Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unpatti, Dr. Ruslan H.S. Tawari, S.Pi.,M.Si menandatangani kerjasama penyusunan AMDAL dengan dua perusahaan yang akan beroperasi di Pulau Buru. (Ist)

Unpatti Teken Kontrak Swakelola Dengan PT. Global Emas Bupalo dan PT. Leabumi Mineral Bupalo

8

Ambon, JejakInfo.id — Di sebuah ruang rapat di lantai tiga Rektorat Universitas Pattimura, sebuah kesepakatan penting diteken. Bukan sekadar kerja sama biasa, melainkan langkah awal dari upaya besar: memastikan pengelolaan sumber daya alam di Maluku berjalan dengan pijakan ilmu pengetahuan.

Jumat (13/2), Universitas Pattimura resmi menandatangani kontrak swakelola dengan PT Global Emas Bupalo dan PT Leabumi Mineral Bupalo. Kerja sama ini berkaitan dengan penyusunan dokumen Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk rencana tambang emas di Pulau Buru serta tambang Sinabar di Desa Iha, Pulau Seram.

Penandatanganan dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Dr. Ruslan H.S. Tawari, S.Pi.,M.Si dan Dr. A. Siahaya, SE, M.Si, dihadiri oleh Kepala dan Sekretaris Laboratorium Terpadu Pendukung Blok Masela Universitas Pattimura, Dr. Sutandy Setyawan, SE.,MA, Zain Syaiful Latukaisupy, SE.,M.Si, Ir. Mohammad Yasir Kaisuku, dan Sub Koordinator Kerjasama Universitas Pattimura. Sejumlah pimpinan unit dan tim pendukung turut hadir, menandai bahwa kerja ini bukan pekerjaan kecil, melainkan melibatkan banyak pihak dan keahlian.

Bagi pihak kampus, kepercayaan ini bukan hanya soal proyek. Ini adalah tanggung jawab moral untuk menghadirkan kajian yang jujur, ilmiah, dan berpihak pada keberlanjutan.

“Setiap aktivitas pengelolaan sumber daya harus memiliki dasar lingkungan yang kuat agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari,” ujar Ruslan.

Ia menekankan bahwa dokumen AMDAL bukan sekadar syarat administratif, melainkan kompas yang akan menentukan bagaimana alam dan manusia bisa tetap berjalan berdampingan. Dari Pulau Buru hingga Seram, wilayah yang kaya sumber daya ini membutuhkan pendekatan yang tidak gegabah, melainkan penuh pertimbangan.

Harapannya, kolaborasi ini tidak berhenti pada satu pekerjaan, tetapi berkembang menjadi kemitraan yang terus memberi manfaat bagi masyarakat Maluku.

Dari pihak perusahaan, Siahaya melihat kerja sama ini sebagai langkah penting yang lebih dari sekadar formalitas. Ia menegaskan bahwa keterlibatan perguruan tinggi memberi bobot berbeda dalam setiap proses pengelolaan sumber daya.

“Kami membutuhkan dukungan akademik agar setiap langkah yang diambil memiliki dasar yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.

Ia berharap, hasil dari kerja bersama ini tidak hanya menjadi dokumen di atas kertas, tetapi benar-benar memberi dampak bagi pengembangan wilayah dan kesejahteraan masyarakat.

Di tengah berbagai dinamika pengelolaan sumber daya alam, pertemuan siang itu menyiratkan satu hal: bahwa pembangunan tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan ilmu, kolaborasi, dan komitmen agar apa yang diambil dari bumi, tidak menjadi beban bagi generasi yang akan datang. (ji6)