-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026


Ambon, JejakInfo.id — Program Studi S1 Teknologi Hasil Perikanan (THP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Universitas Pattimura (Unpatti), terus memperkuat kualitas akademik melalui penerapan sistem pengukuran dan evaluasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) berbasis digital.
Langkah ini diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi dan bimbingan teknis (Bimtek) pengukuran CPL secara digital bagi para dosen yang berlangsung di ruang seminar FPIK Unpatti, Rabu, 30 September 2026. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan dosen dalam mengukur serta mengevaluasi keberhasilan proses pembelajaran secara terarah, efektif, dan terukur.
Kegiatan ini menghadirkan Instruktur Asesmen Pembelajaran Digital, Dr. Bruri Melky Laimeheriwa, S.Pi., M.Si., sebagai narasumber utama yang memberikan pemahaman teknis mengenai mekanisme pengukuran dan evaluasi CPL melalui sistem digital.
Wakil Dekan Bidang Akademik FPIK Unpatti, Dr. Ir. Simon Tubalawony, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa peningkatan kompetensi dosen dalam mengelola proses pembelajaran merupakan bagian penting dari upaya menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi.
Menurutnya, keberhasilan penerapan kurikulum tidak cukup hanya ditandai dengan tersedianya dokumen akademik. Lebih dari itu, setiap dosen harus mampu menerjemahkan kurikulum ke dalam proses perkuliahan yang efektif, sehingga kompetensi yang ditargetkan benar-benar dapat dicapai mahasiswa.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pemahaman yang utuh mengenai keterkaitan antara kurikulum, Rencana Pembelajaran Semester (RPS), Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK).
Simon menjelaskan, penyusunan kurikulum dan pelatihan RPS yang telah dilaksanakan sebelumnya perlu ditindaklanjuti dengan sosialisasi dan pendampingan kepada seluruh dosen. Dengan demikian, para dosen tidak hanya memahami dokumen perencanaan pembelajaran, tetapi juga mampu menerapkannya secara konsisten dalam kegiatan perkuliahan.
Setiap mata kuliah, lanjutnya, harus memiliki kontribusi yang jelas terhadap pencapaian kompetensi lulusan. Oleh sebab itu, proses pembelajaran perlu dirancang dan dievaluasi secara berkelanjutan agar selaras dengan target yang telah ditetapkan program studi.
Ia juga mengingatkan bahwa pengukuran dan evaluasi CPL tidak boleh sekadar menjadi pemenuhan administrasi akademik ataupun kebutuhan akreditasi. Evaluasi harus menjadi instrumen penting untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa menguasai kompetensi yang diharapkan setelah mengikuti proses pembelajaran.
Melalui sistem pengukuran berbasis digital, dosen diharapkan dapat memantau capaian mahasiswa secara lebih terukur dan menggunakan hasil evaluasi sebagai dasar untuk memperbaiki metode pembelajaran maupun menyempurnakan kurikulum.
Simon turut menekankan pentingnya kreativitas, inovasi, dan pendekatan humanis dalam proses pembelajaran. Menurutnya, dosen perlu membangun suasana belajar yang mendorong mahasiswa berkembang dan mencapai kompetensi yang ditargetkan, tanpa mengabaikan standar mutu akademik.
Ia berharap kegiatan sosialisasi dan Bimtek tersebut menjadi ruang belajar bersama bagi para dosen FPIK Unpatti sekaligus mendorong penerapan sistem evaluasi pembelajaran yang semakin baik. Upaya serupa juga diharapkan dapat diterapkan oleh program studi lainnya di lingkungan Unpatti sebagai bagian dari peningkatan kualitas akademik secara berkelanjutan.
Sementara itu, Koordinator Program Studi Teknologi Hasil Perikanan FPIK Unpatti, Dr. Meigy Nelce Mailoa, S.Pi., M.Si., mengatakan bahwa pendampingan pengukuran CPL dan penyusunan RPS berbasis Outcome-Based Education (OBE) merupakan langkah strategis untuk memperkuat mutu pembelajaran di lingkungan Program Studi THP.
Menurut Meigy, penerapan OBE bukan sekadar menyusun kurikulum dan melengkapi dokumen akademik. Hal yang lebih penting adalah memastikan seluruh proses pembelajaran benar-benar berorientasi pada kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan.
“Kegiatan ini penting untuk memastikan implementasi kurikulum berbasis OBE tidak hanya berhenti pada dokumen, tetapi benar-benar diterapkan dalam proses pembelajaran dan dapat diukur ketercapaiannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penerapan OBE membutuhkan keterkaitan yang jelas antara CPL, CPMK, Sub-CPMK, metode pembelajaran, dan instrumen asesmen. Seluruh komponen tersebut harus dirancang secara terpadu agar setiap mata kuliah memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian kompetensi lulusan.
Dengan kesamaan pemahaman di antara para dosen, penyusunan RPS, pelaksanaan perkuliahan, hingga proses penilaian diharapkan dapat berjalan lebih terarah dan konsisten dengan tujuan kurikulum.
Meigy menambahkan, pengukuran CPL menjadi bagian penting dalam upaya mengevaluasi sekaligus meningkatkan mutu pembelajaran. Hasil pengukuran dapat membantu program studi dan dosen mengidentifikasi kompetensi yang telah dikuasai mahasiswa maupun aspek yang masih perlu diperbaiki.
Apabila terdapat capaian pembelajaran yang belum terpenuhi secara optimal, hasil evaluasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah perbaikan, baik dalam metode pengajaran, materi perkuliahan, maupun sistem penilaian.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menyamakan persepsi dan memperkuat pemahaman para dosen dalam pengukuran CPL dan penyusunan RPS berbasis OBE, sehingga implementasi kurikulum dapat berjalan lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, penguatan implementasi OBE merupakan bagian dari komitmen Program Studi THP FPIK Unpatti untuk terus meningkatkan mutu akademik. Melalui langkah tersebut, program studi berharap mahasiswa memperoleh pengalaman pembelajaran yang berkualitas serta dibekali kompetensi sesuai dengan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.
Dengan pengukuran CPL berbasis digital dan penerapan OBE yang konsisten, Program Studi THP Unpatti berupaya memastikan bahwa peningkatan mutu akademik tidak berhenti pada perencanaan, tetapi benar-benar tercermin dalam proses pembelajaran dan kompetensi lulusan. (ji6)

