-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Dobo, JejakInfo.id — Angin laut berembus lembut di pesisir Tanjung Lampu–Marbali, Desa Wangel, Kecamatan Pulau-pulau Aru. Di balik debur ombak yang kini masih menyisakan jejak abrasi, tersimpan mimpi besar: menjadikan kawasan ini sebagai “boulevard”-nya Kabupaten Kepulauan Aru. Ikon wisata baru yang membanggakan.
Hamparan jalan yang membentang sejajar garis pantai dinilai memiliki daya tarik dan posisi strategis. Tak berlebihan bila kawasan ini digadang-gadang dapat menjelma seperti Pantai Boulevard. Ruang terbuka yang hidup, tempat warga dan wisatawan menikmati senja, kuliner, dan denyut kota.
Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, menegaskan komitmennya saat meninjau langsung lokasi tersebut, Rabu (11/2). Baginya, Tanjung Lampu bukan sekadar bentang alam, melainkan masa depan pariwisata Aru.
“Jalan di Tanjung Lampu ini sangat bagus dan strategis untuk dijadikan tempat wisata. Karena itu saya sudah sampaikan agar masyarakat tidak lagi membangun rumah atau bangunan apa pun dalam jarak 30 meter dari garis pantai,” tegasnya.
Larangan itu bukan tanpa alasan. Pemerintah daerah telah memasang spanduk pemberitahuan di sepanjang kawasan tersebut. Langkah ini menjadi sinyal bahwa Tanjung Lampu tengah disiapkan secara serius sebagai ruang publik dan destinasi wisata unggulan. Pemerintah pun tak akan ragu mengambil tindakan jika aturan dilanggar.
Di sisi lain, kawasan ini masih menghadapi ancaman abrasi. Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya telah mengalokasikan dana hibah untuk penanganan pada tahun anggaran 2026. Namun, bencana yang melanda Sumatera Utara dan Aceh membuat sebagian anggaran harus dialihkan.
Meski demikian, Bupati Kaidel tetap berharap dukungan tersebut segera terealisasi. Perbaikan tanggul yang rusak dan pembangunan talud baru dinilai mendesak agar pesisir Tanjung Lampu tak terus tergerus ombak.
Ia juga menyoroti praktik pengambilan pasir dari lokasi galian yang selama ini digunakan untuk penimbunan.
Menurutnya, hal itu turut memengaruhi kondisi abrasi. Ke depan, pasir akan dikembalikan ke pantai, sementara material timbunan akan diambil dari lokasi lain agar struktur jalan dan talud lebih kokoh serta tidak memicu pengikisan lanjutan.
Tak berhenti pada penataan fisik, pemerintah daerah juga menyiapkan konsep kawasan yang hidup. Area kuliner akan dibangun, sehingga wisatawan yang menginjakkan kaki di Aru tak perlu repot membawa bekal. Semuanya tersedia di satu kawasan: panorama laut, ruang santai, hingga sajian khas yang menggugah selera.
“Di sini pengunjung bisa menikmati matahari terbenam dan mengabadikan momen terbaiknya,” ujar Kaidel.
Jika rencana ini terwujud, Tanjung Lampu, Marbali bukan hanya menjadi bentang pantai yang indah, tetapi juga wajah baru Aru. Tempat warga berkumpul, wisatawan berlabuh, dan ekonomi daerah bertumbuh bersama debur ombak yang tak lagi mengancam, melainkan mengundang. (ji3)
