-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026


Ambon, JejakInfo.id — Desa Galala tidak hanya mengandalkan kerja bakti untuk menjaga kebersihan lingkungan. Di bawah ikon Kota Ambon, Jembatan Merah Putih (JMP), sebuah muara yang sebelumnya identik dengan perjumpaan beragam sampah kini mulai berubah wajah menjadi ruang terbuka publik sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Inovasi tersebut menjadi salah satu aspek penting yang mengantarkan Desa Galala meraih Juara I Lomba Kebersihan Desa/Negeri/Kelurahan se-Kota Ambon, dalam rangka menyongsong HUT ke-451 Kota Ambon.
Penghargaan itu diserahkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan Kota Ambon, Apries Gaspersz, kepada Raja Galala, Jemima Ariesta Marcella Joris, dalam resepsi HUT ke-451 Kota Ambon di Pattimura Park, Senin (7/9/2026).
Di balik capaian tersebut, ada gagasan Mike Joris, sapaan akrab Raja Galala, yang melihat persoalan sampah dari sudut pandang berbeda. Tempat yang selama ini menjadi lokasi pembuangan dan pusat tumpukan sampah di bawah JMP tidak dibiarkan menjadi titik kumuh, tetapi ditata dan diarahkan menjadi ruang yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
Dari gagasan tersebut, kawasan itu kemudian dikembangkan menjadi ruang terbuka publik. Tidak berhenti pada persoalan kebersihan, penataan kawasan juga membuka ruang bagi tumbuhnya UMKM baru di Desa Galala.
Dengan demikian, upaya menjaga kebersihan tidak hanya menghasilkan lingkungan yang lebih nyaman, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi dan ruang interaksi bagi masyarakat.
Inovasi inilah yang menjadi salah satu nilai lebih Desa Galala dalam perlombaan kebersihan. Sebab, kebersihan tidak dipandang sekadar bagaimana sampah dikumpulkan dan dibuang, melainkan bagaimana sebuah persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Mike menekankan bahwa perubahan tersebut tidak mungkin dilakukan seorang diri. Ada kolaborasi antara pemerintah desa, Tim Kalesang Desa dan masyarakat Galala yang menjadi kekuatan utama dalam menjalankan berbagai program kebersihan dan penataan lingkungan.
Kolaborasi itu membuat gerakan menjaga lingkungan tidak berhenti sebagai program pemerintah desa. Masyarakat ikut terlibat, bekerja bersama dan merasa memiliki ruang yang mereka bangun.
Mike yang adalah Istri dari Anggota DPRD Maluku Tengah, Izaac Sitaniapessy itu mengakui, bahwa penghargaan Juara I yang diraih Desa Galala merupakan hasil kerja bersama seluruh masyarakat.
Menurutnya, pemerintah desa hanya menjadi penggerak, sementara keberhasilan menjaga lingkungan sangat bergantung pada partisipasi warga.
Bagi Desa Galala, kemenangan tersebut memiliki makna lebih dari sekadar sebuah piala. Penghargaan itu menjadi pengakuan atas kebersamaan warga yang selama ini secara aktif menjaga lingkungan tempat mereka tinggal.
“Prestasi ini merupakan hasil dari kerja keras dan kebersamaan seluruh masyarakat Desa Galala,” ujar Mike kepada wartawan usai menghadiri perayaan HUT ke-451 di pelataran Pattimura Park, Senin (7/9/2026).
Ia menjelaskan, masyarakat secara aktif terlibat dalam berbagai kegiatan kebersihan, termasuk kerja bakti dan menjaga lingkungan agar tetap bersih, sehat, indah dan nyaman.
Semangat tersebut kemudian diperkuat dengan inovasi dan kolaborasi. Kawasan di bawah JMP yang sebelumnya dipandang sebagai tempat pembuangan sampah kini diarahkan menjadi ruang publik yang memiliki nilai sosial sekaligus ekonomi.
Bagi Mike, capaian tersebut membuktikan bahwa persoalan lingkungan dapat diselesaikan ketika pemerintah dan masyarakat memiliki kepedulian yang sama.
“Ini bukan kemenangan pemerintah desa saja. Ini adalah kemenangan masyarakat Galala yang mau bekerja bersama, menjaga lingkungan dan menjadikan kebersihan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ucapnya bangga.
Mike berharap penghargaan tersebut tidak membuat masyarakat berhenti setelah perlombaan selesai. Justru sebaliknya, capaian itu harus menjadi pemicu untuk mempertahankan kebersihan sekaligus melahirkan lebih banyak inovasi yang bermanfaat bagi warga.
Dengan semangat gotong royong, kolaborasi Tim Kalesang Desa dan masyarakat, Galala menunjukkan bahwa mengelola sampah tidak harus berakhir di tempat pembuangan. Jika dikelola dengan gagasan dan kemauan bersama, persoalan lingkungan justru dapat berubah menjadi ruang publik, peluang ekonomi dan kebanggaan bagi sebuah desa.
"Desa Galala hari ini membuktikan bahwa lingkungan yang bersih tidak lahir hanya dari kebijakan pemerintah, tetapi dari kesadaran dan kebersamaan masyarakat," tutup Mike. (ji3)



