Pengawal pribadi (Walpri) Gubernur Maluku, Rohim. (Ist)

Walpri Gubernur Minta Maaf, Ajak Publik Lihat Kronologi Utuh Insiden di Lapangan Merdeka

632

Ambon, JejakInfo.id — Pengawal pribadi (Walpri) Gubernur Maluku, Rohim, menyampaikan permohonan maaf kepada publik, khususnya masyarakat Seram Utara, menyusul insiden yang terjadi di depan Tribun Lapangan Merdeka Ambon, Senin (17/8), seusai pelaksanaan Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Permohonan maaf itu disampaikan Rohim sebagai bentuk tanggung jawab atas pernyataan yang terlontar dalam situasi tegang ketika dirinya berhadapan dengan salah seorang mahasiswa yang berupaya mendekati barisan pengamanan Gubernur Maluku.

“Mengawali pernyataan ini saya menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang terjadi kemarin,” kata Rohim kepada JejakInfo.id di Ambon, Selasa (18/8).

Namun, di balik permintaan maaf tersebut, Rohim meminta masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan video yang beredar di media sosial.

Ia meminta seluruh rangkaian peristiwa dilihat sejak awal, termasuk situasi yang terjadi sebelum pernyataan kontroversial tersebut terlontar.

Menurut Rohim, insiden bermula setelah upacara pengibaran bendera selesai. Saat itu, Gubernur Maluku bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bersiap meninggalkan lokasi untuk menghadiri agenda silaturahmi dalam rangka HUT Kemerdekaan. Gubernur juga sempat melayani wawancara sejumlah awak media.

Di tengah situasi tersebut, Rohim melihat sejumlah mahasiswa membawa spanduk, karton manila dan beberapa alat peraga. Gerak-gerik mereka, menurut dia, terlihat seperti hendak melakukan sesuatu sehingga dirinya merasa perlu memastikan maksud dan tujuan mereka.
“Saya sempat menanyakan apa maksud dan tujuan aksi ini,” ujarnya.

Rohim mengatakan, jika mahasiswa tersebut hendak menyampaikan persoalan atau aspirasi tertentu, dirinya menyarankan agar niat melakukan aksi di lokasi ditanggalkan. Ia bahkan menawarkan jalan keluar dengan memfasilitasi pertemuan langsung antara mahasiswa dan Gubernur Maluku di kantor.

Menurut dia, kesempatan untuk menyampaikan tuntutan secara langsung kepada gubernur tetap terbuka.

Namun, tawaran tersebut disebut tidak langsung diterima. Para mahasiswa tetap berupaya mendekati gubernur di lokasi acara.

Situasi kemudian menjadi lebih sensitif ketika Rohim melihat salah seorang mahasiswa membawa potongan bambu.

Benda tersebut membuatnya curiga karena ia tidak mengetahui apa yang terdapat di dalamnya. Dalam kapasitasnya sebagai Walpri, Rohim mengaku harus memastikan keselamatan gubernur dan pejabat daerah lainnya yang berada di lokasi.

“Saya menjalankan protap untuk mengamankan keselamatan pejabat negara,” katanya.

Karena itu, ia kembali meminta agar rencana aksi tersebut ditanggalkan dan mahasiswa bersangkutan tidak menerobos barisan pengamanan.

Namun, menurut Rohim, mahasiswa tersebut tetap bersikukuh mendekati gubernur dan menerobos barisan pengamanan yang juga melibatkan unsur Forkopimda.

Dalam situasi yang berlangsung spontan dan memanas itulah, keluar pernyataan yang kemudian menjadi sorotan publik.

“Ose ini manusia ka monyet,” kata Rohim, mengakui dirinya mengucapkan kalimat tersebut kepada oknum mahasiswa.

Rohim menegaskan, kalimat itu ditujukan kepada individu yang berada di hadapannya dalam situasi tersebut. Ia membantah pernyataan itu dimaksudkan untuk mendiskreditkan suku maupun masyarakat Seram Utara.

Ia juga menilai persoalan kemudian berkembang karena video yang beredar hanya memperlihatkan bagian tertentu dari kejadian, tanpa memperlihatkan bagaimana situasi tersebut bermula.

Karena itu, Rohim meminta masyarakat tidak mengonsumsi video secara sepotong-sepotong lalu membangun tafsir sendiri terhadap keseluruhan peristiwa.

“Jangan sampai video yang beredar hanya dilihat dari satu bagian, kemudian ditafsirkan secara subjektif. Saya ingin masyarakat melihat kronologinya secara utuh,” ujarnya.

Rohim mengatakan, dirinya selama ini tidak pernah bermaksud membatasi ruang demokrasi. Menurut dia, mahasiswa maupun organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan yang ingin menyampaikan aspirasi kepada Gubernur Maluku tetap memiliki ruang untuk bertemu dan berdialog.

Ia mengaku, dalam berbagai kesempatan dirinya justru berupaya menjembatani pertemuan antara kelompok masyarakat dengan gubernur.

“Dalam kepentingan daerah, setiap mahasiswa maupun OKP saya juga selalu berupaya untuk mempertemukan dengan gubernur. Tidak pernah membatasi ruang demokrasi,” katanya.

Rohim juga mengingatkan bahwa Gubernur Maluku dalam sejumlah kesempatan selalu menyatakan keterbukaannya terhadap kritik dan aspirasi masyarakat.

Menurutnya, gubernur tidak pernah menutup diri terhadap pihak-pihak yang ingin menyampaikan persoalan, sepanjang aspirasi tersebut disampaikan melalui cara yang baik dan benar.

“Bapa selalu membuka diri. Bahkan siap menerima tuntutan bukan lewat aksi demo, melainkan tatap muka langsung. Karena itu, diplomasi yang kami sampaikan ialah mempertemukan mahasiswa itu langsung dengan Bapa,” paparnya.

Ia menegaskan, penjelasan tersebut bukan dimaksudkan untuk mencari pembenaran atas ucapan yang telah disampaikannya.

Rohim mengaku menyadari bahwa perkataan tersebut telah menimbulkan reaksi dan dapat melukai perasaan masyarakat tertentu.

“Saya tidak berupaya mencari pembenaran,” tegasnya.

Ia hanya berharap persoalan tersebut tidak diarahkan menjadi sesuatu yang lebih besar dari konteks kejadian sebenarnya. Menurutnya, publik berhak mengetahui keseluruhan peristiwa sebelum memberikan penilaian.

Karena itu, ia kembali meminta agar video maupun informasi yang beredar di media sosial dilihat secara utuh dan tidak dipotong dari konteks awal kejadian.

Di sisi lain, Rohim memastikan persoalan antara dirinya dan mahasiswa tersebut tidak akan dibiarkan berhenti pada insiden di lapangan.

Ia berjanji akan berupaya mengkomunikasikan persoalan tersebut dan mengatur kesempatan agar mahasiswa bersangkutan dapat bertemu langsung dengan Gubernur Maluku.

“Saya akan berupaya mengkomunikasikan hal ini dan mengatur waktu untuk bertemu langsung dengan gubernur,” katanya.

Bagi Rohim, pertemuan langsung dinilai menjadi jalan terbaik untuk menjernihkan persoalan sekaligus membuka ruang dialog mengenai aspirasi yang hendak disampaikan mahasiswa.

Di penghujung pernyataannya, Rohim kembali menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang merasa terusik akibat insiden tersebut.

“Sekali lagi, mohon maaf jika insiden ini mengusik masyarakat tertentu, juga masyarakat Maluku secara umum,” tutup Rohim. (ji1)