Seorang lansia bernama Balandina Tibalimeten (70) yang sedang sakit ditandu warga Desa Lohia Sapalewa, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat untuk mendapat perawatan medis. (Ist)

Warga Lohia Sapalewa Tandu Lansia Sakit Empat Kilometer karena Jalan Tak Bisa Dilalui Mobil

81

Piru, JejakInfo.id – Derita warga pedalaman kembali terlihat di Desa Lohia Sapalewa, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat. Seorang lansia bernama Balandina Tibalimeten (70) terpaksa ditandu warga sejauh kurang lebih empat kilometer menuju jalan raya karena tidak adanya akses jalan yang layak menuju desa tersebut.

Peristiwa itu terjadi pada Senin, 18 Mei 2026. Dengan menggunakan kain dan sebatang bambu seadanya, warga bahu-membahu memikul Balandina yang sedang sakit agar bisa dijemput kendaraan menuju puskesmas terdekat di wilayah pegunungan Taniwel.

Perjalanan yang harus ditempuh bukanlah medan mudah. Warga harus melewati jalan setapak yang licin, semak belukar, hingga jalur terjal di tengah hutan. Di beberapa titik, mereka harus bergantian memikul pasien demi memastikan sang lansia dapat tiba dengan selamat untuk mendapatkan penanganan medis.

Kondisi memprihatinkan ini disebut warga sudah berlangsung bertahun-tahun. Minimnya infrastruktur jalan membuat masyarakat di desa tersebut seolah terisolasi, terutama ketika ada warga yang sakit dan membutuhkan pertolongan cepat.

Tidak hanya akses jalan yang buruk, Desa Lohia Sapalewa juga disebut belum memiliki tenaga kesehatan yang menetap. Akibatnya, warga harus berjuang sendiri setiap kali ada kondisi darurat kesehatan.

“Kalau ada orang sakit, ya harus ditandu seperti ini. Tidak ada kendaraan yang bisa masuk ke desa,” ungkap salah seorang warga.

Masyarakat berharap pemerintah daerah Kabupaten Seram Bagian Barat, Pemerintah Provinsi Maluku, hingga pemerintah pusat segera memberi perhatian serius terhadap kondisi desa yang masuk kategori daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) tersebut.

Warga meminta pembangunan akses jalan yang layak agar kendaraan dapat menjangkau desa mereka. Selain itu, masyarakat juga berharap adanya pembangunan polindes serta penempatan tenaga kesehatan tetap di Desa Lohia Sapalewa agar pelayanan kesehatan tidak lagi menjadi perjuangan yang mempertaruhkan nyawa. (ji5)