Pembukaan Sidang ke-41 Jemaat GPM Masohi, Minggu (22/2). (Ist)

Wabup Malteng Hadiri Sidang Ke-41 Jemaat GPM Masohi, Tegaskan Kolaborasi Gereja dan Pemerintah

15

Masohi, JejakInfo.id — Suasana khidmat menyelimuti Gedung Gereja Mahanaim saat Sidang ke-41 Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Masohi resmi dibuka, Minggu (22/2). 

Di tengah jemaat yang memadati ruang ibadah, Wakil Bupati Maluku Tengah, Mario Lawalata, hadir bersama sang istri, Maureen Vivian Haumahu, yang juga anggota DPRD Provinsi Maluku.

Kehadiran orang nomor dua di Kabupaten Maluku Tengah itu bukan sekadar memenuhi undangan seremonial. Di hadapan para pendeta, pelayan, dan warga jemaat, Lawalata menegaskan pentingnya persidangan gereja sebagai ruang strategis yang melampaui urusan internal.

“Persidangan jemaat bukan hanya agenda gereja. Ini ruang berdialog, berkolaborasi, dan merumuskan langkah bersama demi masa depan gereja dan daerah,” ujarnya.

Menurutnya, gereja dan pemerintah memiliki tanggung jawab moral yang sama dalam menopang kehidupan umat. Karena itu, kehadiran pemerintah dalam forum tertinggi jemaat menjadi simbol eratnya kemitraan dalam membangun ketahanan sosial dan menyusun program pelayanan yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Di tengah tekanan ekonomi global dan nasional yang ikut memengaruhi kondisi masyarakat Maluku Tengah, Lawalata berharap gereja tetap menjadi mitra strategis pemerintah.

Laporan Ketua Panitia Sidang ke-41 Jemaat GPM Masohi, Mheldia Ch. Metubun.

Ia optimistis, melalui mekanisme demokrasi beriman yang hidup di jemaat, keputusan-keputusan penting akan lahir untuk memperkuat ekonomi umat, memperteguh moral, serta menjawab tantangan sosial yang kian kompleks.

Wabup jebolan Universitas Trisakti itu mengajak seluruh warga jemaat memelihara persaudaraan, toleransi, dan kedamaian di tengah masyarakat yang majemuk. Gereja, katanya, harus menjadi ruang pelayanan yang inklusif—tempat iman dibina dan harapan diteguhkan.

Apresiasi pun disampaikan kepada para pelayan dan umat Jemaat GPM Masohi yang dinilainya tetap setia melayani di tengah berbagai keterbatasan, bahkan tak henti mendoakan pemerintah dan masyarakat Maluku Tengah.

Sementara itu, Ketua Majelis Pekerja Klasis GPM Masohi, Pdt. Adriana Lohy/Norimarna, dalam amanatnya sebelum membuka persidangan, mengingatkan para pelayan agar menjadi pemimpin yang memberi teladan, bukan sekadar memerintah.

“Jadilah pemimpin yang mau melayani, bukan mau dilayani. Hadirlah di tengah suka dan duka umat,” pesannya.

Ia juga menyoroti tantangan era digital, khususnya media sosial. Menurutnya, ruang digital seharusnya dimanfaatkan untuk menyebarkan kabar baik, bukan menjadi sarana menyebar kebencian atau saling menghina. Para pelayan gereja, tegasnya, harus menjadi contoh dalam perkataan, tindakan, dan gaya hidup.

“Berilah hati yang sungguh-sungguh dalam melayani. Ketulusan dan pengabdian tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan,” ucapnya, menutup amanat dengan ajakan reflektif bagi seluruh peserta sidang.

Prosesi kebaktian pembukaan Sidang ke-41 Jemaat GPM Masohi.

Ketua Majelis Jemaat Pdt. Demas Untarola dalam pidatonya menyampaikan, di tengah situasi dunia, bangsa dan daerah pada zaman yang telah berubah dengan sangat cepat, maka gereja mesti peka dan cermat membaca realita sosial dunia, bangsa, daerah, dan lingkungan hidup, dan apa yang mendesak sebagai kebutuhan umat/masyarakat. Gereja mesti mampu mewujudkan pelayanan yang benar dalam menjawab kebutuhan umat. 

Kata dia, seluruh bentuk pelayanan gereja harus relevan atau sesuai dengan konteks gumul umat. Dengan demikian pelayanan dapat bermanfaat bagi pertumbuhan iman umat.

Gereja dan pelayan mesti daoat diteladani atau menjadi control panutan pada sisi perilaku yaitu: tutur kata, tindakan, gaya hidup, serta cara pandang yang tidak terpusat pada diri sendiri, tetapi terbuka dan merangkul orang lain

"Kita harus menjadi teladan dalam peran profektif di tengah situasi sosial, politik daerah dan bangsa, sebagai gereja yang fokus pada keadilan, cinta kasih, kesejahteraan, dan yang paling penting komitmen merawat pendamaian sehati," tutup Untarola.

Ketua Panitia Mheldia Ch. Metubun dalam laporannya mengaku, persidangan jemaat adalah agenda gereja yang dilaksanakan setiap tahun, yang bertujuan sebagai forum evaluasi program dan keuangan jemaat, serta keputusan penting jemaat selama 1 tahun pelayanan, sekaligus menetapkan program kerja dan belanja jemaat untuk 1 tahun berikutnya. Dan Tahun 2026 ini menjadi tahun gumulan GPM untuk mengesahkan rencana pengembangan pelayanan jemaat sebagai rencana strategis tahun 2026-2030 di tiap jemaat.

Satu-satunya ketua panitia yang baru pernah dari kalangan perempuan itu pun berterima kasih atas dukungan moril maupun materiil dari berbagai pihak demi terlaksananya sidang jemaat.

"Semoga Tuhan memberkati," ucapnya seraya mendoakan seluruh umat Tuhan yang telah memberi.

Sebelum persidangan dimulai, kebaktian pembukaan dipimpin Pdt. M. Manuputty. Turut hadir unsur Forkopimda, Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan dan Kemasyarakatan Zahlul Ikshan, pimpinan OPD lingkup Pemda Maluku Tengah, perwakilan Kecamatan Kota Masohi, Ketua Majelis Jemaat GPM Masohi Pdt. Demas Untarola, para pendeta, serta perangkat dan pelayan jemaat.

Sidang ke-41 ini diharapkan menjadi momentum penting bagi Jemaat GPM Masohi untuk melangkah dengan semangat baru—menguatkan iman, merawat persaudaraan, dan menghadirkan pelayanan yang relevan bagi zaman. (ji5)