Sambutan Wakil Bupati Maluku Tenggara, Charlos Viali Rahantoknam saat membuka kegiatan Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Rawan Bencana di Ohoi Rumat, Rabu (8/4). (Ist)

Wabup Malra Suarakan Pesan Kesiapsiagaan: Bencana Tak Bisa Ditolak, Tapi Bisa Dihadapi

7

Langgur, JejakInfo.id — Di tengah bentang alam yang indah di Kei Kecil Timur, sebuah pesan penting digaungkan: hidup di wilayah kepulauan berarti harus siap berdampingan dengan risiko bencana.

Pesan itu disampaikan Wakil Bupati Maluku Tenggara, Charlos Viali Rahantoknam, saat membuka kegiatan Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Rawan Bencana di Ohoi Rumat, Rabu (8/4).

Di hadapan masyarakat dan para pemangku kepentingan, Viali mengingatkan bahwa keindahan alam Kei bukan tanpa konsekuensi. Gelombang pasang, angin kencang, cuaca ekstrem, hingga ancaman gempa dan tsunami adalah kenyataan yang tak bisa dihindari.

“Bencana memang tidak kita harapkan. Tapi ketidaksiapan adalah ancaman yang nyata,” tegasnya.

Karena itu, menurutnya, kesiapsiagaan bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan.

Ia menekankan bahwa melalui kegiatan seperti ini, masyarakat dibekali bukan hanya pengetahuan, tetapi juga keberanian untuk bertindak saat situasi darurat datang tanpa aba-aba.

Lebih jauh, Viali mengingatkan bahwa garis depan penanganan bencana bukanlah kantor pemerintah di kota, melainkan para pemimpin di tingkat desa. Kepala ohoi, kata dia, adalah sosok pertama yang dicari masyarakat saat musibah terjadi.

“Di saat genting, masyarakat tidak mencari bupati atau camat. Mereka mencari kepala ohoi. Di situlah pentingnya pemahaman mitigasi,” ujarnya.

Seruan itu bukan tanpa alasan. Ia ingin membangun kesadaran bahwa menghadapi bencana adalah tanggung jawab bersama. Dimulai dari tingkat paling dekat dengan masyarakat.

Namun, kekuatan Maluku Tenggara tidak hanya terletak pada sistem dan koordinasi. Viali juga mengajak masyarakat kembali menggali nilai-nilai lokal, seperti Budaya Maren. Semangat gotong royong khas masyarakat Kei yang selama ini menjadi perekat sosial.

Dalam Maren, ada solidaritas, kepedulian, dan kebersamaan. Nilai-nilai itulah yang dinilai mampu menjadi benteng pertama saat bencana datang.

“Budaya ini harus hidup. Kita saling bantu, saling ingatkan, dan saling jaga,” katanya.

Ia pun menekankan pentingnya komunikasi yang cepat, akurat, dan terkoordinasi. Dalam situasi darurat, setiap detik berarti. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam setiap langkah.

Pemerintah daerah, lanjutnya, tidak tinggal diam. Berbagai upaya terus dilakukan mulai dari penguatan kapasitas sumber daya manusia hingga pembenahan infrastruktur. Namun, semua itu tidak akan berarti tanpa kesadaran dan kesiapan masyarakat itu sendiri.

Dari Ohoi Rumat, satu pesan kuat dibawa pulang: kesiapsiagaan bukan sekadar program sesaat, melainkan budaya yang harus tumbuh dan dijaga bersama. (ji4)