-
Discover
-
Spotlight
- Jelajahi Orang
JejakInfo.id 2026



Ambon, JejakInfo.id — Membenahi sebuah rumah sakit bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam semalam. Ada banyak hal yang harus dibenahi secara bertahap, mulai dari tata kelola, fasilitas, infrastruktur hingga memastikan tenaga medis dapat bekerja secara optimal.
Hal itulah yang kini menjadi perhatian Yayasan Kesehatan Gereja Protestan Maluku (GPM) dalam menata kembali Rumah Sakit Sumber Hidup Ambon.
Ketua Yayasan Kesehatan GPM, Dr. Reny Nendisa, SH., MH., mengakui tanggung jawab yang diemban untuk melanjutkan apa yang telah dibangun sebelumnya bukan perkara mudah. Namun, kondisi tersebut justru menjadi tantangan untuk melakukan pembenahan secara terukur dan berkelanjutan.
Menurut Reny, pembenahan tidak hanya menyangkut urusan administrasi dan tata kelola rumah sakit. Aspek sarana dan prasarana juga menjadi perhatian penting, dengan tetap menempatkan pelayanan sebagai prioritas utama.
“Sebagai ketua Yayasan Kesehatan GPM yang menaungi Rumah Sakit Sumber Hidup, tanggung jawab ini tidak mudah. Kita harus melanjutkan apa yang sudah dibuat sebelumnya, tetapi juga menindaklanjutinya dengan berbagai pembenahan, baik tata kelola administratif maupun sarana-prasarana,” kata Reny kepada JejakInfo.id, Kamis (20/8).
Ia menegaskan, pembenahan tersebut harus tetap mencerminkan karakter pelayanan kesehatan yang menjadi bagian dari panggilan gereja di Maluku.
Untuk itu, Yayasan Kesehatan GPM tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak dinilai menjadi bagian penting dalam proses pengembangan rumah sakit ke depan.
Reny mengatakan, hasil pertemuan perdana bersama Pelaksana Tugas (Plt) Direktur dan seluruh tenaga kesehatan, yang dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke lokasi rumah sakit, memberikan gambaran mengenai kondisi yang sebenarnya.
Dari hasil peninjauan tersebut, sejumlah peralatan kesehatan dan perlengkapan rumah sakit secara umum dinilai telah memenuhi kebutuhan standar. Namun, persoalan justru masih ditemukan pada sejumlah fasilitas pendukung.
“Kalau standar alat kesehatan dan perlengkapan, sebenarnya sudah memenuhi. Tetapi ada sarana-prasarana dan beberapa kebutuhan lain yang memang harus dipenuhi,” ujarnya.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah kondisi infrastruktur bangunan dan sistem drainase. Menurut Renny, kualitas sebuah rumah sakit tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan alat kesehatan, tetapi juga oleh lingkungan dan fasilitas yang mampu menunjang kenyamanan serta keselamatan pasien.
Sejumlah ruangan juga dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pelayanan tertentu. Salah satunya berkaitan dengan ruangan untuk pelayanan penyakit paru dan beberapa layanan lainnya.
Kondisi tersebut membuat pembenahan harus dilakukan dengan cermat. Yayasan tidak ingin melakukan perubahan secara tergesa-gesa, tetapi juga tidak ingin membiarkan persoalan yang ada berlarut-larut.
Selain pembenahan fisik, keberadaan tenaga medis, khususnya dokter spesialis, juga menjadi perhatian Yayasan Kesehatan GPM.
Reny menyebut pihaknya perlu melihat kembali kebutuhan dokter spesialis sekaligus meninjau kontrak kerja yang telah ada.
Menurutnya, keberadaan dokter spesialis sangat penting untuk memastikan rumah sakit mampu memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Kita juga punya perhatian terhadap tenaga-tenaga dokter spesialis. Itu harus didudukkan kembali dengan melihat isi kontraknya,” katanya.
Penataan tersebut, lanjut Reny, membutuhkan komunikasi dan kerja sama dengan berbagai pihak. Sebab, pengembangan rumah sakit tidak hanya berbicara mengenai bangunan dan peralatan, tetapi juga menyangkut sumber daya manusia yang menjadi ujung tombak pelayanan.
Reny menyadari, pembenahan Rumah Sakit Sumber Hidup bukan pekerjaan sederhana. Kondisi bangunan, luas kawasan, kebutuhan fasilitas, hingga berbagai aspek lainnya membuat proses perubahan membutuhkan waktu dan perencanaan matang.
Karena itu, Yayasan Kesehatan GPM memilih pendekatan bertahap.
Ia mengatakan, pihaknya akan memprioritaskan hal-hal yang paling mendesak untuk dibenahi terlebih dahulu, sembari menyiapkan langkah pengembangan untuk jangka panjang.
“Kita berusaha membenahi apa yang bisa dibenahi dulu karena tidak mudah. Kita tidak bisa membongkar semua, tetapi paling tidak apa yang bisa kita benahi sambil proses-proses ke depan,” ujarnya.
Langkah tersebut diharapkan menjadi awal dari proses pembenahan Rumah Sakit Sumber Hidup agar mampu memberikan pelayanan kesehatan yang semakin baik kepada masyarakat.
Bagi Yayasan Kesehatan GPM, pekerjaan besar itu bukan hanya tentang memperbaiki bangunan atau melengkapi fasilitas. Lebih jauh, pembenahan diarahkan untuk memastikan Rumah Sakit Sumber Hidup kembali memiliki tata kelola yang kuat, tenaga kesehatan yang memadai, fasilitas yang layak, serta pelayanan yang tetap membawa semangat kemanusiaan dan nilai-nilai pelayanan gereja.
Dengan dukungan berbagai pihak, proses tersebut diharapkan dapat berjalan secara bertahap hingga Rumah Sakit Sumber Hidup mampu menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat Maluku dengan lebih baik. (ji2)


