bergerak di bidang konsultan jasa konstruksi.
Dari dunia usaha, ia kemudian terjun ke politik dan berhasil merebut kursi DPRD Provinsi Maluku. Tidak tanggung-tanggung, Asri tercatat menjalani tiga periode sebagai anggota DPRD Maluku sebelum akhirnya dipercaya masyarakat SBB menjadi kepala daerah.
Kini, Asri memimpin Kabupaten Seram Bagian Barat untuk periode pertamanya. Pengalaman panjang di parlemen serta posisinya sebagai bupati membuat langkahnya dalam bursa calon Ketua DPD Demokrat Maluku patut diperhitungkan.
Sementara itu, Halimun Saulatu hadir dengan latar belakang yang berbeda.
Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan mantan fungsionaris DPD KNPI Maluku tersebut bukan pendatang baru dalam dunia politik. Sebelum duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Maluku, Halimun pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Maluku Tengah periode 2009-2014.
Saat ini, ia tidak hanya berstatus sebagai anggota DPRD Provinsi Maluku, tetapi juga dipercaya sebagai Pelaksana Tugas Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Maluku Tengah.
Posisi tersebut menjadi salah satu modal penting bagi Halimun untuk memahami secara langsung denyut organisasi Demokrat hingga ke tingkat kabupaten.
Musda kali ini pun tidak sekadar menjadi pertarungan tiga nama. Di balik perebutan kursi ketua, terdapat pertarungan konsolidasi suara dari 11 DPC Partai Demokrat kabupaten/kota di Maluku.
Siapa yang mampu menguasai dukungan DPC, membangun komunikasi dengan struktur partai dan meyakinkan elite politik di level nasional, akan memiliki peluang lebih besar untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan Demokrat Maluku.
Sebab, dalam kontestasi organisasi partai politik, kekuatan tidak hanya ditentukan oleh popularitas seorang kandidat.
Kemampuan mengonsolidasikan mesin partai, menjaga hubungan dengan kader, serta memperoleh restu dan dukungan struktur di tingkat pusat juga menjadi faktor yang tak kalah menentukan.
Di titik inilah pertarungan Thaher, Asri dan Halimun diperkirakan akan semakin menarik.
Dua dari tiga figur tersebut bahkan disebut memiliki jalur komunikasi yang cukup kuat dengan lingkaran elite Partai Demokrat di level pusat. Nama Thaher Hanubun dan Halimun Saulatu disebut-sebut memiliki peluang kuat dalam membangun koneksi politik hingga ke lingkaran Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Namun, sejauh ini belum ada pernyataan terbuka dari Thaher maupun Halimun mengenai ambisi mereka merebut kursi Ketua DPD Demokrat Maluku. Keduanya masih memilih berhati-hati dan belum secara terang-terangan menyatakan diri sebagai kandidat.
Sikap serupa juga membuat bursa Musda Demokrat Maluku semakin sulit ditebak.
Yang jelas, jika tiga nama tersebut benar-benar maju, Musda Oktober mendatang bukan sekadar agenda rutin organisasi. Ini akan menjadi pertarungan untuk menentukan arah baru Partai Demokrat di Maluku sekaligus siapa yang akan memegang kendali mesin politik partai tersebut untuk periode berikutnya.
Pertanyaannya kini sederhana: siapa yang paling siap menguasai 11 DPC dan siapa yang mampu meyakinkan elite Demokrat di Jakarta? Jawabannya akan ditentukan dalam pertarungan yang mulai memanas jauh sebelum palu Musda diketuk. (ji1)


