Umar Lessy di Provinsi, Elly Toisutta Mau di Kota? Kader: "Ambel Golkar For Kamong Jua"

57

Ambon, JejakInfo.id — Riak perebutan pengaruh di tubuh Partai Golkar Maluku belum juga mereda. Setelah tongkat komando DPD Golkar Maluku berada di tangan Umar Ali Lessy, kini perhatian kader beralih ke Kota Ambon. Nama Elly Toisutta disebut-sebut mulai bergerak untuk memimpin Golkar tingkat kota.

Informasi yang beredar di internal partai menyebutkan, Toisutta mulai membangun komunikasi politik di berbagai level: mulai dari struktur kota, provinsi, hingga jaringan di tingkat pusat. Langkah ini dinilai sebagai upaya mengamankan posisi strategis dalam perebutan kursi Ketua DPD Golkar Kota Ambon.

Namun manuver tersebut tidak sepenuhnya diterima mulus. Di kalangan kader, mulai terdengar suara-suara kritis yang mengingatkan agar perebutan posisi tidak menyeret Golkar ke dalam pusaran politik identitas yang selama ini sensitif di Maluku.

Seorang kader Golkar yang enggan disebutkan namanya melontarkan sindiran tajam terhadap situasi yang berkembang.

“Provinsi sudah Umar, masa kota mau juga?” ujarnya singkat, menggambarkan kegelisahan sebagian kader terhadap kemungkinan konsentrasi kekuasaan di lingkaran tertentu.

Menurutnya, Golkar selama ini dikenal sebagai partai nasionalis yang seharusnya berdiri di atas semua golongan. Jika dinamika internal justru terseret pada sentimen primordial: suku, agama, atau kelompok, maka citra partai bisa terkikis di mata publik.

Di Maluku, lanjutnya, pilihan politik masyarakat sering kali tidak hanya ditentukan oleh partai, tetapi juga figur yang dianggap mewakili kedekatan emosional tertentu. Karena itu, jika Golkar ikut bermain dalam pola yang sama, partai berlambang pohon beringin itu dikhawatirkan kehilangan daya tarik sebagai kekuatan politik nasionalis.

Situasi semakin terasa panas karena Musyawarah Daerah (Musda) saja belum digelar, namun pergerakan politik di internal partai sudah terlihat agresif. Sejumlah kader bahkan mulai menunjukkan sikap terbuka menentang jika proses perebutan kepemimpinan dianggap hanya menguntungkan kelompok tertentu.

“Keputusan memang ada di tangan partai. Tapi kalau keliru, kami tidak akan diam. Kami bisa berdiri melawan,” tegas kader tersebut.

Ia menegaskan bahwa Golkar tidak boleh dijadikan alat untuk kepentingan politik primordial.

“Jangan bawa-bawa politik identitas ke dalam Golkar,” katanya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa konflik internal yang terus dipertontonkan ke publik justru akan merugikan partai sendiri. Ketika partai-partai lain mulai merapatkan barisan dan melakukan konsolidasi menghadapi pemilu mendatang, Golkar di Ambon justru masih berkutat pada tarik-menarik kekuasaan.

“Partai lain sudah bergerak menyiapkan strategi menuju pemilu. Sementara kita masih sibuk dengan pertarungan internal. Ini memalukan,” ujarnya. (ji5)